Suara.com - Pemerintah Indonesia dianggap gagap menangani pandemi virus Corona. Presiden Joko Widodo dan menterinya dinilai gagal mengendalikan penyebaran infeksi.
Setidaknya hal itulah yang dilaporkan media asing, dalam hal ini Reuters sebagaimana disadur dari Channel News Asia (CNA), Kamis (20/8/2020).
Indonesia dianggap kurang responsif dalam menangani virus Corona sejak kali pertama mewabah di Wuhan, China pada Desember tahun lalu.
Berbagai kebijakan dan tingkah polah para pejabat negara saat awal munculnya wabah, termasuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dianggap tak ilmiah.
Luhut sempat mengatakan jamu dari jus manggis dapat digunakan sebagai obat virus Corona.
Beberapa bulan sebelumnya, para pejabat berseloroh bahwa virus Corona tak akan masuk Indonesia karena birokrasi yang berbelit.
Serangkaian solusi lain juga diajukan oleh para pembantu Presiden Jokowi dalam enam bulan terakhir. Termasuk melantunkan doa, hingga kalung eucalyptus.
“Virus ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Yang (negara) kami lakukan pada dasarnya adalah herd immunity," kata Prijo Sidipratomo, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
"Jadi (langkah ini membuat--Red) kita harus menggali banyak, banyak sekali kuburan," tambahnya.
Baca Juga: Update Covid-19 Global: Brasil Klaim Penyebaran Virus Corona Melambat
Herd Immunity adalah skenario di mana sebagian besar populasi tertular virus dan kemudian kekebalan yang meluas menghentikan penyebaran penyakit.
Selain tergagap menghadapi pandemi ini, respon Indonesia dalam beberapa bulan terakhir juga dinilai kurang cepat, terkhusus perihal pengetesan Covid-19.
Merujuk Worldometers.info, Indonesia saat ini mengkonfirmasi adanya 144.945 kasus infeksi virus Corona dengan angka kematian mencapai 6.346 jiwa.
Namun, melihat jumlah pengujian yang terbilang sedikit, yakni berada di peringkat ke-83 dari 86 negara menurut statistik dari Our World in Data--proyek nirlaba berbasis di Universitas Oxford--jumlah kasus Corona di Indonesia bisa jauh lebih tinggi.
Sebagai perbandingan, India dan Filipina menguji empat kali lebih banyak per kapita dari Indonesia. Sementara Amerika Serikat menguji 30 kali lebih banyak.
“Kekhawatiran kami belum mencapai puncak, puncaknya bisa datang sekitar Oktober dan mungkin belum selesai tahun ini,” kata Iwan Ariawan, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Ngeri! Calon Saksi di PN Jakarta Barat Dikejar dan Dianiaya, Videonya Viral di Medsos!
-
Jadi Mobil Prabowo Selama KTT di Filipina, Maung Garuda Ternyata Diterbangkan Pakai Airbus TNI AU
-
Nyempil di Antara 320 WNA, Satu WNI 'Alumni' Kamboja Jadi CS Judi Online Markas Hayam Wuruk!
-
Hercules Semprot Amien Rais soal Prabowo-Teddy: Jangan Bicara Kayak Preman Pasar!
-
Menaker Dorong Talenta Muda Jadi Inovator melalui Talent & Innovation Hub
-
Operasi SAR Dukono Ditutup! 3 Pendaki Termasuk 2 WNA Ditemukan Tewas Tertimbun Pasir Vulkanik
-
Tolak Ratusan Miliar dari Jenderal demi Setia ke Prabowo, Hercules: GRIB Itu Petarung!
-
Hercules Ngaku Ditawari Jenderal Ratusan Miliar agar Tak Dukung Prabowo di Pilpres 2024
-
Nobar Persija vs Persib: 13 Titik di Jakpus Dijaga TNI-Polri
-
Terungkap! Ini Alasan Ahmad Dedi Lari Hindari Wartawan Usai Diperiksa KPK Kasus Korupsi Bea Cukai