Suara.com - Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rian Ernest menilai partainya dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki ideologi yang bertolak belakang. Ernest menyatakan, hal itulah yang menjadi alasan PSI tidak akan pernah atau 'haram' berkoalisi dengan PKS.
Menurut Ernest, PSI merupakan partai nasionalis ideologis yang ingin merawat keberagaman Indonesia dengan bermacam-macam suku, agama, ras dan golongan. Sementara PKS, kata dia, merupakan partai yang memiliki niatan untuk mengubah Indonesia menjadi negara Islami yang menerapkan sistem berbasis syariah.
"Secara ideologi kami tidak akan pernah ketemu kan. Jadi kalau ini sebuah spektrum politik PSI dan PKS itu ada di dua kutub yang berbeda. Kami sebagai partai yang yakin bahwa rakyat itu memilih politik harus jelas produk partainya apa, arah partainya seperti apa," tutur Ernest saat ditemui di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Jumat (12/4/2019).
Ernest menyebut saat ini banyak partai yang mengklaim sebagai partai nasionalis, namun kenyataannya justru mereka berkoalisi dengan partai yang dinilainya bertolak belakang dengan nilai nasionalisme itu sendiri.
Ernest menyadari bahwa politik itu soal kepentingan. Namun, setiap partai harus memiliki batasan dan sikap yang tegas.
"Kalau secara ideologi kita bagaikan minyak dan air, minyak dan air, ya udah enggak mungkin ketemu. Masa minyak dan air dipaksa ditampung dalam satu wadah gelas, enggak bisa," ucap dia.
"Dari statement itu sih kami harap akan terus konsisten, kami enggak akan pernah ada (koalisi dengan PKS)," imbuhnya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni mengungkapkan kalau partainya tidak akan berkoalisi dengan PKS. Bahkan, Toni menyebut haram hukumnya PSI berkoalisi dengan PKS.
"Sebagai partai nasionalis ideologis, PSI tidak akan berkoalisi dengan PKS di seluruh pilkada gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia. Haram bagi PSI berkoalisi dengan PKS," ujar Toni.
Baca Juga: Terima Petinggi PKS, Rizieq Sebut Ada Partai Islam yang Berkhianat
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan