Aksi 1000 lilin untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]
Ketua Umum Komite Nasional Masyarakat Indonesia Alex Asmasoebrata mengimbau pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) legowo dengan menerima keputusan hakim serta menghormati proses yang sedang berlangsung. Mantan pebalap ini kemudian menyontohkan pendukung Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni setelah kalah di putaran pertama pilkada Jakarta yang langsung legowo.
"Pertama adalah bahwa kita harus legowo dan mikir ke depan, saya ini terus terang pernah kalah pendukung nomor satu (Agus-Sylvi), kalah, ya rasa sakitnya kita rasa. Kita legowo, ya sudah kalau kalah mau diapain lagi, kita mikir gimana kedepannya, apa yang harus dilakukan," ujar Alex kepada Suara.com di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (11/5/2017).
Pernyataan Alex menyusul aksi solidaritas yang dilakukan pendukung Ahok yang tidak berhenti-berhenti semenjak kekalahan Ahok di pilkada dan sekarang divonis dua tahun penjara atas kasus penistaan agama.
Alex mengatakan sebaiknya putusan pengadilan dihormati.
"Kalau dia sekarang melakukan hal yang sekarang ini buat saya perbuatan yang nggak baik bahwa sudah diputus pengadilan. Waktu itu pas tuntutan JPU satu tahun, dua tahun percobaan, mereka dengan senang hati menerima pengadilan itu, tapi sekarang ketika putusan hakim kok mereka melakukan hal-hal yang tidak baik," kata dia.
Alex kemudian meminta polisi untuk menindaktegas aksi pendukung Ahok yang dilakukan sampai melebihi batas waktu yang ditentukan, jam 18.00 WIB.
Menurut dia jika itu dibiarkan, bisa membuat publik menilai aparat kepolisian tebang pilih.
"Saya minta aparat, waktu demo aksi 212 dan lainnya itu setelah jam 18.00 selesai, kenapa ini nggak dibubarkan nggak ada alasan. Yang sekarang dilakukan seolah ada excuse, pendukung Ahok boleh sampai malam yang lain tidak boleh, ini juga tebang pilih juga polisi terhadap hukum dia nggak boleh gitu, aturan ya aturan," kata dia.
Pendukung Ahok demonstrasi karena mencurigai kasus yang dituduhkan kepada Ahok bermuatan politis. Puncaknya ketika Ahok divonis bersalah. Mereka curiga itu dilakukan hakim karena terpengaruh oleh tekanan massa.
"Pertama adalah bahwa kita harus legowo dan mikir ke depan, saya ini terus terang pernah kalah pendukung nomor satu (Agus-Sylvi), kalah, ya rasa sakitnya kita rasa. Kita legowo, ya sudah kalau kalah mau diapain lagi, kita mikir gimana kedepannya, apa yang harus dilakukan," ujar Alex kepada Suara.com di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (11/5/2017).
Pernyataan Alex menyusul aksi solidaritas yang dilakukan pendukung Ahok yang tidak berhenti-berhenti semenjak kekalahan Ahok di pilkada dan sekarang divonis dua tahun penjara atas kasus penistaan agama.
Alex mengatakan sebaiknya putusan pengadilan dihormati.
"Kalau dia sekarang melakukan hal yang sekarang ini buat saya perbuatan yang nggak baik bahwa sudah diputus pengadilan. Waktu itu pas tuntutan JPU satu tahun, dua tahun percobaan, mereka dengan senang hati menerima pengadilan itu, tapi sekarang ketika putusan hakim kok mereka melakukan hal-hal yang tidak baik," kata dia.
Alex kemudian meminta polisi untuk menindaktegas aksi pendukung Ahok yang dilakukan sampai melebihi batas waktu yang ditentukan, jam 18.00 WIB.
Menurut dia jika itu dibiarkan, bisa membuat publik menilai aparat kepolisian tebang pilih.
"Saya minta aparat, waktu demo aksi 212 dan lainnya itu setelah jam 18.00 selesai, kenapa ini nggak dibubarkan nggak ada alasan. Yang sekarang dilakukan seolah ada excuse, pendukung Ahok boleh sampai malam yang lain tidak boleh, ini juga tebang pilih juga polisi terhadap hukum dia nggak boleh gitu, aturan ya aturan," kata dia.
Pendukung Ahok demonstrasi karena mencurigai kasus yang dituduhkan kepada Ahok bermuatan politis. Puncaknya ketika Ahok divonis bersalah. Mereka curiga itu dilakukan hakim karena terpengaruh oleh tekanan massa.
Komentar
Berita Terkait
-
Ahok Adu Mulut dengan Pengacara Kasus LNG, Hakim Sampai Harus Turun Tangan
-
Ahok Ngamuk di Sidang Korupsi LNG Pertamina: Saya Paling Benci Korupsi, Akan Saya Sikat!
-
Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Korupsi LNG Pertamina Rp1,7 Triliun, Irit Bicara Saat Tiba di Tipikor
-
Kesaksian Ahok di Kasus Korupsi Pertamina Bikin Geger, Sentil Menteri BUMN
-
Pakar UGM Bongkar Akar Masalah BUMN: Titipan Politik Bikin Rugi dan Rawan Korupsi
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pecah Kongsi? Netanyahu Sindir Donald Trump Soal AS Mau Negosiasi dengan Iran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa
-
Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius
-
Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa
-
Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?
-
Kabar Duka, Legislator 3 Periode NasDem Tamanuri Meninggal Dunia
-
Arus Balik Lebaran: Contraflow Tol Japek KM 70 Sampai KM 36 Arah Jakarta Berlaku Malam Ini
-
Antisipasi Dinamika Global, Kemhan-TNI Siapkan Langkah Efisiensi BBM dan Skema 4 Hari Kerja
-
Waspada, BMKG Sebut Jabodetabek Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang Malam Ini