Foto udara suasana proyek pembangunan reklamasi Teluk Jakarta di Pantai Utara Jakarta, Minggu (28/2). (Antara)
Pemerintah pusat melalui Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan mencabut moratorium proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta. Kebijakan tersebut ditempuh ketika Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno ditagih untuk memenuhi janji menghentikan pembangunan pulau buatan.
Kalangan mahasiswa tengah menunggu konsistensi sikap Anies dan Sandiaga pada janji mereka semasa kampanye.
Mahasiswa Universitas Bung Karno jurusan Ilmu Komunikasi Muhammad Fauzi Daulay menilai Anies dan Sandiaga sama saja menjilat ludah sendiri kalau akhirnya tak berani menghentikan proyek
"Kalau kita lihat dari masa kampanye Anies-Sandiaga jelas menolak reklamasi, apabila dia meneruskan reklamasi sama saja menjilat ludah sendiri. Jadi saya berharap dia menepati janji kampanyenya tersebut, karena mulutmu, harimaumu," kata Fauzi
Menurut Fauzi konsistensi sikap pemimpin baru Jakarta akan mempengaruhi tingkat kepercayaan publik kepada mereka.
"Sangat jelas mengurangi kepercayaan warga Jakarta. Karena salah satu poin saat kampanyenya tolak reklamasi," kata dia.
Fauzi mengatakan proyek pulau buatan hanya menguntungkan kalangan tertentu.
"Jelas tidak, karena di dalam UUD Pasal 33 ayat 3: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Karena menurut saya pembangunan reklamasi hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu serta pencemaran lingkungan standar dan juga mempersempit nelayan untuk mencari nafkah," ujar Fauzi.
Mahasiswa UBK jurusan Ilmu Politik Hari Hadi menilai langkah apapun yang akan diambil Anies dan Sandiaga pasti tidak mudah.
"Terpilihnya gubernur Jakarta yang baru Aniesdan Sandiaga, sebelum 100 hari pasca pelantikan memang berat untuk mereka menghentikan proyek reklamasi ini. Karena, proyek reklamasi yang sedang berjalan ini mendapat ijin dari gubernur sebelumnya dan pemerintah. Jadi kalau memang akan menghentikan, kita lihat efeknya," katanya
Tetapi jika gubernur Jakarta ingkar janji akan mengganggu elektabilitas mereka.
"Sangat mengganggu, karena ini salah satu janji kampanye bilamana gubernur terpilih tidak menjalankan kampanyenya pasti ada pihak yang merasa kecewa, karena tidak konsisten dan komitmennya pasca pelantikan," kata Hari Hadi.
Hari Hadi menolak proyek reklamasi. Menurut dia hasil kajian proyek tersebut masih menjadi perdebatan.
"Saya menolak, kalau bicara dukung atau tidak, proyek reklamasi ini sudah berlangsung dari tahun 1995 dan sekarang tinggal dibangun, ya menurut saya sebagai mahasiswa zaman sekarang kita lihat pembangunan ini yang cedera, secara kajian hukum kajian sosial, dan reklamasi masih dalam perdebatan panjang. Intinya selama dalam perdebatan pro kontra seperti ini saya menolak reklamasi karena kajiannya masih dalam perdebatan, baik atau tidak nya untuk kehidupan masyarakat Jakarta," ujar Hari.
Mahasiswa bernama Pierre Immanuel optimistis Anies dan Sandiaga akan menghentikan reklamasi.
"Yakin stop, karena reklamasi itu kan yang pertama sudah pasti merusak alam serta ekosistem alam juga, yang pasti reklamasi nggak pro sama rakyat jauh lebih pro ke pengusaha-pengusaha, karena nelayan udah pasti kehilangan mata pencaharian," ujar dia.
Pierre yakin Anies dan Sandiaga tentu tidak ingin menciderai kepercayaan pendukung.
"Pasti akan mengganggu, karena janji sebelumnya akan stop reklamasi," kata dia. [Melly Manalu]
Kalangan mahasiswa tengah menunggu konsistensi sikap Anies dan Sandiaga pada janji mereka semasa kampanye.
Mahasiswa Universitas Bung Karno jurusan Ilmu Komunikasi Muhammad Fauzi Daulay menilai Anies dan Sandiaga sama saja menjilat ludah sendiri kalau akhirnya tak berani menghentikan proyek
"Kalau kita lihat dari masa kampanye Anies-Sandiaga jelas menolak reklamasi, apabila dia meneruskan reklamasi sama saja menjilat ludah sendiri. Jadi saya berharap dia menepati janji kampanyenya tersebut, karena mulutmu, harimaumu," kata Fauzi
Menurut Fauzi konsistensi sikap pemimpin baru Jakarta akan mempengaruhi tingkat kepercayaan publik kepada mereka.
"Sangat jelas mengurangi kepercayaan warga Jakarta. Karena salah satu poin saat kampanyenya tolak reklamasi," kata dia.
Fauzi mengatakan proyek pulau buatan hanya menguntungkan kalangan tertentu.
"Jelas tidak, karena di dalam UUD Pasal 33 ayat 3: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Karena menurut saya pembangunan reklamasi hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu serta pencemaran lingkungan standar dan juga mempersempit nelayan untuk mencari nafkah," ujar Fauzi.
Mahasiswa UBK jurusan Ilmu Politik Hari Hadi menilai langkah apapun yang akan diambil Anies dan Sandiaga pasti tidak mudah.
"Terpilihnya gubernur Jakarta yang baru Aniesdan Sandiaga, sebelum 100 hari pasca pelantikan memang berat untuk mereka menghentikan proyek reklamasi ini. Karena, proyek reklamasi yang sedang berjalan ini mendapat ijin dari gubernur sebelumnya dan pemerintah. Jadi kalau memang akan menghentikan, kita lihat efeknya," katanya
Tetapi jika gubernur Jakarta ingkar janji akan mengganggu elektabilitas mereka.
"Sangat mengganggu, karena ini salah satu janji kampanye bilamana gubernur terpilih tidak menjalankan kampanyenya pasti ada pihak yang merasa kecewa, karena tidak konsisten dan komitmennya pasca pelantikan," kata Hari Hadi.
Hari Hadi menolak proyek reklamasi. Menurut dia hasil kajian proyek tersebut masih menjadi perdebatan.
"Saya menolak, kalau bicara dukung atau tidak, proyek reklamasi ini sudah berlangsung dari tahun 1995 dan sekarang tinggal dibangun, ya menurut saya sebagai mahasiswa zaman sekarang kita lihat pembangunan ini yang cedera, secara kajian hukum kajian sosial, dan reklamasi masih dalam perdebatan panjang. Intinya selama dalam perdebatan pro kontra seperti ini saya menolak reklamasi karena kajiannya masih dalam perdebatan, baik atau tidak nya untuk kehidupan masyarakat Jakarta," ujar Hari.
Mahasiswa bernama Pierre Immanuel optimistis Anies dan Sandiaga akan menghentikan reklamasi.
"Yakin stop, karena reklamasi itu kan yang pertama sudah pasti merusak alam serta ekosistem alam juga, yang pasti reklamasi nggak pro sama rakyat jauh lebih pro ke pengusaha-pengusaha, karena nelayan udah pasti kehilangan mata pencaharian," ujar dia.
Pierre yakin Anies dan Sandiaga tentu tidak ingin menciderai kepercayaan pendukung.
"Pasti akan mengganggu, karena janji sebelumnya akan stop reklamasi," kata dia. [Melly Manalu]
Komentar
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
8 Fakta Serangan Donald Trump ke Paus Leo XIV yang Tak Henti-Henti
-
Berani! Anggota DPR Polandia Pamer Bendera Israel Bergambar Nazi di Sidang Parlemen
-
Menaker Dorong Balai K3 Perkuat Pencegahan, Tekan Angka Kecelakaan Kerja
-
Dalih Akses Sulit, Pasukan Oranye di Matraman Sapu Sampah ke Sungai: Langsung Kena SP1
-
Bela Donald Trump, Ketua DPR AS Sebut Paus Leo XIV Harusnya Siap Dikomentari
-
PM Armenia Pamer Kedeketan dengan Rusia, Komunikasi Sangat Intensif
-
Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran
-
Rusia Bela Hak Nuklir Iran, Lavrov Sebut Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai
-
Kisah Siswa Pulau Batang Dua Tempuh Ujian Kelulusan di Tenda Pengungsian
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru