Suara.com - Berbagai cara dilakukan untuk membasmi hama tikus yang terus menyarang lahan persawahan di Ngawi. Apalagi saat jebakan listrik untuk tikus dilarang karena telah mengakibatkan tujuh jiwa melayang. Salah satunya dengan menggunakan bom tikus.
Bom tikus ini mulai digunakan oleh para petani di Ngawi mulai Selasa (27/11/2018). Hal ini mengingat ada ribuan hektare sawah milik petani di enam Kecamatan di Ngawi yang terancam serangan hama tikus. Populasi tikus yang terus meningkat itu kini telah menyerang lokasi pembenihan padi mereka.
"Untuk mengantisipasi serangan hama tikus pada musim tanam, nantinya akan diberikan bom tikus secara gratis kepada petani," ungkap Kepala Dinas Pertanian Ngawi Marsudi seperti dilansir laman Beritajatim.com, Rabu (28/11/2018).
Dikatakannya, para petani saat ini kebingungan mengendalikan hama tikus. Mereka tidak bisa berbuat banyak menyusul pelarangan penggunakan alat jebakan tikus dari listrik. Tikus dengan sporadis menyerang pembenihan padi mereka pada malam hari.
Marsudi mengatakan, ada sekitar seribu hektare lebih sawah yang tersebar di enam kecamatan yang terancam hama tikus. Kecamatan-kecamatan tersbeut adalah Paron, Ngawi, Geneng, Kwadungan, Padas dan Kasreman.
"Kalau terancam ada di enam kecamatan. Di situ populasi naik, luasnya seribu hektaran sawah," ujarya.
Dibantu personel TNI dan Polri serta petugas dari Dinas Pertanian setempat, para petani mencoba mengendalikan hama tikus itu dengan menggunakan bom tikus. Upaya tersbeut kemarin dilakukan para petani di Desa Beran, Kecamatan Kota Ngawi.
Seluruh lubang tikus yang ada di pasang bom. Tak sedikit tikus mati setelah menghirup asap yang keluar dari bom tikus itu.
"Nyerangnya malam, siang di dalam lubangnya, ngumpet. Yang bisa dilakukan para petani ya gropyokan tikus saja," ungkap Suharno, salah satu petani.
Baca Juga: Kepanasan Usai Pesta Miras, Nyawa Anton Melayang di Pemandian
Petani menyatakan pemusnahan hama tikus sangat penting apalagi saat ini masuk masa pembenihan. Jika ini gagal maka petani harus mengulur waktu lagi.
"Petani sudah kebingungan menangani hama tikus. Sebenarnya yang efektif pakai jebakan tikus (berlistrik) itu tapi sekarang dilarang dan harus kita tinggalkan karena sering memakan korban jiwa," kata Suharno.
Marsudi menambahkan, pengengendalian hama tikus hanya bisa dilakukan secara terpadu menggunakan umpan tikus, gropyokan maupun musuh alami. Karena jika menggunakan jebakan tikus dari listrik akan membahayakan banyak orang. Selama 2018 saja ada tujuh orang tewas akibat tersengat aliran listrik untuk jebakan tikus milik petani.
Para petani hanya bisa berharap hama tikus segera dapat di kendalikan menjelang musim tanam ini.Jika tidak ribuan hektare sawah milik petani di Ngawi akan terancam gagal panen.
Artikel ini pertama kali terbit di laman Beritajatim.com dengan judul: "Petani Ngawi Pakai Bom Demi Basmi Tikus"
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Gaji ASN Pemprov Gorontalo Macet, Gubernur Gusnar Ismail Sampaikan Permohonan Maaf
-
Terjebak Tiga Hari di Tengah Ancaman OPM, 18 Karyawan Freeport Dievakuasi TNI
-
Usai Resmikan Sekolah Rakyat, Prabowo Lanjutkan Kunjungan ke Balikpapan dan IKN
-
Indonesia Dilanda 2.139 Bencana di 2025: Didominasi Banjir dan Tanah Longsor
-
Prabowo ke Siswa Sekolah Rakyat: Bukan Salah Orang Tuamu, Memang Negara Belum Mampu Beri Terbaik
-
Rismon Desak Klarifikasi Jujur Usai Eggi Sudjana Disebut Minta Maaf dan Rangkul Jokowi di Solo
-
Bivitri Susanti Nilai Pilkada Tidak Langsung Berisiko Membuat Pemimpin Abai ke Rakyat
-
Fakta di Balik Siswa Sekolah Rakyat: 67 Persen dari Keluarga Berpenghasilan di Bawah Rp1 Juta
-
Pelapor Kasus Fitnah Ijazah Palsu Jokowi Dipanggil Polda, Laporan Eggi Sudjana Dicabut?
-
Tok! Hakim Tolak Eksepsi Nadiem Makarim, Sidang Korupsi Chromebook Lanjut ke Pokok Perkara