Suara.com - Badai Amphan melumpuhkan India dan Bangladesh di tengah pandemi virus corona. Sejauh ini, Kamis (21/5) badai telah menelan 14 korban jiwa.
Menyadur Al Jazeera, badai yang terjadi di tengah pandemi virus corona ini juga menghancurkan ribuan rumah warga, menumbangkan pohon hingga tiang listrik, dan membuat naiknya permukaan air laut.
Kepala Menteri Benggala Barat Mamata Banerjee mengatakan sekitar 500 ribu orang di wilayahnya telah dievakuasi. Pun menyebut badai kali ini merupakan badai terkuat yang pernah menghantam Benggala.
"Situasi lebih mengkhawatirkan daripada pandemi virus corona," ujar Banerjee.
"Area demi area telah gancur. Komunikasi terganggu," sambungnya.
Sementara di Bangladesh, otoritas menyebut sejumlah 2,4 juta warga dievakuasi ke 15 ribu tempat pengungsian. Para pengungsi Rohingya yang tinggal di Teluk Benggala juga telah dievakuasi.
Badai dikhawatirkan akan menyebabkan banjir yang siap menerjang ke kamp-kamp pengungsian yang dihuni oleh sekitar satu juta orang Rohingnya.
Komisaris pengungsi Bangladesh Mahbub Alam Talukder mengatakan pihaknya telah mempersiapkan keperluan perlindungan bagi pengungsi Rohingya dari terjangan badai.
"Kami sepenuhnya siap. Tetapi saat ini, belum perlu membawa mereka (Rohingya) ke tempat pengungsian badai," ujar Talukder.
Baca Juga: 4 Dampak Psikologis Saat Seseorang Kehilangan Pekerjaan
Direktur Jenderal Departemen Meterologi India Mrutyunjay Mohapatra mengatakan angin berhembus hingga 185 km/jam, memungkinkan naiknya air laut di delta Sundarbans sekitar lima meter.
"Perkiraan kami beberapa daerah sekitar 10 hingga 15 kilometer dari bibir pantai bisa tergenang air," ujar Mohapatra.
Seorang warga Sundarbands Babul Mondal mengatakan badai telah menghantam rumah-rumah di kampungnya.
"(Rumah) terlihat seperti dilindas oleh burldoser," ujar Babul.
"Semuanya hancur," imbuh dia.
Selain itu, badai juga disebutkan akan memberikan dampak kerusakan parah pada tanama dan perkebunan di kawasan Benggala Barat dan Odisha.
Pemerintah kini menggunakan kembali tempat-tempat karantina Covid-19 sebagai kamp pengungsian warga yang terdampak badai Amphan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif