News / Nasional
Selasa, 10 Oktober 2017 | 09:49 WIB
Sejumlah aktivis melakukan teatrikal sebagai bentuk aksi solidaritas terhadap penganiayaan dan pembunuhan terhadap Salim Kancil, di depan Istana, di Jakarta, Kamis (1/10).

Suara.com - Aparat kepolisian dan Satpol PP melakukan aksi brutal  terhadap rakyat yang menggelar aksi menolak proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Batur Raden, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (9/10/2017) malam.

Tak hanya kepada rakyat, polisi dan  Satpol PP juga melakukan aksi kejinya terhadap sejumlah jurnalis yang meliput aksi massa tersebut.

Seorang wartawan Metro TV, Darbe Tyas, menjadi korban kekerasan polisi dan Satpol PP tersebut.

"Saat itu, sekitar pukul 22.00 WIB, saya bersama Darbe, Aulia El Hakim dari Satelit Pos, dan Maulidin Wahyu dari Radar Banyumas meliput pembubaran paksa unjuk rasa di depan Kantor Bupati Banyumas oleh anggota Polres dan Satpol PP," kata wartawan Suara Merdeka, Agus Wahyudi di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (10/10/2017).

Menurut dia, fotografer Suara Merdeka, Dian Aprilianingrum lebih dulu mengabadikan pembubaran paksa aksi rakyat yang dilakukan polisi secara brutal itu.

Dian, kata dia, mengalami kekerasan psikis karena kameranya dirampas oleh oknum aparat meskipun yang bersangkutan telah mengutarakan jati dirinya sebagai wartawan.

Lebih lanjut Agus mengatakan, saat dia bersama tiga wartawan lainnya berhasil mendokumentasikan pembubaran paksa tersebut, sejumlah oknum polisi serta Satpol PP berusaha merampas alat kerja mereka seperti telepon pintar dan kamera.

Bahkan, kata dia, aparat meminta wartawan untuk menghapus seluruh gambar yang ada dalam kamera. Ada pula oknum yang akan membanting alat kerja wartawan serta membawanya pergi.

Baca Juga: Disiksa Majikan di Arab Saudi, TKI Indramayu Cacat Permanen

"Penghalangan untuk tidak boleh meliput juga sempat dilontarkan oknum aparat kepada Maulidin Wahyu Aulia El Hakim, saat memasuki halaman Pendapa Si Panji untuk menyaksikan dari dekat tindakan represif aparat kepada puluhan pengunjuk rasa yang mengalami kekerasan fisik dan diangkut memakai kendaraan Dalmas untuk diamankan," jelasnya.

Tapi nahas, sambungnya, Darbe yang sedang mengambil gambar justru dipukul, diinjak-injak, dan ditendang oleh sekitar 10 aparat.

Padahal, saat terdorong hingga tersungkur, Darbe telah berteriak bahwa dirinya adalah jurnalis sembari menunjukkan kartu pers.

Setelah mengalami kekerasan fisik lebih kurang selama 10 menit di sudut gerbang pendapa sebelah barat, Darbe yang sudah tidak berdaya ditolong oleh Wahyu dan Dian.

"Jika helm yang dipakai Darbe sampai lepas, kemungkinan besar akan mengalami kondisi yang lebih parah," kata Agus.

Ia mengatakan, kejadian yang dialami Darbe bermula saat wartawan Metro TV itu berupaya melindungi Dian yang terancam menjadi sasaran pengeroyokan oleh aparat.

Load More