Suara.com - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan partai politik sibuk melakukan lobi-lobi untuk mendukung sosok calon Presiden dan Wakil Presiden 2019 yang berpeluang besar menang. Sebab capres yang diusung di Pilpres nanti sangat berpengaruh pada elektabilitas partainya dan kursi yang ingin di raih di parlemen.
Tapi yang dia khawatirkan justru para calon berguguran dengan sendirinya. Hanya saja ada juga yang masih bertahan.
"Saya lihat yang cukup berhasil adalah PKB, walau cak Imin (Muhaimin Iskandar) belum bisa menaikkan elektabilitas dirinya, tetapi saya acungi jempol," kata Bambang Soesatyo dalam diskusi Survei Konstelasi Elektoral Pilpres yang di selenggarakan Charta Politika di Es Teler 77, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (21/5/2018).
Oleh karena itu, lanjut Bambang, partai Golkar telah deklarasi mendukung dan mengusung petahana Joko Widodo sebagai Capres 2019. Golkar juga mengajukan Cawapres mendampingi Jokowi agar elektabilitas partainya dapat naik kembali. Sebab sejauh ini dari berbagai survei, Jokowi masih capres yang elektabilitasnya tertinggi dari tokoh-tokoh lain.
"Itu (pengajuan nama cawapres) salah satu strategi agar elektabilitas Golkar bisa mengungguli elektabilitas Gerindra," ujar dia.
Dia menjelaskan, konstelasi elektoral Pilpres 2019 sejauh ini belum banyak berubah, baik sebelum atau sesudah Prabowo Subianto deklarasi maju kembali sebagai capres. Semua survei hasilnya masih sama, yakni presentase palinggi tinggi adalah Jokowi dan disusul Prabowo urutan kedua.
Bambang mengaku sempat punya pandangan agar di Pilpres 2019 Jokowi dan Prabowo berpasangan.
"Idealnya memang dua jagoan ini harus berhadapan (Jokowi vs Prabowo). Saya berpikir awalnya kenapa kita tidak satukan saja? Pasti tak akan ada lagi luka Pilpres di 2019. Cuma yang kita bingung lawannya siapa, kalau lawan kotak kosong untuk sebuah negara besar seperti Indonesia lucu juga," kata dia.
Di lain sisi, ada pergerakan dari Partai Demokrat yang berspekulasi ingin membangun poros baru dalam Pilpres 2019 dengan berkoalisi bersama PAN dan PKB. Namun menurutnya peluang poros baru itu sangat kecil kemungkinan terjadi.
"Di sisi lain ada peluang demokrat membangun koalisi baru yang sudah melipir kan, ada PAN dan PKB," tutur dia.
Tapi saya lihat peluang poros baru kecil karena partai itu pasti akan lebih nyaman kalau peluang menangnya lebih besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Bayang-bayang Perang Timur Tengah Ancam Harga BBM, Ojol Ketar-ketir
-
Beredar Surat Panggilan Palsu, KPK Minta Masyarakat Waspada Penipuan
-
DPRD Minta Pemprov DKI Kendalikan Lonjakan Pendatang Usai Lebaran
-
Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi
-
Respons Isu di Media Sosial, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Penggunaan Kendaraan Dinas Sesuai Aturan
-
Arus Balik Lampaui Keberangkatan, KAI: Jakarta Diserbu 50 Ribu Penumpang Kereta per Hari
-
Arus Balik Masih Padat, Rekayasa Lalu Lintas di Tol Trans Jawa Berlanjut Jumat 28 Maret
-
HUT ke-12, TransJakarta Banting Harga Jadi Rp12, Ini Syaratnya!
-
Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap Bagi Masyarakat Terdampak Bencana
-
PM Malaysia Anwar Ibrahim Kunjungi Jakarta, Polda Metro Siapkan Pengamanan Rute VVIP