Suara.com - Staf Khusus Presiden Bidang Papua Lenis Kogoya meminta pemerintah pusat mengakomodir kepentingan masyarakat adat Papua dalam perundingan dengan PT. Freeport Indonesia. Pasalnya, selama ini masyarakat yang tinggal di Timika, kawasan tambang Freeport, bertahun-tahun dibawah angka kemiskinan.
"Nanti ke depannya harus dilibatkan masyarakat adat, dan pemenuhan hak ulayat. Ini yang penting, jadi itu kan sudah diatur undang-undang," kata Lenis di kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta Pusat, Senin (4/9/2017).
Dia menjelaskan selama ini Freeport Indonesia hanya memberikan satu persen keuntungan dari hasil tambang untuk masyarakat adat. Satu persen hasil keuntungan untuk masyarakat masih dibagi untuk tujuh suku.
"Karena kalau kita melihat di Timika dan sekitar daerah itu saja, masyarakat bisa dibilang sakit hati. Tapi mudah-mudahan kepemimpinan Pak Presiden Jokowi, kalau sudah menambah 51 persen, ini beliau bisa memperhatikan masyarakat di sana. Supaya rumah mereka, lingkungan dampak dari Freeport itu bisa diselesaikan," kata dia.
Namun, dia belum bisa menyebutkan berapa persen idealnya bagi keuntungan hasil Freeport bagi masyarakat adat. Yang penting, kata dia, dalam perundingan pemerintah dengan Freeport harus dapat menyejahterakan masyarakat Papua, khususnya.
"Yang penting masyarakat sejahtera. Jangan kita lupakan masyarakat adat," ujar dia.
Ada empat poin perundingan antara pemerintah dan Freeport Indonesia terkait perubahan status Kontrak Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus. Pembahasan keempat poin tersebut dilakukan secara satu paket. Keempat poin itu yakni stabilitas investasi yang berkaitan dengan ketentuan fiskal, perpajakan, baik perpajakan pusat maupun daerah. Kemudian yang kedua itu mengenai divestasi. Poin ketiga mengenai kelangsungan operasi setelah 2021. Sedangkan substansi pembahasan yang keempat mengenai pembangunan smelter.
Berita Terkait
-
Izin Freeport Diperpanjang hingga 2061, Legislator PDIP Tagih Kontribusi Nyata untuk Papua
-
Setoran Freeport ke Negara Turun Menjadi USD 2,6 Miliar pada 2026
-
PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan
-
Perusahaan Indonesia dan AS Teken 11 Kesepakatan Bisnis Senilai Rp648 Triliun
-
Jadi Penyumbang Produksi Terbesar, Kapan Tambang Bawah Tanah Freeport Bisa Operasi Kembali
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Piala Dunia Bikin Berkah, Kadin Ungkap Perputaran Ekonomi Tembus Rp5,03 Triliun
-
S&P Puji Danantara, Pandu Sjahrir Akui Kinerja Masih Perlu Dibenahi
-
Antre Solar Berujung Maut, Kenapa BBM Langka di Sumatra?
-
Bolehkah Ngecas HP Semalaman Ditinggal Tidur? Simak Mitos dan Faktanya Biar Baterai Nggak Cepat Soak
-
Karir Mulus Aisyah Zakiyyah di Usia 32 Tahun: Dari Jubir Menteri PU dan Kini Komisaris PTPP
-
4 Parfum Mykonos Wangi Vanila yang Dinilai Tahan Lama dalam Review Pembeli
-
3 Rekomendasi HP dengan Kamera Terbaik 200MP Rp3 Jutaan 2026, Ada Fitur AI hingga OIS
-
Cuaca Ekstrem Mengancam, Ini Strategi Baru DLH Kota Tangerang Amankan TPA Rawa Kucing
-
Kopdes Merah Putih Bakal Salurkan KUR, Bansos hingga LPG 3 Kg
-
Inkonsisten Soal Status Hukum Febrie, Kejagung Disemprot: Jangan Ada Perlakuan Khusus!