News / Nasional
Selasa, 08 Desember 2020 | 11:16 WIB
Habib Rizieq Shihab (HRS) menyapa massa yang menjemputnya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (10/11/2020). [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal]

Munarman kemudian menyontohkan salah satu perilaku yang dianggap membahayakan dalam berlalu lintas, saat melintasi tol Cikunir. Mobil yang dikendarai Habib Hanif, katanya, dipepet sebuah mobil jenis SUV berwarna hitam, pengendara mobil tersebut buka kaca dan mengulurkan tangannya yang penuh tato ke arah mobil Habib Hanif sambil mengacungkan jari tengahnya. Namun mobil tersebut berhasil dijauhkan oleh mobil laskar pengawal dan digiring keluar dari dalam jalan tol.

Setelah itu, kata Munarman, ada beberapa mobil lainnya yang juga terus mengintai dari belakang, namun selalu dicegah mobil yang ditumpangi laskar agar tidak mendekat dan masuk ke dalam rombongan konvoi.

Situasi semakin menegangkan. Senin (7/12/2020), sekitar jam 00.10 WIB, setelah exit tol Karawang Timur, ada tiga mobil penguntit yang disebutkan Munarman terus menerus berusaha masuk ke dalam konvoi, mepet, mengintai, dan mengikuti rombongan Habib Rizieq.

Ketika itu, Habib Hanif terus memandu semua rombongan agar tetap waspada dan hati hati.

Tiga mobil penguntit tersebut berhasil dijauhkan oleh dua mobil berisi laskar yang posisinya paling belakang, salah satunya Chevrolet yang memuat enam laskar -- keenam laskar ini yang kemudian meninggal.

Dua mobil laskar pengawal Habib Rizieq yang berada di posisi paling belakang rombongan berhasil menjauhkan para penguntit dan penggangu tersebut sehingga rombongan keluarga Habib Rizieq berhasil menjauh dari para penguntit yang menggunakan tiga mobil.

Setelah rombongan keluar pintu tol Karawang Timur, salah satu mobil laskar berjenis Avanza dipepet, namun kemudian berhasil lolos dan menuju arah pintu tol Karawang Barat, lalu masuk ke tol arah Cikampek dan beristirahat di rest area kilometer 57.

"Sedangkan mobil laskar khusus DKI (Chevrolet) saat mengarah ke pintu tol Karawang Barat berdasarkan komunikasi terakhir, dikepung oleh tiga mobil pengintai kemudian diserang," kata Munarman.

Ketika itu, salah seorang laskar yang berada di mobil Avanza yang tengah beristirahat di kilometer 57 terus-menerus berkomunikasi dengan Sufyan alias Ambon. Sufyan merupakan laskar yang berada dalam mobil Chevrolet. Telpon ketika itu terus tersambung.

Baca Juga: Tanggapi Kematian 6 Laskar FPI, Cak Nun Tunggu Dialog Jokowi-Habib Rizieq

Dikatakan Munarman, informasi dari laskar yang berada di mobil Chevrolet melalui sambungan telepon bahwa ketika Chevrolet dikepung, Ambon mengatakan "tembak sini tembak " mengisyaratkan ada yang mengarahkan senjata kepadanya dan setelah itu terdengar suara rintihan laskar yang kesakitan seperti tertembak. Sufyan meminta laskar lain untuk terus berjalan.

Begitu pula ketika Faiz (salah satu laskar yang ada di mobil Chevrolet) saat dihubungi oleh salah satu laskar yang mengikuti rombongan Habib Rizieq, terdengar ada suara orang yang kesakitan seperti habis tertembak. Dan seketika itu telpon juga terputus, kata Munarman.

Munarman mengungkapkan, enam orang laskar yang ada dalam mobil Chevrolet sampai Senin siang hari tidak dapat dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya.

Enam laskar itu bernama Andi Oktiawan (33), Ahmad Sofyan alias Ambon (26), Faiz Ahmad Syukur (22), Muhammad Reza (20), Lutfi Hakim ((25), Muhammad Suci Khadavi (21).

Munarman juga mengungkapkan ketika laskar yang menggunakan mobil Avanza istirahat di kilometer 57, mereka diintai, bahkan ada drone yang diterbangkan di atas mereka. Setelah satu jam lebih mereka istirahat, mereka beranjak menuju markas FPI Karawang melalui akses pintu tol Karawang Barat.

Ketika memasuki pintu tol Karawang Barat, tim laskar itu tidak menemukan apapun di lokasi yang diperkirakan menjadi tempat kejadian perkara "serangan terhadap rombongan laskar di mobil Chevrolet."

Namun dalam perjalanan menuju markas FPI Karawang, kata Munarman, laskar yang menggunakan mobil Avanza itu diikuti, namun berhasil lolos melalui jalan kampung.

Sampai Senin pukul 12.00 WIB, kata Munarman, tim FPI masih mencari keberadaan enam laskar di mobil Chevrolet di berbagai rumah sakit dan tempat-tempat lainnya.

"Sampai saat itu kami belum mengetahui keadaan dan keberadaan enam laskar tersebut," kata Munarman.

Sampai akhirnya, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Fadil Imran melakukan konferensi pers dan memberikan informasi bahwa enam laskar tersebut ditembak mati, barulah FPI mengetahui kondisi rekan-rekan mereka.

Munarman menekankan apa yang disampaikan oleh kepolisian dalam konferensi pers itu sangat berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan.

"Perlu kami tegaskan bahwa tidak benar laskar pengawalan melakukan penyerangan. Yang terjadi justru rombongan IB HRS yang diganggu dan terancam keselamatannya serta diserang.  Bahwa tidak benar laskar memiliki senjata api dan melakukan penembakan. Karena laskar FPI tidak ada yang dibekali atau membekali diri dengan senjata apapun juga," kata Munarman.

Munarman mempertanyakan  tindakan para penguntit yang membahayakan keselamatan berlalu lintas yang disebut Munarman sama sekali tidak mencerminkan tindakan dan perilaku sebagai aparat hukum. "Tidak juga menunjukkan identitas sebagai aparat hukum."

"Patut untuk dipertanyakan, apabila benar terjadi peristiwa tembak menembak, berapa orang dari aparat yang diakui sebagai petugas hukum tersebut yang terkena tembakan? Adalah aneh, disebut peristiwa tembak menembak, namun tidak ada satu peluru pun yang mengenai pihak yang diakui sebagai petugas, namun justru enam orang laskar meninggal terkena tembakan semua," katanya.

DPP FPI menilai bahwa tindakan penguntitan dan gangguan terhadap Habib Rizieq hingga penembakan  terhadap enam orang laskar adalah terencana, sistematis, dan memiliki struktur komando.

FPI menuntut penjelasan yang transparan mengenai kejadian tersebut.

"Kami juga menuntut untuk segera jenazah diserahkan kepada pihak keluarga melalui kuasa hukum keluarga yang sudah ditunjuk."

Bantah rekayasa

Sementara menurut versi kepolisian, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Fadil Imran mengatakan anggota polisi yang lebih dulu diserang laskar.

"Tadi pagi sekitar pukul 00.30 WIB di jalan tol Jakarta-Cikampek kilometer 30, penyerangan terhadap anggota polisi yang sedang melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemeriksaan MRS (Muhammad Rizieq Shihab) yang dijadwalkan berlangsung hari ini jam 10.00 WIB," kata Fadil di Polda Metro Jaya, kemarin.

Ketika itu, polisi sedang menyelidiki informasi yang tersebar lewat aplikasi pesan singkat mengenai adanya pengerahan massa untuk mengawal Habib Rizieq yang rencananya diperiksa hari Senin itu di Polda Metro Jaya. Habib Rizieq akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

Dari informasi itu, petugas melakukan penelusuran. Hingga kemudian petugas mengikuti kendaraan di jalan tol yang ketika itu diduga pengikut Habib Rizieq.

"Kendaraan petugas dipepet, lalu kemudian diserang. Dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam sebagaimana yang rekan rekan lihat di depan ini," kata Fadil.

"Anggota yang terancam keselamatan jiwanya karena diserang melakukan tindakan tegas terukur sehingga terhadap kelompok yang diduga pengikut MRS berjumlah sepuluh orang. Kelompok MRS yang melakukan penyerangan dan meninggal dunia sebanyak enam orang," kata dia.

"Terhadap kelompok MRS yang melakukan penyerangan kepada kepada anggota dilakukan tindakan tegas dan meninggal dunia sebanyak enam orang."

Tidak ada korban jiwa maupun luka dari pihak kepolisian, hanya ada kerugian materi dari sebuah kendaraan rusak karena dipepet serta terkena tembakan dari kelompok yang melakukan penyerangan, kata Fadil.

Fadil mengatakan ada 10 orang yang melakukan penyerangan, namun empat orang melarikan diri usai petugas menembak mati enam orang.

Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut dan melakukan pengejaran terhadap pelaku.

Dalam konferensi pers tadi, Fadil juga menyatakan akan menindak tegas pengikut Habib Rizieq yang berupaya menghalang-halangi penyidikan proses hukum terkait kerumunan massa.

"Saya dan Pangdam Jaya mengimbau kepada MRS dan pengikutnya untuk tidak menghalang-halangi proses penyidikan," kata Fadil.

Fadil menegaskan tindakan tersebut adalah perbuatan melawan hukum dan petugas tidak akan segan untuk melakukan tindakan tegas dan terukur terhadap aksi tersebut sesuai aturan yang berlaku.

"Tindakan tersebut adalah tindakan melanggar hukum dan dapat dipidana, dan apabila tindakan menghalangi petugas membahayakan jiwa petugas, saya bersama Pangdam tidak akan akan ragu melakukan tindakan tegas," kata mantan kapolda Jawa Timur.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat menambahkan petugas memiliki barang bukti berupa voice note. Dari voice note, katanya, menunjukkan kalau laskar yang sedang mengawal Habib Rizieq sudah mengetahui tengah dikuntit kendaraan polisi di jalan tol.

"Voice note itu, bagaimana ceritanya, sudah sangat diketahui oleh yang bersangkutan (laskar), bahwa itu anggota kita dan kemudian tetap dilakukan upaya-upaya penyerangan oleh pihak mereka. Itu nyata dan tidak dikarang-karang, terlihat, terdengar di dalam voice note tersebut. Itu fakta-faktanya," kata Tubagus.

Keterangan Tubagus menyebutkan laskar yang melakukan penyerangan terlebih dahulu.

"Kalau mau pergi pengajian pergi saja pengajian dan kita juga tidak melakukan apa pun. Faktanya kita diserang dan faktanya voice notenya seperti itu," kata Tubagus.

Meski FPI telah membantah laskar membawa senjata api, Tubagus menegaskan petugas memiliki barang bukti.

"Sudah tahu itu adalah mobil Polri dan tidak juga melakukan apapun, tetapi dilakukan proses penyerangan. Itu faktanya dan didapatkan senjata tajam dan senjata api," katanya.

Load More