Ketua KPK Agus Rahardjo didampingi Ketua Kamar Pengawasan MA Sunarto dan Karo Hukum dan Humas MA memberikan keterangan pers mengenai OTT di PN Jakarta Selatan, di gedung KPK, Jakarta, Selasa (22/8).
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Lucius Karus tidak heran dengan tuduhan yang kembali dilontarkan panitia khusus hak angket KPK kepada Ketua KPK Agus Rahardjo. Pasalnya, tudingan pertama menyebut Agus terlibat korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik tidak mempan.
"Sayangnya tudingan keterlibatan Agus di Kasus KTP elektronik tidak sekencang sebelumnya lagi. Dan sebagai gantinya muncul kasus baru terkait pengadaan alat berat," kata Lucius, Kamis (21/9/2017).
Pansus menuding Agus terlibat korupsi proyek pengadaan alat berat penunjang perbaikan jalan pada Dinas Bina Marga di Provinsi DKI Jakarta tahun 2015. Saat itu, Agus masih menjabat sebagai Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
Lucius menantang anggota pansus di DPR untuk membuktikan tuduhan.
"Tudingan pansus yang menyasar pribadi Agus memang masih perlu dibuktikan. Dan pembuktian tersebut pasti bukan kewenangan pansus. Itu murni merupakan kewenangan penegak hukum. Menggunakan informasi serba sumir untuk menggambarkan situasi KPK sesuai yang diinginkan oleh Pansus jelas menyesatkan. Banyak sekali informasi yang berseliweran terkait dengan kondisi negatif KPK yang dilontarkan pansus, tetapi belum satu pun yang secara meyakinkan bisa dipercaya karena bukti yang valid," katanya.
Lucius sejak awal curiga motivasi pembentukan pansus KPK. Menurut dia kalau ingin memperbaiki kinerja KPK, pansus seharusnya memasukkan hal tersebut dalam rekomendasi akhir, bukan malah disampaikan dalam konferensi pers.
"Jika tanpa tendensi tertentu, harusnya temuan ataupun informasi yang dimiliki pansus bisa menjadi data pendukung untuk menyusun rekomendasi akhir secara meyakinkan. Pansus harus melakukan klarifikasi, verifikasi semua informasi agar kesimpulan dan rekomendasi sungguh bisa dipertanggungjawabkan," kata Lucius.
"Yang nampak dari kerja pansus selama ini adalah mengumpulkan informasi secara acak dan setiap informasi yang menguntungkan mereka dalam konteks "melumpuhkan KPK" diumbar seolah-olah informasi tersebut sudah valid," Lucius menambahkan.
Tuduhan kepada Agus yang kedua dilontarkan Arteria Dahlan.
"Kami temukan indikasi penyimpangan di internal LKPP yang saat itu pimpinanya adalah Agus Rahardjo," kata Arteria.
Agus, kata Arteria, diduga terlibat dalam proyek senilai Rp36,1 miliar. Politikus PDI Perjuangan mengatakan pihak yang terlibat sebagai pelaksana proyek diduga melakukan rekayasa dalam proses pengadaan. Dan pada saat itu ada pihak internal LKPP yang terlibat dalam korupsi.
"Kami juga menemukan fakta ada pihak yang dalam hal ini pimpinan LKPP diduga kuat memerintahkan direktur pengembangan sistem katalog LKPP untuk melaksanakan e-Catalogue. Jadi ada transaksi dulu baru rekayasa," kata Arteria.
"Sayangnya tudingan keterlibatan Agus di Kasus KTP elektronik tidak sekencang sebelumnya lagi. Dan sebagai gantinya muncul kasus baru terkait pengadaan alat berat," kata Lucius, Kamis (21/9/2017).
Pansus menuding Agus terlibat korupsi proyek pengadaan alat berat penunjang perbaikan jalan pada Dinas Bina Marga di Provinsi DKI Jakarta tahun 2015. Saat itu, Agus masih menjabat sebagai Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
Lucius menantang anggota pansus di DPR untuk membuktikan tuduhan.
"Tudingan pansus yang menyasar pribadi Agus memang masih perlu dibuktikan. Dan pembuktian tersebut pasti bukan kewenangan pansus. Itu murni merupakan kewenangan penegak hukum. Menggunakan informasi serba sumir untuk menggambarkan situasi KPK sesuai yang diinginkan oleh Pansus jelas menyesatkan. Banyak sekali informasi yang berseliweran terkait dengan kondisi negatif KPK yang dilontarkan pansus, tetapi belum satu pun yang secara meyakinkan bisa dipercaya karena bukti yang valid," katanya.
Lucius sejak awal curiga motivasi pembentukan pansus KPK. Menurut dia kalau ingin memperbaiki kinerja KPK, pansus seharusnya memasukkan hal tersebut dalam rekomendasi akhir, bukan malah disampaikan dalam konferensi pers.
"Jika tanpa tendensi tertentu, harusnya temuan ataupun informasi yang dimiliki pansus bisa menjadi data pendukung untuk menyusun rekomendasi akhir secara meyakinkan. Pansus harus melakukan klarifikasi, verifikasi semua informasi agar kesimpulan dan rekomendasi sungguh bisa dipertanggungjawabkan," kata Lucius.
"Yang nampak dari kerja pansus selama ini adalah mengumpulkan informasi secara acak dan setiap informasi yang menguntungkan mereka dalam konteks "melumpuhkan KPK" diumbar seolah-olah informasi tersebut sudah valid," Lucius menambahkan.
Tuduhan kepada Agus yang kedua dilontarkan Arteria Dahlan.
"Kami temukan indikasi penyimpangan di internal LKPP yang saat itu pimpinanya adalah Agus Rahardjo," kata Arteria.
Agus, kata Arteria, diduga terlibat dalam proyek senilai Rp36,1 miliar. Politikus PDI Perjuangan mengatakan pihak yang terlibat sebagai pelaksana proyek diduga melakukan rekayasa dalam proses pengadaan. Dan pada saat itu ada pihak internal LKPP yang terlibat dalam korupsi.
"Kami juga menemukan fakta ada pihak yang dalam hal ini pimpinan LKPP diduga kuat memerintahkan direktur pengembangan sistem katalog LKPP untuk melaksanakan e-Catalogue. Jadi ada transaksi dulu baru rekayasa," kata Arteria.
Komentar
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Potong Jalur Birokrasi: Bandar Lampung Minta Dana Pajak Rokok Tak Lagi Mampir di Provinsi
-
Aksi Berani Bocah Madiun Pasang Badan Selamatkan Ibu dari Tikaman Ayah
-
4 Serum Korea yang Ampuh Atasi Pori Besar, Kulit Kendur, dan Kontrol Minyak
-
Info Cuaca Kamis: Langit Indonesia Didominasi Awan Tebal, Waspada Dampak Bibit Siklon 95W
-
Purbaya Jamin Tambah Anggaran Korban Bencana Gempa NTT, Tinggal Tunggu Arahan Prabowo
-
Karhutla Riau Makin Meluas, Ratusan Hektare Lahan Terbakar
-
9 Bank Sudah Bangkrut di Indonesia Sepanjang Tahun 2026, Ini Daftarnya
-
Sifat Trapesium, Jenis-jenis, Rumus Luas Keliling Lengkap dengan Contoh Soal
-
3 Warga Negara Israel Diduga Anggota IDF Berprilaku Kasar di Bali
-
UEA Bekukan Transaksi Iran, Harga Minyak Capai Level Tertinggi 4 Pekan Terakhir