Suara.com - Pengungsi anak-anak asal Desa Lolu, Kecamatan Sigibiromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mulai rentan terkena alergi dan penyakit lain seperti diare, pasca bencana gempa bumi yang menimpa wilayah itu, Jumat (28/9/2018) lalu.
Rosita Rivai yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan penanganannya anak-anak tersebut diberi multivitamin dan obat anti-alergi. Di samping alergi dan flu, pengungsi anak-anak dan dewasa juga rentan terkena diare.
"Banyak anak-anak tadi mulai kena gejala alergi, seperti flu, dan mata merah, kemungkinan karena debu," kata Rosita Rivai di Posko Pengungsi Lapangan Bumi Jaya, Desa Mpanau, Kecamatan Sigibiromaru, Kabupaten Sigi, Minggu (7/10/2018).
"Karena di Sigi itu endemi Malaria, maka (penyakit) itu yang harus diwaspadai. Diare juga, karena kebersihan makanan dan sanitasi yang kurang, ada juga penyakit kulit, dan ISPA, tetapi mungkin diawali dengan alergi, tetapi tidak terlalu signifikan, mereka mungkin banyak batuk-batuk," tambah Rosita.
Untuk penyintas gempa bumi dan gelombang Tsunami di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong, penyakit yang banyak diderita seperti cidera dan patah tulang.
"Sekarang ini 80 persen penyintas itu pasien ortopedi, patah tulang jadi salah satu masalah, sehingga klinik yang akan kami bangun juga akan menyediakan layanan pasca luka. Layanan itu penting karena perawatan luka lebih lanjut harus dilakukan secara tepat dan steril agar tidak berujung infeksi," jelas Rosita.
Dokter yang sempat bertugas merawat korban gempa di Lombok itu turut menambahkan, perawat tidak dapat mengontrol pasien jika mereka sudah pulang ke rumah, apalagi kalau pengungsi tinggal di tenda, kemungkinan terkena infeksi jadi lebih besar.
"Situasinya tidak steril, ada nyamuk dan lalat, sehingga rentan terkena infeksi," tambahnya.
Setidaknya ada sekitar 70 ribu pengungsi yang terpaksa tinggal sementara di tenda-tenda pasca gempa bumi dan gelombang Tsunami menghantam Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.
Baca Juga: Peserta IMF World Bank Tinjau Lombok Pasca Dilanda Gempa
Hingga hari ini tercatat ada 1.944 korban meninggal, 2.549 luka-luka, dan 683 korban hilang. Proses evakuasi hingga hari kesembilan bencana masih dilakukan, khususnya di wilayah paling terdampak di Petobo dan Perumahan Balaroa, serta wilayah lain di Kabupaten Sigi dan Donggala. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mahkamah Konstitusi 'Main Aman' Beri Legitimasi Program MBG yang Bermasalah
-
Sering Olahraga Bikin Rambut Lepek dan Ketombe? Ini Tips Menjaga Kulit Kepala Sehat
-
Gus Ipul Ingatkan Seluruh Jajaran: Program Sekolah Rakyat Butuh Kolaborasi dan Integritas
-
Kenali Modus Customer Service Palsu yang Mengincar OTP dan PIN
-
Dua Siswa Sekolah Rakyat Jadi Delegasi Indonesia di 9th ASEAN Children's Forum
-
Promo Tiket Kereta Api di BRImo Langsung Dapat Cashback 15 Persen, Cek Syaratnya!
-
Terbukti Tarik Pungli ke Sesama PPPK, 1 ASN Pemprov Banten Dipecat Tidak Hormat
-
Pemkab Musi Banyuasin Usulkan Lahan Sekolah Rakyat
-
Habiskan Malam Panjang di Ibu Kota: Intip 5 Cara Menikmati Jakarta hingga Dini Hari di PIK
-
Dari Susu Jadi Yogurt Berkualitas, Transformasi Peternak Karanglo Naik Kelas Bersama BRI