Suara.com - Seorang perawat asal Filipina meninggal karena pengobatan kanker usus besarnya tertunda akibat lockdown saat pandemi Covid-19.
Menyadur Daily Mirror, Rabu (7/10/2020) Anna Fernandez, meninggal dunia di rumahnya bulan lalu pada hari setelah ulang tahun ketujuh putra bungsunya karena penyakit kanker.
Menurut Jennie Navarrette, teman dekat Anna, mengklaim bahwa perawatan ibu dua anak tersebut mengalami penundaan akibat lockdowm saat pandemi Covid-19.
"Dipersenjatai dengan iman yang kuat kepada Tuhan dan dikelilingi oleh keluarga dan teman yang mendukung, dia berani berperang dan telah menjalani pengobatan selama lima tahun." ujar Jennie dikutip dari Mirror.
"Sayangnya, kambuh kembali awal tahun ini. Sejak dunia diganggu oleh Covid-19, penundaan dalam beberapa perawatannya memiliki konsekuensi yang merugikan." ujar Jennie.
Anna, yang tinggal di Birmingham, pertama kali didiagnosis menderita kanker pada usia 38 dan telah mengalami keringanan selama lima tahun, sebelum kambuh awal tahun ini, Birmingham Live melaporkan.
Anna, berasal dari Filipina, bekerja di Unit Stroke dan Unit Medis Akut di Rumah Sakit Heartlands dari tahun 2002 sebelum pindah ke Solihull di mana dia kembali berbasis di AMU.
Anna dirawat di Rumah Sakit Queen Elizabeth dan rumah sakit Heartlands, Inggris tempat dia mendedikasikan bertahun-tahun untuk merawat pasien.
Menurut Jennie, biopsi yang seharusnya diperiksa di Amerika Serikat tidak pernah dikirim dan hasil scan ditahan.
Baca Juga: Tak Pakai Masker di Bus, Gadis Ini Ditendang Kepalanya oleh Penumpang Lain
Anna akhirnya diberitahu bahwa kankernya sudah mematikan dan dia meninggal pada 19 September di rumahnya.
"Dia meninggal pada 19 September, sehari setelah ulang tahun putra bungsunya Andre. Dia meninggal dengan damai di rumah di hadapan keluarga dan teman-teman dekatnya," jelas Jennie.
"Dia meninggalkan suaminya, Paul, dan dua anak yang masih kecil, Gabriel, berusia 13 tahun dan Andre, berusia tujuh tahun. Dia adalah istri yang sangat perhatian, seorang ibu yang menyayangi." sambungnya.
Seorang juru bicara Rumah Sakit Universitas Birmingham NHS Foundation Trust, yang menjalankan QE dan Rumah Sakit Heartlands, mengatakan mereka belum bisa memberikan komentar terkait penundaan perawatan Anna.
"The Trust menyampaikan belasungkawa yang tulus dan mendalam kepada suami Anna, Paul, dan keluarga muda mereka atas kehilangan yang tragis." kata pihak NHS Trust.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam