Orasi JK di Lapangan Catur Universitas Hasanuddin tahun 1965, yang saat itu memegang “jabatan” aktifis kampus sebagai Ketua Senat Fakultas Ekonomi Unhas, Ketua Cabang HMI Makassar dan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa(KAMI), mengirim pesan kepada generasi milenial masa kini bahwa Ia telah hidup membumi, nerdampingan dan membaur dengan semua golongan masyarakat sejak masa mudanya.
Sudah menggeluti dan hadir dalam setiap pergolakan sejarah Indonesia sejak lebih 50 tahun lampau.
Karena itulah JK sangat faham persoalan bangsa ini, dan tahu solusi untuk mengatasinya dan terlibat di dalamnya sebagai pemimpin untuk mengerjakan masalah masalah bangsa, secara “lebih cepat dan lebih baik.”
Jangan tidak pernah kaya sebelum tua, kata Pak JK memberi motivasi agar semua anak anak Indonesia bekerja untuk memaksimalkan resourses yang dimiliki bangsa ini.
Konversi minyak tanah ke gas yang digagas Pak JK berhasil mengantarkan bangsa Indonesia mengatasi krisis energi dan menggunakan gas yang lebih murah dan ramah lingkungan, negara menghemat puluhan triliun rupiah setiap tahunnya dari beban subsidi yang tadinya harus ditanggung negara atas penggunaan bahan bakar minyak tanah.
Ketika pejabat lain tidak jarang terjebak dalam praktek praktek merugikan negara, sebaliknya JK dengan salah satu best practisenya mengkonversi minyak tanah ke gas telah memberi keuntungan besar kepada negara dan manfaat untuk rakyat banyak.
Dana subsidinya pun dapat dialihkan ke bidang bidang yang lebih tepat guna serta membawa manfaat besar seperti pembangunan jalan dan jembatan atau infrastruktur pertanian.
Menurut saya, inilah pidato pengukuhan DHCnya yang paling enteng tapi paling terbukti manfaatnya diantara sederet karya JK terutama mediasi mediasi perdamaian yang sudah melekat dalam dirinya.
Karena apa yang menjadi fokus ITB, berdasarkan pengalaman JK dan sukses membawa manfaat bagi orang banyak. Bukan sebuah pidato ilmiah yg mendayu dayu dan sarat teori.
Baca Juga: Polisi Gulung Rombongan Pelajar yang Aniaya Dio hingga Meninggal Dunia
Tingkat kesulitannya justru di tangan promotor yang dipimpin Peofessor Hakim Halim, sebab dituntut merumuskan narasi ilmiah untuk meyakinkan publik bahwa secara akademik M. Jusuf Kalla layak mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa atas karya karya yang ia baktikan selama lebih 20 tahun mengabdi dalam pemerintahan.
Dari sederet karya itu, ditambah filosofi yang selama ini dibangun Jusuf Kalla, lebih cepat lebih baik dan lalu berkembang lagi menjadi lebih murah. Mengantarkan HakimHalim dkk, mampu meyakinkan insan akademik ITB untuk memberi pengakuan, bahwa Jusuf Kalla layak menyandang gelar doctor honoris causa dari ITB Bandung. Menarik justeru ITB memberikan gelar itu ketika JK tidak lagi jadi pemangku kepentingan di negeri ini. Ketika JK seorang rakyat biasa, yang karyanya layak dikenang dan diapresiasi.
Seorang doctor honoris causa, Ia harus mengabdi dan bekerja terlebih dahulu sebelum diuji. Sedangkan seorang doctor akademik, Ia harus belajar sebelum diuji. Selamat Pak JK atas gelar DCH yang ke 14.
Berita Terkait
-
Peneliti ITB: Konsep Naturalisasi Anies Baswedan Tak Cocok untuk Jakarta
-
Jakarta Dikepung Banjir, JK Turun Gunung Tinjau Pasokan Bantuan
-
Terima HB IX Award, Jusuf Kalla Bandingkan Dirinya dengan Sri Sultan HB IX
-
Beri Jusuf Kalla HB IX Award, UGM Beberkan Alasannya
-
Jadi Pejuang Inklusi, Istri Mendiang Gus Dur Raih Doktor Honoris Causa
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
Terkini
-
Marco Rubio: Harga Bensin Tinggi Tak Akan Paksa AS Beri Konsesi ke Iran
-
Donald Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka
-
Siasat Cerdik China Ganti Nama Marco Rubio agar Bisa Masuk Meski Masih Kena Sanksi
-
5 Fakta Dua Pemuda Bogor Dipatuk Ular Weling: Sempat Jadi Mainan hingga Satu Orang Tewas
-
Bundaran HI Tak Lagi Aman usai Turis Italia Jadi Korban Jambret? Legislator PSI Bereaksi Keras
-
SMAN 1 Pontianak Tolak LCC Ulang, MPR: Kami Menghargai Sikap Mereka
-
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Anggota DPR: Pemerintah Jangan Diam
-
Nunggak Utang Rp 3 Juta, Pria di Cilincing Ditusuk Debt Collector di Tengah Jalan
-
Berkedok Karaoke, Tempat Hiburan di Daan Mogot Jadi Sarang Prostitusi Anak: 5 Orang Jadi Tersangka!
-
Prediksi Analis Militer Barat Sebut Rusia Mulai Terjepit Lawan Ukraina, Gencatan Senjata?