Rudianto disarankan untuk pergi ke rumah sakit yang memiliki kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Rudianto mengikuti saran tersebut. Tak lama kemudian dia kembali lagi ke Mitra Keluarga karena semua rumah sakit yang bermitra dengan BPJS penuh.
Rudianto datang ke bagian administrasi. Dia diberitahu biaya penanganan anaknya Rp19,8 juta, belum termasuk ruang rawat per hari Rp900 ribu.
"Saya bilang nggak masalah, tapi yang penting anak saya masuk ruang PICU dulu," kata Rudianto.
Ketika itu, kata dia, Debora belum bisa langsung masuk PICU karena orangtua belum membayar uang muka Rp11 juta. Ternyata Rudianto ketinggalan dompet, dia pun cepat-cepat pulang untuk mengambilnya.
Sekitar 30 menit kemudian, Rudianto kembali dan mampir ke mesin ATM untuk mengambil uang Rp5 juta. Buru-buru dia ke ruang administrasi. Tetapi ternyata uang tersebut belum cukup untuk uang muka.
"Petugas admin menghitung itu duit. Dia bilang 'saya pegang dulu ya, saya tanyakan ke atasan saya'. Ternyata duit Rp5 juta itu anak saya nggak bisa masuk ruang PICU. Saya mohon, 'tolong mbak siang nanti saya bayar', karena anak saya perlu ditangani di ruang PICU dulu," katanya.
Di tengah kebingungan, Rudianto mendapatkan kabar dari istri yang menyebutkan ada tambahan Rp2 juta dari pinjaman. Sekarang Rudianto punya Rp7 juta. Tetapi, rumah sakit tetap menyatakan belum cukup.
"Selanjutnya saya dipanggil petugas lab. Ke kasir lab anak mau rontgen, cek darah. Bayar sekitar Rp1,7 juta untuk cek lab. Saya mohon ke petugas administrasi supaya bisa masuk ruang PICU, tapi nggak dibolehkan juga, jadi saya balik ke IGD lagi," kata dia.
Henny diminta manajemen RS untuk menandatangani surat pernyataan yang isinya perjanjian untuk membayar selang untuk paru-paru Debora. Setelah itu, mereka diminta lagi untuk menyelesaikan proses administrasi sebagai syarat Debora bisa ditangani di ruang PICU.
Baca Juga: Kisah Miris Bayi Debora dan Kemarahan Ibunya
"Saya ke admin lagi mohon, 'bu tolongan anak saya mau masuk ruang PICU. Saya akan lunasi susahnya. Terus dia bilang nggak bisa kalau Rp5 juta, bisanya Rp11 juta. Saya sudah bilang dimasukin saja dulu siang saya pasti bisa lunasi," kata Henny.
Di tengah kebingungan, tiba-tiba Henny mendapatkan kabar anaknya dalam kondisi kritis.
"Setelah itu ada suster datang dengan muka panik, akhirnya dia ngomong sama dokter yang nanganin. Saya tunggu beberapa menit, langsung dokter mengatakan keadaan anak ibu kritis," kata Henny.
Henny langsung menemui Debora.
"Saya pegang tangan sudah dingin. Anak ibu nafasnya masih ada, tapi detak jantung nggak ada. Dokter bilang kami lagi berusaha membagikan detak jantungnya. Saya berdoa mau anak saya kembali. 'Tuhan tolong jangan ambil anak saya'," kata Henny.
Tak terima dengan keadaan itu, Henny dan suami minta penjelasan manajemen rumah sakit.
"Saya bilang kok jadi saya kehilangan anak ya. Kalau saya ke sini kan mau mengobati anak. Saya tanya kenapa kondisinya jadi memburuk. Saya tanya kenapa ya, tadi bilang sudah mulai membaik tapi nggak 100 persen atau belum stabil," katanya.
Manajemen menjelaskan Debora meninggal karena tidak segera dirawat di ruang PICU.
"Saya kesal anak saya meninggal karena nggak masuk PICU. Saya bilang kalian jahat ya, terus dia bilang minta maaf, karena dia cuma karyawan di sana," kata dia.
Kemarahan orangtua Debora tak sampai di situ saja. Mereka kecewa berat dengan layanan petugas ketika mereka hendak membawa jenazah pulang.
"Ada suster gayanya agak cuek masuk ruangan. 'Dia bilang ini gimana ya. Kalau bawa jenazah itu pakai ambulance, minimal pakai mobil yang tertutup'," kata Henny.
"Saya bilang lu mau ngomong prosedur sama saya? Saya bilang selamatkan dulu anak saya. Dia bilang kalau ada razia RS tersebut yang kena. Saya langsung bilang saya yang tanggung jawab, dia langsung bilang terserah," Hanny menambahkan.
Dala konferensi pers di Dinas Kesehatan, manajemen Rumah Sakit Mitra Keluarga membantah tidak melayani perawatan bayi Debora.
Direktur Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres Fransisca Dewi menegaskan petugas telah memberikan penanganan medis sesuai prosedur.
"Soal pelayanan emergensinya, kami sudah sampaikan secara detail kepada dinas kesehatan, bahwa tidak demikian (menolak merawat Debora)," kata Fransisca.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!
-
Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer
-
Sering Mangkir, KPK Pertimbangkan Jemput Paksa Model Fitri Assidikki
-
Klaim MBG Bukan Proyek! KemenHAM: Ini Instrumen Negara Penuhi Hak Dasar Siswa
-
Gagal Jadi JC, Sony Sonjaya Ternyata Belum Akui Perbuatan di Kasus Korupsi MBG
-
Satu Tahun Dicuekin, Fariz RM Akhirnya 'Gas Pol' Seret Pelanggar Hak Cipta Lagunya ke Polisi
-
Militerisme Menguat! 1.047 Pembela HAM Diserang di Era Prabowo-Gibran
-
Resmi! Kejagung Tolak Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya: Dia Pelaku Utama
-
Jejak Kelam Taufik Hidayat: Mantan Istri Juga Pernah Disiksa, Polisi Duga Masih Ada Korban Lain
-
Jakarta Rayakan HUT ke-499 dengan Komitmen Mengutamakan Kualitas Hidup Penduduk