Politisi Partai Gerindra ini mengatakan hal tersebut sangat mendukung untuk dijadikan bukti bahwa PKI memang berusaha untuk menumpas para jenderal sebagaimana tragedi gerakan 30 September pada 1965 silam.
Dalam kesempatan tersebut Fadli Zon tak luput memperlihatkan sebuah artikel berjudul "Situasi Ibukota Pertiwi dalam Keadaan Hamil Tua". Ia juga menjelaskan secara sekilas apa yang ada pada harian tersebut.
"Ini adalah bukti bahwa PKI melakukan kudeta, dalang dari berbagai peristiwa itu," tegasnya ulang.
Ia juga tidak sepakat apabila peristiwa 30 September 1965 disebut sebagai konflik internal di dalam tubuh angkatan darat atau kudeta merangkak dari Soeharto sebagaimana banyak disebutkan.
Di penghujung videonya, Fadli Zon mengatakan bahwa sejarah harus diluruskan. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pemahaman yang salah kaprah. Apalagi penghapusan bukti-bukti sejarah yang bisa mengungkap kebenaran peristiwanya.
Ia merasa kebijakan pemerintah yang melarang adanya Partai Komunis Indonesia sudah tepat.
"PKI memang berkali-kali melakukan pemberontakan dan saya kira keputusan kita sudah tepat dengan adanya TAP MPRS No.25 Tahun 66 dan UU No.27 Tahun 1999 yang melarang Partai Komunis Indonesia," pungkasnya.
Harian Rakyat 2 Oktober 1965, Koran Propaganda Komunis yang Tak Tahu G30S Telah Gagal
John Rossa dalam bukunya yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal mengulas tentang harian propaganda PKI yang tak tahu gerakan 30 September telah gagal .
Baca Juga: Polri Melarang, FUI Bakal Nobar Film G30 S PKI di Masjid
Organ Propaganda Harian Rakyat tersebut masih menerbitkan tulisan yang penuh dengan agitasi dan karikatur dua hari selepas terjadi gerakan 30 September.
Pada 2 Oktober 1965, harian tersebut masih menerbitkan sebuah koran. Mereka menghasilkan tulisan bermuatan politis, menyangkut pesan-pesan PKI untuk rakyat serta menegaskan siapa musuh dan siapa kawan.
John Rossa menyoroti karikatur dalam Harian Rakyat yang memuat gambar sesosok Jenderal. Di belakangnya terdapat wajah bule memakai topi bendera amerika.
Usut punya usut, karikatur tersebut ternyata menggambarkan ketidaktahuan Harian Rakyat akan kegagalan kudeta gerakan 30 September.
John Rossa dalam bukunya mengatakan bahwa ilmuwan dari Universitas Cornell menduga bahwa karikatur tersebut tidak lain merupakan penegasan dari koran propagandis.
Menurut Harian Rakyat, gerakan 30 September 1965 ini tidak lain adalah kisah sukses menyelamatkan Presiden Soekarno dari Kudeta Dewan Jenderal yang didukung oleh Komandan Tjakrabirawa.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur
-
Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru
-
Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni
-
Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden
-
Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO
-
Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau
-
Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja
-
Gagah! Sapi Kurban 'Kelas Berat' 1 Ton Milik Prabowo Tiba di Masjid Istiqlal
-
Siapa Prihatini Cs? Peneliti yang Diduga Tipu Pakar Dunia di Denmark Ternyata Bukan Dosen Lokal
-
Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, UNY Benarkan Rivaldy dan Prihantini Adalah Alumni