News / Nasional
Kamis, 04 April 2019 | 20:15 WIB
Massa ormas FPI. (suara.com/Erick Tanjung)

Suara.com - Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan suara dari ormas Islam FPI terbagi dua untuk Capres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Terkait hal itu, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandiaga menilainya sebagai sesuatu yang kontradiktif.

Wakil Ketua BPN Prabowo – Sandiaga, Priyo Budi Santoso menilai tidak masuk akal jika suara pemilih dari ormas muslim kini terbagi rata antara Prabowo dan Jokowi. Pasalnya, selama ini kubu Jokowi seringkali menuduh kalau Prabowo banyak didukung oleh ormas Islam garis keras. Akan tetapi kini dalam survei, ormas Islam yang dimaksud malah disebut mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

“Enggak masuk di akal. Mereka gusar pada isu (garis keras) sampai menuding kelompok garis keras berada di belakang Prabowo, tapi mereka mengklaim pemilih muslim ada di mereka. Ini kan kontradiktif," kata Priyo di kawasan Stadion GBK, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Terkait dengan hasil survei tersebut, Priyo juga menegaskan tidak ada pengaruh sama sekali dengan suara dari pemilih ormas Islam. Apalagi menurutnya, selama ini sejumlah lembaga survei telah menjadi konsultan politik bagi individu ataupun kelompok.

“Enggak khawatir, karena kita enggak ngefek. Kami ketahui sejumlah lembaga survei sudah jadi tim hore. Jadi, 1.001 malam dirilis pun tidak mempengaruhi jaringan kami,” pungkasnya.

Untuk diketahui,   Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA merilis hasil survei elektabilitas capres - cawapres berdasarkan kategori organisasi masyarakat Islam di Indonesia. Hasilnya, pemilih dari salah satu organisasi Islam yakni FPI dilaporkan memilih Capres petahana Joko Widodo atau Jokowi sebesar 41,2 - 47,6 persen, dan yang memilih Prabowo Subianto sebesar 52,4 - 58,8 persen.

Tag

Load More