Suara.com - Pemerintah Jepang melalui kementerian kesehatan mulai menguji sekitar puluhan ribu warganya untuk mengetahui penyebaran virus yang ada di Negeri Sakura tersebut.
Menyadur The Japan Times, sejumlah 10.000 orang telah dites antibodi virus corona pada hari Senin (01/06) untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang skala infeksi nasional setelah keadaan darurat dicabut minggu lalu. Tes tersebut dilakukan di di Tokyo, Prefektur Miyagi, kemudian disusul di Osaka pada hari Rabu.
Tujuan pemerintah adalah untuk mengetahui secara kasar berapa banyak orang yang sebenarnya terinfeksi dalam gelombang pertama, termasuk mereka yang tidak menunjukkan gejala.
Tes darah dilakukan pada 3.000 warga yang dipilih secara acak yang berusia 20 tahun atau lebih tua di setiap prefektur yang setuju untuk dilakukan pengujian.
Hasilnya diharapkan dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah Jepang jika terjadi gelombang kedua dan memperkirakan berapa banyak orang yang harus divaksinasi jika vaksin tersedia.
Di sebuah lokasi pengujian di Bangsal Itabashi, Tokyo, seorang perawat dari Asosiasi Anti Tuberkulosis Jepang, menjelaskan kepada media, sebelum tes dimulai membutuhkan sekitar satu hingga dua menit untuk mengambil sampel darah.
"Mengetahui kondisi aktual infeksi dapat membantu pemerintah mengambil tindakan di masa depan," kata seorang pejabat asosiasi dikutip dari The Japan Times.
Di Natori, Prefektur Miyagi, seorang pria berusia 69 tahun yang mengikuti tes mengatakan dia tidak merasa sakit sejak epidemi dimulai dan berharap hasilnya dapat membantu. "Saya berharap data saya akan membantu masyarakat," katanya.
Menurut data Worldometers pada Senin (01/06), Jepang telah mencatat kasus Covid-19 sebanyak 16.851 dan kasus 891 kematian. Sebanyak 14.459 pasien dinyatakan sembuh.
Baca Juga: Tidak Ngotot Soal Pengujian Covid-19, Begini Cara Jepang Hadapi Wabah
Perdana Menteri Shinzo Abe, mencabut keadaan darurat nasional pada Senin pekan lalu. Di Tokyo dan Prefektur Fukuoka terdapat penambahan infeksi dalam beberapa hari terakhir, tetapi pemerintah mengatakan tidak memiliki rencana untuk menetapkan keadaan darurat lagi pada daerah tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Febrie Adriansyah Diperiksa Tim Khusus Berisi 9 Jaksa, Mayoritas Alumni KPK
-
Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona
-
Junior Roberts Kagok Perankan Cowok Green Flag di Series A Little White Lie
-
Maut di Balik Live TikTok: Teka-Teki Sayatan di Pantai Permata Probolinggo Akhirnya Terungkap
-
Bunga Cuma 1,8%! BRI KKB Expo Hadir di 131 Titik, Wujudkan Mimpi Punya Kendaraan Baru
-
Pengawas Sawmill Ilegal di Kampar Jadi Tersangka, Terancam Denda Rp2,5 Miliar
-
Perbaiki Tata Kelola MBG, Pimpinan BGN Diminta Jangan Bikin Masalah Baru
-
Moisturizer Sariayu Mawar untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan Manfaat dan Review Pembeli
-
Prancis vs Inggris: Panggung Perpisahan Deschamps dan Ambisi Rekor Kylian Mbappe
-
Keraton Surakarta Bersolek, 11 Kawasan Bersejarah Dipugar Mulai Agustus