Suara.com - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo, membacakan puisi berjudul “Tapi Bukan Kami Punya”, yang dianggap banyak pihak mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Fadli Zon, mengatakan tidak ada salahnya Gatot mengkritik pemerintah. Sebab, pemerintah patut dikritik.
"Ya jadi, menurut saya kan wajar saja ya. Memang Pemerintah ini pantas untuk dikritik kok," kata Fadli di DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/5/2017).
Menurut Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu, kalau Gatot sebagai Panglima TNI memberikan kritik kepada pemerintah, berarti dia menyuarakan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat.
"Kalau panglima TNI begitu ya berarti menyuarakan apa yang menjadi pandangan di masyarakat juga. Ya wajar-wajar saja," ujar Fadli, yang juga sering membuat puisi berisi kritik sosial.
Berikut ini puisi yang dibacakan Gatot di Rapimnas Golkar di Balikpapan, Senin (22/5/2017).
'Tapi Bukan Kami Punya'
Sungguh Jaka tak mengerti//Mengapa ia dipanggil polisi//Ia datang sejak pagi//Katanya akan diinterogasi.
Baca Juga: Harga BBM Tak Naik Jadi Beban Pertamina
Dilihatnya Garuda Pancasila//Tertempel di dinding dengan gagah//Terpana dan terdiam si Jaka//Dari mata burung garuda//Ia melihat dirinya//Dari dada burung garuda//Ia melihat desa//Dari kaki burung garuda//Ia melihat kota
Dari kepala burung garuda//Ia melihat Indonesia//Lihatlah hidup di desa//Sangat subur tanahnya//Sangat luas sawahnya//Tapi bukan kami punya.
Lihat padi menguning//Menghiasi bumi sekeliling//Desa yang kaya raya//Tapi bukan kami punya.
Lihatlah hidup di kota//Pasar swalayan tertata//Ramai pasarnya//Tapi bukan kami punya.
Lihatlah aneka barang//Dijual belikan orang//Oh makmurnya//Tapi bukan kami punya.
Jaka terus terpana//Entah mengapa//Menetes air mata//Air mata itu ia yang punya.
Berita Terkait
-
Jika Densus Tipikor Dibentuk, Jangan Sampai Jadi Alat Politik
-
Fadli Zon Tolak Ide Cabut Pasal Penodaan Agama, Apa Alasannya?
-
Apa Kata Fadli Zon Soal Usulan Penambahan Kursi Pimpinan MPR
-
Fadli Zon Sebut Pakar PBB Pro Ahok Tidak Mengerti Demokrasi
-
Inikah Cawapres Pendamping Jokowi Usulan Partai Golkar?
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Mereda
-
Studi Ungkap Gunung Berapi yang Tidur Ribuan Tahun Ternyata Bisa Tetap Aktif: Mengapa?
-
Menaker: Sertifikasi Kompetensi Jadi Bukti Formal Penting Bagi Lulusan Magang
-
6 Fakta di Balik Bebasnya Piche Kota Indonesian Idol dari Tahanan Kasus Dugaan Pemerkosaan
-
Wabah Hantavirus di Kapal MV Hondius Memaksa Spanyol Ambil Tindakan Darurat Evakuasi Penumpang
-
Muatan Penumpang Disorot! Bus ALS Maut yang Tewaskan 16 Orang Angkut Tabung Gas hinga Sepeda Motor
-
Tragedi Bus ALS vs Truk Tangki di Sumsel: 16 Jenazah Tiba di RS Bhayangkara, Mayoritas Luka Bakar!
-
Komandan Elite Hizbullah Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel di Beirut Selatan
-
Viral Kuitansi Laundry Gubernur Kaltim Rp20,9 Juta Seminggu: Nyuci Dalaman Aja Seharga Cicilan Motor
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Terancam Hak Angket, DPR: Kepala Daerah Harus Sensitif Isu Publik