Dokter RSUD Kota Solok, Sumatera Barat, Fiera Lovita [suara.com/Oke Atmaja]
Dokter Fiera Lovita sedang memulihkan kondisi psikologis kedua anaknya yang berusia delapan dan 9,5 tahun. Dokter RSUD Kota Solok, Sumatera Barat, ini, menjadi salah satu korban aksi persekusi atau pemburuan akun media sosial yang dianggap menghina agama.
"Sampai saat ini saya masih mau memulihkan psikologisnya," ujar Fiera di kantor YLBHI, Jalan Pangeran Diponegoro, Nomor 74, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).
Dia mendapatkan intimidasi gara-gara mengunggah status di Facebook yang isinya berisi pandangan terhadap sikap pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab atas kasus pornografi.
Fiera dan dua anaknya untuk sementara waktu menenangkan diri di Jakarta.Fiera cuti kerja dan dua anaknya meliburkan diri dari sekolah.
"Mereka (anak Fiera) ingin melepas penat dari kesibukan. Sekarang senang banget (anak-anak) gitu bisa main-main, bereng, bisa dilingkungan baru, orang nggak kejar-kejar terus. Mumpung liburan sekolah, saya ingin itu dulu," kata dia.
Fiera merupakan narasumber yang diundang Koalisi Anti Persekusi.
Fiera mengatakan kedua anaknya ikut trauma setelah belum lama ini Fiera didatangi ormas.
"Psikologis mereka yang paling penting, mereka takut keluar rumah, ketemu orang ramai-ramai gini pasti nangis-nangis," kata dia.
Fiera berharap setelah nanti kembali ke Solok, trauma anaknya hilang dan mereka dapat kembali bersekolah.
"Saat nanti mereka masuk (sekolah) ajar baru, maka mereka bisa beraktivitas seperti biasa, begitu juga saya. Saya ingin bisa mengabdi lagi di masyarakat dan menjalankan profesi saya sebagai seorang dokter," kata Fiera.
Meski menjadi korban persekusi, Fiera memilih untuk menempuh jalur damai. Dia tidak berencana untuk membawanya ke jalur hukum.
Kasus Fiera berawal dari status Facebook pada pertengahan Mei 2017 yang berisi pandangannya soal kasus pornografi yang sedang dihadapi Rizieq. Dia menyinggung Rizieq yang pergi ke luar negeri ketika proses hukum sedang berlangsung.
"Kalau tidak salah, kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara n 7 juta ummat yg siap mendampingimu, jangan run away lg dunk bib” “kadang fanatisme sudah membuat akal sehat n logika tdk berfungsi lagi, udah zinah, kabur lg, masih dipuja & dibela” “masi ada yg berkoar2 klo ulama mesumnya kena fitnah, loh...dianya kaburr, mau di tabayyun polisi beserta barbuk ajah ga berani,” tulis dia.
Tak lama kemudian, dia mendapatkan intimidasi. Dia dianggap telah menghina ulama.
Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) mencatat sejauh ini 59 orang telah menjadi target persekusi.
Regional Coordinator Safenet Damar Juniarto menjelaskan data tersebut diperoleh dari Januari 2017 hingga Mei 2017.
"Sampai sekarang sudah 59 orang yang ditarget dengan tindakan persekusi ini. Kalau dilihat-lihat dari sebarannya sudah merata, nggak ada area yang tidak tercover dari persekusi ini," ujar Damar.
Koalisi Anti Persekusi mengecam keras aksi persekusi yang dilabeli penista agama dan ulama.
Bagi masyarakat yang merasa menjadi korban aksi persekusi silahkan melaporkan ke hotline ini.
"Apakah anda dipersekusi, diancam, diintimidasi, diserang, diteror? Apakah anda korban dan ingin mendapatkan bantuan hukum dan yang lainnya? Anda tidak sendiri. Ayo lawan persekusi," tulis koalisi di slide presentasi.
Hotline layanan telepon atau SMS ke nomor 0812-8693-8692, selain itu via email ke antipersekusi@gmail.com.
Latar belakang dari persekusi sejak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipidanakan dengan pasal penodaan agama, lalu muncul kenaikan jumlah pelaporan menggunakan Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
Setelah Ahok divonis bersalah, muncul tindakan persekusi atau pemburuan atas akun-akun yang dianggap menghina agama atau ulama di media sosial.
"Sampai saat ini saya masih mau memulihkan psikologisnya," ujar Fiera di kantor YLBHI, Jalan Pangeran Diponegoro, Nomor 74, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).
Dia mendapatkan intimidasi gara-gara mengunggah status di Facebook yang isinya berisi pandangan terhadap sikap pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab atas kasus pornografi.
Fiera dan dua anaknya untuk sementara waktu menenangkan diri di Jakarta.Fiera cuti kerja dan dua anaknya meliburkan diri dari sekolah.
"Mereka (anak Fiera) ingin melepas penat dari kesibukan. Sekarang senang banget (anak-anak) gitu bisa main-main, bereng, bisa dilingkungan baru, orang nggak kejar-kejar terus. Mumpung liburan sekolah, saya ingin itu dulu," kata dia.
Fiera merupakan narasumber yang diundang Koalisi Anti Persekusi.
Fiera mengatakan kedua anaknya ikut trauma setelah belum lama ini Fiera didatangi ormas.
"Psikologis mereka yang paling penting, mereka takut keluar rumah, ketemu orang ramai-ramai gini pasti nangis-nangis," kata dia.
Fiera berharap setelah nanti kembali ke Solok, trauma anaknya hilang dan mereka dapat kembali bersekolah.
"Saat nanti mereka masuk (sekolah) ajar baru, maka mereka bisa beraktivitas seperti biasa, begitu juga saya. Saya ingin bisa mengabdi lagi di masyarakat dan menjalankan profesi saya sebagai seorang dokter," kata Fiera.
Meski menjadi korban persekusi, Fiera memilih untuk menempuh jalur damai. Dia tidak berencana untuk membawanya ke jalur hukum.
Kasus Fiera berawal dari status Facebook pada pertengahan Mei 2017 yang berisi pandangannya soal kasus pornografi yang sedang dihadapi Rizieq. Dia menyinggung Rizieq yang pergi ke luar negeri ketika proses hukum sedang berlangsung.
"Kalau tidak salah, kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara n 7 juta ummat yg siap mendampingimu, jangan run away lg dunk bib” “kadang fanatisme sudah membuat akal sehat n logika tdk berfungsi lagi, udah zinah, kabur lg, masih dipuja & dibela” “masi ada yg berkoar2 klo ulama mesumnya kena fitnah, loh...dianya kaburr, mau di tabayyun polisi beserta barbuk ajah ga berani,” tulis dia.
Tak lama kemudian, dia mendapatkan intimidasi. Dia dianggap telah menghina ulama.
Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) mencatat sejauh ini 59 orang telah menjadi target persekusi.
Regional Coordinator Safenet Damar Juniarto menjelaskan data tersebut diperoleh dari Januari 2017 hingga Mei 2017.
"Sampai sekarang sudah 59 orang yang ditarget dengan tindakan persekusi ini. Kalau dilihat-lihat dari sebarannya sudah merata, nggak ada area yang tidak tercover dari persekusi ini," ujar Damar.
Koalisi Anti Persekusi mengecam keras aksi persekusi yang dilabeli penista agama dan ulama.
Bagi masyarakat yang merasa menjadi korban aksi persekusi silahkan melaporkan ke hotline ini.
"Apakah anda dipersekusi, diancam, diintimidasi, diserang, diteror? Apakah anda korban dan ingin mendapatkan bantuan hukum dan yang lainnya? Anda tidak sendiri. Ayo lawan persekusi," tulis koalisi di slide presentasi.
Hotline layanan telepon atau SMS ke nomor 0812-8693-8692, selain itu via email ke antipersekusi@gmail.com.
Latar belakang dari persekusi sejak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipidanakan dengan pasal penodaan agama, lalu muncul kenaikan jumlah pelaporan menggunakan Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
Setelah Ahok divonis bersalah, muncul tindakan persekusi atau pemburuan atas akun-akun yang dianggap menghina agama atau ulama di media sosial.
Komentar
Berita Terkait
-
Soal Persekusi Transpuan Bogor, Yusril Tegaskan Perpres 111 Bukan Legitimasi Tindakan Vigilante
-
Echa Waode Tuntut Natalius Pigai Jamin Hak LGBT: Negara Jangan Diam Lihat Rakyat Dipersekusi!
-
'Kutuk Aksi 'Boti Hunter', Negara Didesak Lindungi Martabat dan Hak Aman Komunitas Trans
-
Soroti Doxing dan Persekusi, Prof Ani: Rakyat Belum Bebas dari Rasa Takut
-
Rektor Undip Bantah Aulia Risma Jadi Korban Bullying: Almarhumah Punya Masalah Kesehatan
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Dear Pak Prabowo: 22,93 Juta Warga RI Masih Hidup Miskin
-
Samsung Galaxy A27 5G vs Galaxy A25 5G, Apa Saja Bedanya? Ini 4 Alasan Layak Upgrade
-
Pendaftaran Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Dibuka Sampai Kapan? Ini Batas Waktunya
-
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026 Sampai Kapan? Simak Jadwal Lengkap Tiap Provinsi
-
Putusan MK Buka Peluang Grasi hingga Amnesti Bagi Terdakwa Berbasis Audit BPKP
-
Kementerian P2MI Kenalkan Asta Mandala SMK Go Global, Bidik 500 Ribu Pekerja Migran Terampil
-
Kenapa Gen Z Rela Boros buat Kopi Tapi Menyerah Duluan soal Rumah?
-
Simulasi Cicilan KUR BRI Terbaru Agustus 2026
-
Kata-kata Polisi Malaysia soal Warganya Naik Batik Air Selundupkan Sabu dari KL ke Surabaya
-
Pengangguran Memang Turun, Tapi Cuma 24 Ribu Orang! Masih Ada 7,22 Juta Warga Indonesia Menganggur