Pandemi yang merenggut nyawa seperempat juta rakyat AS jelas menjadi faktor yang paling merusak citra Trump ketika ketidakpedulian dia terhadap pandemi ini berseberangan dengan sikap bagian terbesar rakyat AS.
Hal ini terlihat dari besarnya jumlah pemilih yang melakukan pemungutan suara dini (early voting), khususnya yang melakukan melalui pos. Mereka ini kentara berseberangan dengan Trump dalam melihat ancaman pandemi dengan tak mau mendatangi TPS karena khawatir menciptakan kerumunan yang bisa menjadi sumber penyebaran Covid-19. Mereka jelas tak memilih Trump.
Jumlah pemilih lewat pos ini, menurut US Elections Project, mencapai 65,2 juta pemilih atau 64 persen dari jumlah pemilih pemungutan suara dini yang mencapai 101,4 juta pemilih. Sedangkan jumlah pemilih early voting sendiri mencapai 63 persen dari total pemilih pemilu kali ini yang menurut Bloomberg mencapai 161 juta pemilih.
Sebelum 3 November, banyak kalangan meyakini Biden bakal menang karena tingginya pemungutan suara dini ini, khususnya suara lewat pos yang sebagian besar memang tidak mendukung Trump.
Dan Biden memang menang. Kemenangannya pun paripurna karena unggul baik dalam suara elektoral maupun popular vote. Dia merebut tujuh dari 12 negara bagian suara mengambang termasuk Georgia, Pennsylvania, Arizona, Michigan, dan Wisconsin yang dimenangkan Trump pada 2016.
Namun kemenangan meyakinkan seperti diperoleh mantan atasannya Barack Obama pada Pemilu 2008 dan 2012 itu sepertinya tak menjamin jalan yang akan dilalui Biden bakal mulus. Sebaliknya, jalan terjal sudah terbentang untuk dilalui selama empat tahun pertama pemerintahannya.
Ini karena, pascapemilu paling memecah belah AS ini, Biden tak cuma dipaksa merangkul semua spektrum politik dalam partainya, termasuk bagian paling kiri. Dia juga makin dipaksa lebih ke tengah demi hubungan lebih baik dengan segmen moderat Republik, pemilih non progresif dan independen, selain juga mengakomodasi suara kanan moderat.
Biden harus menerima kenyataan bahwa hampir separuh penduduk AS mendukung pandangan nasionalis kulit putih otoriterian ala Donald Trump sampai mereka tidak berkeberatan dengan pandangan kasar dan sexisme Trump yang melabrak birokrasi pemerintahan dan nilai-nilai tradisional Amerika seperti fair play, supremasi hukum serta kebebasan pers, selain meruntuhkan lembaga-lembaga ketatakelolaan baik di dalam maupun di luar AS.
Dulu Republik berharap tak apa-apa mengantarkan Trump berkuasa karena mereka yakin begitu masuk Gedung Putih, Trump tak akan liar lagi dan akan bertransformasi menjadi negarawan.
Baca Juga: Gedung Putih Dipadati Pendukung Biden Rayakan Kemenangan
Harapan itu tak terwujud. Yang terjadi malah sebaliknya. Trump kian sulit dikendalikan dan melabrak kemapanan serta siapa pun kecuali konstituennya, padahal presiden bukan hanya memerintah konstituennya tetapi juga memerintah mereka yang tidak memilih dia. (Sumber: Antara)
Berita Terkait
-
Gedung Putih Dipadati Pendukung Biden Rayakan Kemenangan
-
Kalah Suara, Presiden Petahana Donald Trump Gugat ke Pengadilan
-
Ribuan Pendukung Biden Rayakan Kemenangan di Sekitar Gedung Putih
-
Leganya Investor di Amerika, Rayakan Kemenangan Joe Biden di Pilpres AS
-
Kantongi 273 Suara Elektoral, Biden Pecundangi Trump di Pilpres AS
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN