Suara.com - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengungkapkan keuntungan kotanya yang mempunyai banyak taman. Jumlah taman besar di Purwakarta ada 9 lokasi, belum lagi taman yang kecil.
Namun dari pembangunan taman itu, berapa rupiah keuntungan yang didapat daerah? Jawabannya tidak ada. Kabupaten Purwakarta tidak mendapatkan keuntungan dari sisi materi dari pembangunan taman itu.
Dedi menjelaskan pembangunan taman itu untuk membuat warganya nyaman.
“Nggak ada keuntungan material yang didapatkan. Yang kami dapat keuntungan spiritual untuk masyarakat. Karena ruang publik harus tertata secara luas, apalagi Purwakarta sudah tumbuh menjadi kota industri. Maka harus dibangun ruang publik yang indah, agar spiritual manusia mengalami keindahan dari sisi apapun,” kata Dedi saat ditemui suara.com di kantornya di Purwakarta pekan lalu.
Dedi percaya, kebahagiaan warganya berawal dari penataan kota yang berwawasan lingkungan dan kebudayaan. Dia mengklaim warganya bahagia dengan hasil pembangunan itu.
“Mereka senyum-senyum dan suka selfie setiap sore. Itu biasa. Tapi saya selalu meletakkan apa yang dibangun itu mempunyai makna filosofi,” kata dia.
“Saya selalu mengatakan bangsa yang tidak mempunyai tanah air, itu bukan bangsa. Bangsa yang tidak punya sejarah bukan bangsa. Bangsa yang tidak mempunyai tanah air dan sejarahnya, dia tidak akan memiliki karakter masyarakat. Saya selalu meletakan karakter sebagai sisi yang fundamental di setiap pembangunan yang terjadi Purwakarta,” tambah Dedi.
Tak heran, Dedi pun memberikan nama-nama taman di Purwakarta dengan berlandas nama-nama masa lalu. Semisal ‘Taman Pancawarna’, ‘Taman Pasanggrahan Pajajaran’, ’Taman Lingga Buana’, ‘Taman Citra Resmi’, dan lain-lain.
“Jadi semua dibuat dengan sejarah narasi kehidupan kebangsaannya. Sebab bagaimana pun sebuah komunitas masyarakat akan menjadi negara besar kalau dia mempunyai kebanggaan dengan masa lalu,” kata dia.
Berita Terkait
-
Dapat Uang Rp25 Juta dari Dedi Mulyadi Usai Dibully, Guru Atun Malah Sumbangkan ke Anak Yatim
-
Digelar Besar-besaran, Arak-Arakan Buaya dan Singa Warnai Ultah Anak Dedi Mulyadi
-
Kisah Ibu Guru Atun: Dibully Murid, Dikasih Dedi Mulyadi Rp25 Juta, Lalu Disedekahkan
-
Kasus SMAN 1 Purwakarta: Berhenti Menggeneralisasi Adab Siswa karena Ulah Oknum
-
Dihina 9 Muridnya Sendiri, Balasan Guru SMAN 1 Purwakarta Ini Bikin Haru
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
Terkini
-
Anggota Komisi III DPR Dukung RUU Polri Atur Jabatan Polisi di Luar Institusi Dibatasi: Supaya Jelas
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Pemerintah Telah Salurkan Dana Rp 10,65 Triliun untuk Kebut Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
-
Kabar Gembira! Pajak Kendaraan Listrik di Jakarta Tetap Nol Rupiah, Ini 5 Fakta Terbarunya
-
Eks Ketua BPK Sebut Audit Kerugian Negara Rp1,5 Triliun di Kasus Chromebook Cacat
-
Diduga Ada Jual Beli, KPRP Usul Jalur Kuota Khusus di Rekrutmen Polri Dihapuskan
-
Tanggapi Reformasi Polri, Sahroni Usul Jabatan Polisi di Lembaga Sipil Dibatasi Maksimal 3 Tahun
-
Bobol 7 Gereja di Jateng, Pencuri Ini Keok Usai Jualan Hasil Curian di Medsos
-
Dukung Rekomendasi Reformasi Polri, Abdullah Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas