Dalam bukunya yang berjudul Peak, Anders Ericsson dan Robert Pool menggambarkan konsep baru yang menjelaskan prestasi orang-orang terkemuka.
Mereka menyebutnya sebagai deliberate practice, sebuah jenis latihan yang sistematis dan terarah.
Latihan ini membutuhkan perhatian yang terfokus dan dilakukan dengan tujuan khusus untuk meningkatkan kinerja.
Perbedaan penting
Ada beberapa hal yang membuat deliberate practice ini berbeda dengan dengan latihan biasa.
Latihan ini terbatas pada bidang-bidang di mana sudah ada akumulasi pengetahuan tentang kegiatan pelatihan yang efektif.
Latihan ini juga melibatkan seorang pengajar atau pelatih yang membutuhkan masukan sesegera mungkin untuk kemudian ditindaklanjuti.
Ericsson mengatakan, "Sangat berbeda dari gagasan praktik naif di mana Anda mencoba melakukan yang terbaik dengan keterampilan yang Anda miliki. Anda benar-benar mengidentifikasi sesuatu yang jauh di luar dari apa yang saat ini dapat Anda lakukan. Dan untuk melakukan itu, Anda benar-benar harus mendorong diri sendiri secara maksimal sehingga Anda dapat secara bertahap mengembangkan tujuan penguasaan yang baru ini. "
Jadi, ini bukan tentang jumlah latihan yang Anda lakukan tetapi cara Anda melakukannya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melejit Lebih dari 2 Persen
Yang berarti siapa pun yang berlatih dengan cara yang benar dapat mencapai hasil tingkat tinggi.
Jadi mengapa tidak banyak orang melakukan ini?
Namun latihan jenis deliberate practice itu sulit.
Latihan ini dilakukan secara berkesinambungan dan sangat membosankan. Jadi, tidak banyak yang mau melewatinya. Sebagian besar dari kita akhirnya mengambil cara yang mudah dan menyerah.
Kekuatan otak
Persepsi umum lainnya adalah masih banyak yang berpikir bahwa pencapaian besar membutuhkan kemampuan atau bakat alami seperti IQ tinggi atau ingatan manusia super.
Untuk sebagian besar abad ke-20 diyakini bahwa kemampuan Anda untuk mengingat informasi yang diberikan dengan cepat terbatas pada sekitar tujuh bagian atau potongan dan tidak dapat ditingkatkan dengan pelatihan.
Pada tahun 1975, profesor Anders Ericsson melakukan penelitian yang membantah klaim tersebut.
Seorang mahasiswa biasa meningkatkan kemampuannya untuk mengingat urutan angka acak dari sekitar tujuh angka menjadi lebih dari 80.
Dia memperoleh pelatihan selama beberapa ratus jam, yang terbagi selama beberapa tahun.
Prestasi mahasiswa tersebut signifikan karena, meskipun dia telah belajar 82 angka dalam urutan pada saat eksperimen berakhir, tidak ada yang menunjukkan bahwa dia telah mencapai batas dalam meningkatkan keterampilan ingatannya dengan latihan.
Mengembangkan metode sendiri
"Yang paling menarik, kami menemukan bahwa cara dia membuat kode dan mengingat angka-angka berubah secara mendasar dengan latihan. Alih-alih hanya melatih mereka - mengatakannya berulang-ulang - sampai Anda mengingatnya, dia mampu mengubahnya menjadi kode yang bermakna dan menghubungkannya dengan pengetahuan," kata Ericsson.
Dengan mengadaptasi rutinitas hariannya, mahasiswa dapat belajar urutan yang jauh lebih lama daripada kebanyakan orang.
"Dalam kasusnya dia adala pelari, jadi dia menganggap kelompok tiga digit sebagai waktu lari untuk berbagai jenis balapan. Jadi itu menunjukkan bahwa faktor pembatas memori bisa ditingkatkan. "
Faktor-faktor yang membatasi
Adakah yang bisa menghambat prestasi yang luar biasa?
Ericsson dan Pool berpendapat bahwa, dengan pengecualian tinggi dan ukuran tubuh, gagasan bahwa kita dibatasi oleh faktor genetik tidak lebih dari mitos yang membahayakan.
Mereka mengatakan bahwa kondisi bawaan, fisik, mental dan kesehatan bersama dengan penyakit atau gangguan adalah beberapa kendala yang jelas.
Dan bahkan jika Anda berada dalam puncak kesehatan fisik, aspek fisik lain seperti tinggi badan, atau ukuran tubuh juga berkontribusi pada kemampuan Anda untuk melakukan tugas.
Jika Anda terlahir dengan suara sopran, misalnya, itu akan menjadi tantangan bernyanyi bass.
Anak yang 'memiliki keajaiban'
Dalam bukunya yang berjudul Blueprint, Robert Plomin mengajukan hipotesis bahwa bakat dipengaruhi oleh DNA.
Plomin berpendapat bahwa faktor genetik dapat memengaruhi kemampuan untuk menjadi seorang juara.
Ini menimbulkan pertanyaan: peran apa yang dimainkan gen?
"Orang bertanya-tanya bagaimana [komposer] Mozart dan [pegolf] Tiger Woods bisa berprestasi di tingkat dunia dalam usianya yang masih sangat muda. Mustahil jika mereka hanya berlatih biasa. Jika kita melihat lebih cermat, kita akan menemukan bahwa dalam semua kasus luar biasa ini, orang tua membantu anak, kerap dimulai sekitar dua atau tiga tahun," kata Ericsson.
Jadi, menurutnya, di balik kisah sukses fenomenal terletak kerja keras orang tua yang cukup terampil untuk membantu anak.
"Anak-anak ajaib ini, jelas merupakan hasil dari didikan yang sangat diawasi, membantu mereka mencapai jenis keterampilan yang kemudian diperlihatkan pada usia yang sangat muda," kata Ericsson.
"Jadi, jika kita benar-benar melihat apa yang bisa dimainkan oleh Mozart sebagai seorang anak, kita sekarang dapat menemukan bahwa dengan jenis pelatihan rata-rata, anak-anak benar-benar dapat memperoleh kemampuan bermain bukan hanya jenis-jenis karya yang dimainkan Mozart, tetapi bahkan karya-karya yang lebih kompleks. "
Apa pun yang Anda yakini, harga untuk performa elite jelas sangat tinggi dan mereka yang mencapai tingkat kinerja manusia super seringkali adalah orang-orang yang bersedia mengorbankan segalanya untuk membayarnya.
Tag
Berita Terkait
-
Dari Bibimbap hingga Jollof Rice, Ini 5 Makanan Tradisional yang Jadi Rahasia Nutrisi Atlet Elite
-
Polisi Tutup Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
Jesslyn Wijaya Masih Tak Bisa Dihubungi, Calon Suami Lapor ke Komnas Perempuan
-
Calon Suami Ungkap Jesslyn Sempat Depresi, Diduga Tiga Kali Coba Bunuh Diri
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI
-
Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard
-
Curi Perhatian Owi/Butet, 16 Atlet Raih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026 di Makassar
-
Urgen, Mengubah Keahlian Individual Manajemen Pengetahuan di Setjen DPR Jadi Kekuatan Institusional
-
1,3 Ton Obat Bius dalam Teh Cina Disita Bea Cukai - TNI dari Kapal Asing di Batam
-
Feng Shui Rumah Menghadap ke Arah Selatan, Bawa Hoki dan Bikin Karier Melejit
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
8 Cara Menghapus File Sampah dan Cache Tersembunyi di HP Android agar Penyimpanan Lega
-
Film Dan Bandung Sapa Penonton Yogyakarta: Angkat Kisah Cinta, Persahabatan, dan Keluarga