Setya Novanto [suara.com/Ummi Hadyah Saleh]
Mantan Ketua Komisi II DPR dari Fraksi Golkar Chairuman Harahap berharap ketua DPR yang juga Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sadar diri setelah ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP.
"Saya kira pimpinan partai bijaksanalah untuk itu (mundur), saya rasa cukup dewasalah. Golkar adalah partai yang sudah lama perjalanan hidupnya. Jadi dalam berpolitik ini harus lebih dewasalah," kata Chairuman usai diperiksa sebagai saksi untuk Setya Novanto di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (28/7/2017).
Chairuman mengatakan tidak pernah menyarankan Novanto untuk mundur. Chairuman hanya menginginkan semua kader Golkar sadar diri demi kebaikan demi sosial politik.
"Saya nggak punya saran untuk itu (mundur), tapi bagaimana agar parpol-parpol ini lebih dewasa dan lebih matang dalam kehidupan sosial politik kita," kata Chairuman.
Terhadap gejolak di internal Golkar yang menginginkan Novanto diganti, Chairuman mengatakan partainya sudah punya mekanisme untuk menyelesaikan masalah.
"Kita biarkanlah mekanisme yang sudah ada, tentu partai Golkar, partai yang sudah dewasa, tentu tahu bagaimana menyelesaikan urusan internal dipartai, ya partailah," katanya.
Novanto ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pada tanggal 17 Juli 2017. Novanto diduga melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang demi keuntungan diri dan atau orang lain sehingga merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun.
Pada Selasa (25/7/2017), kader muda Golkar mendeklarasikan gerakan Golkar bersih di depan gerbang kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat.
"Hari ini kami mendeklarasikan suatu gerakan Golkar bersih. Jadi kami menilai kepemimpinan yang sekarang, ini sudah terlalu akut menempatkan korupsi itu suatu persoalan yang biasa," ujar Ketua Generasi Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia.
Dia menyayangkan sikap DPP, dewan pembina, dewan pakar, DPD tetap mendukung Novanto menjadi ketua umum. Padaha, menurut Doli, hal tersebut mengancam menurunkan citra partai.
"Kami sangat sayangkan seluruh kepemimpinan kolektif formal kecuali dewan kehormatan. DPP, dewan pembina pakar DPD, provinsi itu menyatakan dukungan tetap terhadap Novanto sebagai ketua umum. Yang itu akan terus menggerus citra Partai Golkar yang menurun akibat kasus E-KTP," kata politisi muda Golkar.
Menurut Doli sikap tersebut menunjukkan sudah terjadi kehilangan akal sehat.
"Kami menyampaikan surat aduan bahwa situasi kepemimpinan DPP secara kolektif itu sudah kehilangan akal sehat dan budaya malu seperti yang sering saya katakan. Kehilangan rasionalitas dan logikanya yang terbalik," tutur dia.
"Kami sangat menyayangkan kenapa seorang yang sudah menjadi tersangka koruptor seolah tetap mendapat karpet merah. Ini dipersepsikan publik bahwa kami (Golkar) mendukung seseorang yang sudah menjadi koruptor dan saya kira ini tidak bagus untuk kepemimpinan partai ke depan," Doli menambahkan.
"Saya kira pimpinan partai bijaksanalah untuk itu (mundur), saya rasa cukup dewasalah. Golkar adalah partai yang sudah lama perjalanan hidupnya. Jadi dalam berpolitik ini harus lebih dewasalah," kata Chairuman usai diperiksa sebagai saksi untuk Setya Novanto di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (28/7/2017).
Chairuman mengatakan tidak pernah menyarankan Novanto untuk mundur. Chairuman hanya menginginkan semua kader Golkar sadar diri demi kebaikan demi sosial politik.
"Saya nggak punya saran untuk itu (mundur), tapi bagaimana agar parpol-parpol ini lebih dewasa dan lebih matang dalam kehidupan sosial politik kita," kata Chairuman.
Terhadap gejolak di internal Golkar yang menginginkan Novanto diganti, Chairuman mengatakan partainya sudah punya mekanisme untuk menyelesaikan masalah.
"Kita biarkanlah mekanisme yang sudah ada, tentu partai Golkar, partai yang sudah dewasa, tentu tahu bagaimana menyelesaikan urusan internal dipartai, ya partailah," katanya.
Novanto ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK pada tanggal 17 Juli 2017. Novanto diduga melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang demi keuntungan diri dan atau orang lain sehingga merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun.
Pada Selasa (25/7/2017), kader muda Golkar mendeklarasikan gerakan Golkar bersih di depan gerbang kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat.
"Hari ini kami mendeklarasikan suatu gerakan Golkar bersih. Jadi kami menilai kepemimpinan yang sekarang, ini sudah terlalu akut menempatkan korupsi itu suatu persoalan yang biasa," ujar Ketua Generasi Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia.
Dia menyayangkan sikap DPP, dewan pembina, dewan pakar, DPD tetap mendukung Novanto menjadi ketua umum. Padaha, menurut Doli, hal tersebut mengancam menurunkan citra partai.
"Kami sangat sayangkan seluruh kepemimpinan kolektif formal kecuali dewan kehormatan. DPP, dewan pembina pakar DPD, provinsi itu menyatakan dukungan tetap terhadap Novanto sebagai ketua umum. Yang itu akan terus menggerus citra Partai Golkar yang menurun akibat kasus E-KTP," kata politisi muda Golkar.
Menurut Doli sikap tersebut menunjukkan sudah terjadi kehilangan akal sehat.
"Kami menyampaikan surat aduan bahwa situasi kepemimpinan DPP secara kolektif itu sudah kehilangan akal sehat dan budaya malu seperti yang sering saya katakan. Kehilangan rasionalitas dan logikanya yang terbalik," tutur dia.
"Kami sangat menyayangkan kenapa seorang yang sudah menjadi tersangka koruptor seolah tetap mendapat karpet merah. Ini dipersepsikan publik bahwa kami (Golkar) mendukung seseorang yang sudah menjadi koruptor dan saya kira ini tidak bagus untuk kepemimpinan partai ke depan," Doli menambahkan.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
HUT Fraksi Golkar, Sarmuji Kenang Jasa Setya Novanto: Saya Banyak Belajar Menghadapi Tekanan
-
Mengintip Rumah Setya Novanto di Kupang yang Dilelang KPK, Harganya Miliaran!
-
Pembebasan Bersyarat Setya Novanto Digugat! Cacat Hukum? Ini Kata Penggugat
-
Setnov Bebas Bersyarat, Arukki dan LP3HI Ajukan Gugatan ke PTUN Jakarta: Kecewa!
-
Terpopuler: Anak Setya Novanto Menikah, Gaji Pensiunan PNS Bakal Naik Oktober 2025?
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Kritik Pelibatan TNI dalam Pembekalan LPDP, TB Hasanuddin: Perlu Dikaji, Tak Sesuai Tupoksi!
-
BPJS Kesehatan dan BPKP Perkuat Tata Kelola Jaga Keberlanjutan JKN
-
Letjen TNI Agus Widodo Dikabarkan Resmi Jabat Wakil Kepala BIN, Gantikan Komjen Imam Sugianto