Suara.com - Beberapa peretas atau hacker mendapat penghasilan sebesar $40 juta (Rp576,6 miliar) - sebuah rekor - dengan mencari-cari kelemahan dalam perangkat lunak.
Mereka kemudian melaporkan galat atau bug itu melalui salah satu layanan pelaporan galat ternama HackerOne. Jasa pencarian galat dengan imbalan hadiah ini disebut bug bounty.
HackerOne mengatakan sembilan hacker masing-masing mendapatkan lebih dari $1 juta (Rp14,4 miliar) setelah melaporkan temuan mereka ke organisasi terdampak.
Seorang pria Romania, yang baru saja mulai berburu galat atau bug-hunting dua tahun lalu, menyaksikan pendapatan totalnya sejauh ini mencapai $2 juta. Hacker berpenghasilan terbesar di Inggris mendapat $370.000 (Rp5,3 miliar) tahun lalu.
- Telkomsel 'minta maaf' setelah situs resminya diretas
- Peretasan situs Kejaksaan Agung dan Dewan Pers masih diselidiki
- Data jutaan WNI diduga dibobol peretas dari KPU, 'bisa disalahgunakan untuk kejahatan siber'
Platform tersebut mengatakan pandemi memberi para relawan lebih banyak waktu untuk melakoni pekerjaan itu.
Survei yang diprakarsai HackerOne mengindikasikan bahwa 38% partisipan menghabiskan lebih banyak waktu untuk meretas sejak wabah Covid-19 dimulai.
'Gemetaran'
Banyak dari hacker yang terlibat bekerja paruh-waktu dan berbasis di puluhan negara berbeda, termasuk AS, Argentina, Cina, India, Nigeria, dan Mesir.
Besaran uang yang diberikan tergantung pada keparahan galat, mulai dari sekitar $140 sampai jauh lebih besar.
HackerOne, yang berbasis di California, mengenakan biaya langganan pada perusahaan yang menggunakan platform-nya.
Baca Juga: Kelompok Peretas Sukses Bobol Sistem Keamanan Kamera di Gudang Tesla!
Seorang bug bounty-hunter asal Inggris, Katie Paxton-Fear, yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di Universitas Metropolitan Manchester, mengatakan ia berburu galat saat waktu luang.
Walaupun duitnya lumayan, ia berkata ini bukan aktivitas yang bikin cepat kaya.
"Saya dapat sekitar £12.000 (Rp240,4 juta) dalam 12 bulan," ungkapnya kepada BBC.
"Saya ingat menemukan galat pertama saya dan benar-benar gemetaran dan menyadari: 'Wow saya baru saja menyelamatkan banyak orang dari cacat yang cukup besar'."
"Saya tidak hanya menggunakan waktu saya untuk memenangkan hadiah, saya secara aktif membantu mengamankan aplikasi yang saya pakai, jadi bagi saya ini tantangan sekaligus kesempatan untuk berbuat baik."
Platform serupa yang disebut YesWeHack, berbasis di Prancis, mengatakan 22.000 hacker mereka telah melaporkan dua kali lipat jumlah galat pada 2020 daripada tahun sebelumnya.
Mereka tidak mengungkap berapa banyak hadiah uang yang dihasilkan melalui layanannya.
"Mengingat risiko baru dan pentingnya keamanan siber dalam keberlangsungan ekonomi perusahaan, semakin banyak petugas keamanan informasi yang mengandalkan para bug bounty," kata kepala eksekutif YesWeHack Guillaume Vassault- Houlière.
Platform lainnya, BugCrowd, mengatakan mereka menerima peningkatan pelaporan sebesar 50% dalam 12 bulan terakhir.
Skeptis
Program bug bounty komersial semakin populer dalam lima tahun terakhir, namun beberapa pakar berpikir bahwa ada kekurangan dalam sistem program itu sendiri jika ia terlalu diandalkan.
Periset keamanan Victor Gevers, yang memimpin GDI Foundation di Belanda, mengatakan ia tidak pernah menerima uang untuk galat yang ia temukan.
"Kami tidak ikutan dalam bug bounty karena kadang-kadang mereka terlalu sempit dalam cakupannya dan hanya memberi izin untuk mencari galat di tempat-tempat tertentu dalam sistem mereka," ujarnya.
"Kami ingin bisa mencari kelemahan secara etis di tempat yang kami mau, dan mempertahankan independensi kami.
"Tetapi untuk mahasiswa atau peneliti keamanan pemula, maka platform bug bounty komersial ini sangat bagus karena mereka memberikan banyak perlindungan, sumber daya, serta merupakan tempat yang pas untuk memulai."
Berita Terkait
-
Cara SIG Lindungi Infrastruktur Vital Perusahaan dari Serangan Hacker
-
Waspada Penipuan Online Mengaku Hacker, Polisi, dan Hitmen, Siap Ancam Sebar Data Pribadi!
-
Celah Keamanan Fatal: Peretas Bisa Kendalikan Mobil dari Jarak Jauh!
-
Menkeu Purbaya Mau Hilangkan Pihak Asing di Coretax, Pilih Hacker Indonesia
-
Bayar Hacker untuk Tes Sistem Pajak Coretax, Menkeu Purbaya: Programmer-nya Baru Lulus SMA
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
Terkini
-
SPinjam Luncurkan JELAS TANPA JEBAKAN, Anda Bisa Pilih Pinjaman Daring Bunga Rendah dan Transparan
-
Fakta-fakta Penembakan Renee Good oleh Petugas ICE dan Gelombang Protes di AS
-
Seleksi PPPK Kemenag 2026: Prediksi Jadwal, Materi dan Tahapannya
-
SPPG Klarifikasi Video Viral MBG Bungkus Plastik
-
Dermaga Halte Buaran Diseruduk Kendaraan Pribadi, TransJakarta Koridor 11 Terpaksa Alihkan Rute
-
Cuaca Senin Pagi: Jakarta Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang, Cek Daftar Wilayah Terdampak!
-
Laporan PRISM 2025 Sebut Jakarta Jadi Kota Paling Diminati Sepanjang 2025
-
4 Poin Utama Rapat Terbatas Prabowo di Hambalang: Dari Industri Tekstil hingga Chip Masa Depan
-
Kecupan Hangat Puan dan Prananda untuk Megawati: Sisi Lain Kekeluargaan di Balik Rakernas PDIP 2026
-
Logika KPK: Staf Tak Mungkin Punya Rp4 M, Direksi Wanatiara Otak Suap Pajak?