Suara.com - Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia menciptakan lebih banyak karbon dioksida daripada kebakaran yang terjadi di Amazon, berdasarkan laporan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).
Disadur dari Straitstimes, Rabu (27/11/2019), kebakaran hutan yang menutupi sebagian wilayah Asia Tenggara dengan awan tebal abu dan asap, diperkirakan telah melepaskan 709 juta ton karbon dioksida hingga 15 November. Ini hampir sama dengan emisi tahunan Kanada.
CAMS menyebut kebakaran hutan di Indonesia beberapa waktu lalu lebih besar 22 persen dari kebakaran di Amazon. Diperkirakan 579 megaton karbon dioksida dikeluarkan dari pembakaran hutan Amazon.
Kebakaran di Indonesia dipicu oleh petani yang membuka lahan, membakar sebidang hutan yang tersebar di lebih dari 4.000 km. Daerah yang paling parah terkena dampaknya berada di pulau Sumatra dan Kalimantan.
Kekeringan berkepanjangan dan musim hujan yang terlambat memperparah situasi. Kabut asap mengganggu transportasi udara dan menyebabkan penyakit pernapasan bagi ribuan orang di wilayah itu.
"Yang menjadi sorotan pada kebakaran di Indonesia ini adalah tinggiya total intensitas kebakaran harian dan perkiraan emisi dan seberapa jauh dampaknya lebih tinggi daripada rata-rata 16 tahun sebelumnya," kata Copernicus.
Mereka mengatakan sulit untuk membuat perbandingan langsung antara bencana di Indonesia dan Amazon karena perbedaan jenis vegetasi.
Namun Copernicus menyebut kebakaran hutan di Indonesia tahun ini adalah yang terburuk dibandingkan 2015.
Menurut laporan Straitstimes, pemerintah Indonesia memperkirakan sekitar 2,6 juta hektar lahan terbakar pada tahun 2015, yang menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US $ 16 miliar (Rp 225,6 triliun).
Baca Juga: Wapres Ma'ruf Amin Sebut Ada Materi Ajar yang Mengandung Radikalisme
Sementara itu, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) merupakan salah satu dari enam layanan yang membentuk Copernicus, program pengamatan Bumi Uni Eropa yang mengamati bumi dan lingkungannya demi keuntungan utama semua warga negara Eropa.
CAMS diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) bagian dari European Commission.
ECMWF adalah organisasi antar pemerintah independen yang didukung oleh 34 negara. Ini adalah lembaga penelitian dan layanan operasional 24/7, yang memproduksi dan menyebarkan prediksi cuaca numerik ke negara-negara anggotanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa
-
Anies Baswedan Soroti Dinasti Politik: Pemerintah Harusnya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Keluarga!
-
Anies Baswedan Beri Restu: Ormas Gerakan Rakyat Resmi Jadi Partai, Apa Langkah Selanjutnya?
-
Terbongkar! Hutan Kota Cawang Jadi Sarang Aktivitas Asusila, Pemkot Gerebek dan Segel Lokasi
-
Tolak Ambang Batas Parlemen, Partai Gerakan Rakyat Usul PT 0 Persen: Jangan Ada Suara Mubazir!