Suara.com - Pemerintah Malaysia menggelar investigasi untuk menemukan warganya yang dicurigai menjadi anggota organisasi ateis internasional, Atheis Republic.
Deputi menteri Urusan Agama Malaysia Asyraf Wajdi Dusuki mengatakan, investigasi itu dilakukan setelah foto salah satu kegiatan organisasi itu di Malaysia tersebar secara viral di media-media sosial.
Dalam perbincangan warganet, seperti dilansir Free Malaysia Today, Selasa (8/8/2017), foto itu menunjukkan Atheis Republic menggelar kegiatan dan juga melibatkan orang-orang yang murtad dari agama Islam.
Murtad bukanlah kejahatan menurut hukum federal Malaysia yang mengakomodasi karakter masyarakat multietnis dan keberagaman agama.
Namun, kemurtadan menjadi persoalan di negara-negara bagian mereka yang memiliki hukum sendiri untuk mengatur urusan umat Islam. Banyak dari peraturan tingkat negara bagian tersebut yang mengategorisasi murtad sebagai aksi kriminal.
Sebagai hukuman, tak jarang negara-negara bagian itu memburu orang yang murtad untuk dipaksa menjalani konseling, membayar denda, bahkan dipenjarakan.
Situasi itulah yang dinilai melatarbelakangi pemerintah federal Malaysia melakukan investigasi. Pasalnya, foto pertemuan Atheis Republic cabang Malaysia tersebut telah membuat marah kelompok-kelompok fundamentalis. Bahkan, kelompok-kelompok tersebut mengancam memburu dan membunuh anggota organisasi itu.
"Investigasi itu diperlukan untuk menentukan, apakah ada umat Islam yang menhadiri acara itu, dan apakah mereka giat berkampanye tentang paham yang membahayakan aqidah," tutur Asyraf.
Meski mengakomodasi keinginan kelompok-kelompok fundamentalis, Asyraf memastikan umat Muslim yang terlibat dalam organisasi itu tak bakal dipenjara ataupun didenda.
Baca Juga: Keponakan Ketua DPR Setya Novanto Kembali Diperiksa KPK
"Kalau ada yang terlibat, maka akan kami minta menjalani konseling. Kami ingin menunjukkan pendekatan yang soft, persuasif," tuturnya.
Armin Navabi, pendiri Atheist Republic, mengecam keputusan pemerintah Malaysia untuk melakukan investigasi kegiatan organisasi cabangnya tersebut.
Ia menegaskan, kegiatan Atheist Republic cabang Malaysia tidak menganggu publik. Negara-negara lain juga tidak menganggap kegiatan mereka sebagai ancaman.
"Mereka memperlakukan anggota organisasi kami seperti kriminal. Acara itu cuma pertemuan biasa antarateis Malaysia, jadi, siapa yang mereka ancam?" tukas Navabi.
Kebijakan investigasi pemerintah Malaysia juga ditentang banyak pihak selain kelompok ateis. Mereka menilai, investigasi itu akan semakin "memberi angin" kelompok-kelompok fundamentalis.
Sementara kelompok dan aktivis hak asasi manusia dan toleransi menilai, kebijakan investigasi itu akan menumbuhkembangkan gerakan intoleran, serta mengancam kebebasan berekspresi dan memeluk kepercayaan di Malaysia.
Untuk diketahui, undang-undang tentang murtad di sejumlah negara bagian Malaysia selama ini dinilai diskriminatif.
Pasalnya, setiap orang yang memilih murtad tidak dibolehkan memperbarui identitas kependudukan dengan mencantumkan agama barunya.
Selain itu, warga yang murtad juga selama ini tidak dilegalkan untuk menikahi seseorang yang nonmuslim.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Venezuela Mirip Zona Perang, Kisah Orianna Cari Ayahnya di Reruntuhan Gedung
-
Daftar 11 Rusun yang akan Dibangun Jakarta pada 2027, Ada di Mana Saja?
-
Heboh Dugaan Uang Rp20 Juta untuk Alihkan Demo Mahasiswa, DPR: Jangan Beli Idealisme!
-
Prabowo Kantongi Data Pendana Demo, KSP Dudung Pastikan akan Ada Langkah Hukum
-
Energi Bersih Jadi Kunci Tingkatkan Nilai Ekonomi Masyarakat Pesisir
-
MBG 'Caplok' 29 Persen Dana Pendidikan, BEM UI Adukan Nasib Kampus ke MK: Listrik Sering Padam!
-
Sujud di Gerbang Lampung, Jokowi Awali Blusukan 3 Hari di Bumi Ruwa Jurai dengan Salat Jumat
-
Pesona Blok M: Dari Tempat Nongkrong Jadul ke Magnet Baru Jakarta Modern
-
Cerita Warga Venezuela Andalkan Informasi Medsos karena Data Korban Gempa Simpang Siur
-
Peserta KDMP Meninggal saat Latsarmil, Mensesneg: Baru Hari Kedua, Belum Berat, Diduga Riwayat Sakit