Suara.com - Saat Ramadan datang, biasanya banyak bazar yang menjual hidangan khas untuk berbuka puasa. Namun untuk tahun ini kebiasaan tersebut tidak bisa dilaksanakan akibat pandemi virus corona.
Bukan hanya di Indonesia yang ikut terdampak, di Malaysia juga pedagang-pedagang panganan khas Ramadan ikut jungkir balik akibat dibatalkannya bazar Ramadhan.
Agar tetap bisa berjual, para pedagang makanan khas harus menjualnya secara online, baik melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook, seperti dilansir dari Reuters.
Salah satunya adalah Siti Zabedah Abdul Wahab yang menjual martabak selama 15 tahun di Malaysia. Ia harus berjualan secara online akibat dibatalkannya bazar Ramadhan di tengah pandemi virus corona.
"Ini adalah pertama kalinya kami berjualan secara online, jadi kami ingin memulai lebih awal untuk memastikan pelanggan kami dapat menemukan kami," kata Siti Zabedah yang berusia 38 tahun kepada Reuters.
Pihak berwenang Malaysia telah memberlakukan lockdown hingga pertengahan Mei dan membatalkan pasar Ramadan.
Akibatnya, para pedagang di Malaysia tersebut kini beralih ke platform digital terinspirasi dari fenomena banyaknya 'warung online' yang dapat di-order melalui aplikasi ojek online.
"Di Indonesia, Anda dapat memesan hampir semua yang Anda inginkan di aplikasi," kata Rosli Sulaiman, presiden Asosiasi Pedagang Melayu dan Pedagang Melayu Malaysia dikutip dari Reuters.
"Di sini (Malaysia) kita harus melakukan sedikit lebih mendidik karena sebagian besar vendor terbiasa berjualan di jalan. Menjadi online atau berurusan dengan transaksi tanpa uang tunai akan menjadi sesuatu yang baru bagi mereka," tambahnya.
Baca Juga: Curhat Polisi Militer Saat Cari Takjil di Bulan Ramadhan, Kocak Abis
Pedagang Malaysia sangat terdampak dari kebijakan lockdown, dengan perkiraan kerugian sekitar 50 juta ringgit (sekitar Rp 176,5 miliar) pada sekitar 100.000 pedagang.
Untuk mengurangi dampak tersebut, beberapa perusahaan telah mengembangkan platform e-bazaar untuk membantu pedagang pasar Ramadhan bermitra dengan perusahaan pengiriman, dan menjangkau lebih banyak pelanggan secara online.
Namun untuk pedagang makanan kecil, lebih memilih untuk menawarkan dagangan melalui sosial media. Sebab tidak memiliki cukup keuntungan untuk dibagi dengan perusahaan platform tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
Pilihan
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
-
Profil Mojtaba Khamenei: Sosok Kuat Penerus Ali Khamenei, Calon Pemimpin Iran?
Terkini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
Sejarah Bendera Merah di Masjid Jamkaran: Dari Balas Dendam Soleimani hingga Khamenei
-
Ayatollah Ali Khamenei Gugur, Ahlulbait Indonesia Gelar Doa 7 Hari: Perlawanan Tak Padam
-
Ali Khamenei Wafat, Kesederhanaan Sepatu dan Telapak Kakinya Dikenang Rakyat Iran
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Simbol Balas Dendam, Bendera Merah Berkibar di Masjid Jamkaran Usai Ali Khamenei Gugur
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
-
Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan
-
Dino Patti Djalal Duga Agresi Militer AS ke Iran Upaya Pengalihan Isu Epstein Files