"Gue buka dari Ashar, sekarang sudah gak pake jam, pake jadwal gitu, kebanyakan kerjaan luar, jadi orang rombongan jadi ke luar."
Meski jumlahnya berkurang, Kenyo mengaku masih ada saja pelanggan yang menggunakan jasanya selama pandemi Covid-19.
Bahkan, dia masih menerima order untuk bekam dan pijat refleksi di luar rumahnya.
"Gue cukur emang iya, kalau terapi tetap, enggak ada, tetap terus jalan, nanti malem ini aja udah ada orang lagi mau bekam sama gue," ucap Kenyo.
Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat semua jalan hingga gang ditutup portal menjelang malam. Hal tersebut juga berlaku di tempat Kenyo.
Dia sempat mengeluh kepada ketua RW ihwal penutupan jalan menggunakan portal. Sebab, hal itu menyulitkan pelanggan Kenyo yang hendak datang maupun pulang.
Kenyo mengaku, dia dan adiknya bisa melayani pelanggan hingga dini hari. Sebab, kebanyakan pelanggannya datang di malam hari seusai pulang kerja.
"Kemarin sempet marah juga sama pak RW, nutup portal itu kan susah juga disini, kan lu tau gue usaha apa, gak mungkin lu tutup semua satu RW, musti ada salah satu keluar, sempet ribut juga, malah ramenya malem, ini sekarang jam 11 malam tutup, kan gue bingung, pada baliknya susah, biasanya datengnya malem abis pulang kerja," beber Kenyo.
Meski demikian, Kenyo tetap khawatir akan bahaya penyebaran virus Covid-19. Untuk itu, dia tetap berpegang teguh pada satu kata: steril.
Baca Juga: 3 Pekan PSBB Jakarta, 126 Perusahaan Ditutup Sementara
Hal tersebut menjadi pegangan Kenyo saaf bekerja selama pamdemi Covid-19. Sebelum dan sesudah memangkas dan memijat pelangganya, Kenyo selalu mencuci tangan.
"Kalau khawatir mah pasti ada, cuma yang jadi pegangan buat gue cuma satu: semua harus steril. Sebelum dan sesudah terapi gue selalu cuci tangan."
Berita Terkait
-
Menristek: Jenis Covid-19 di Indonesia adalah Tipe yang Belum Dikenali
-
Ribuan Warganya Meninggal karena Corona, Presiden Brasil: Lalu Kenapa?
-
Klaim Tak Ada Lagi Warganya yang Mudik, Pemprov DKI: Hanya ke Bodetabek
-
Kisah Ayah Angkat Asuh dan Ajari 10 Anak Korea Utara selama Lockdown
-
Wabah Corona di Jakarta Bikin Satwa di Ragunan Lebih Tenang
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat