Suara.com - Epidemiolog dari Universitas Indonesia mewanti-wanti terjadinya "penularan Covid-19 yang dahsyat" dengan dibolehkannya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan seperti buka puasa bersama, shalat tarawih, dan aktivitas berbelanja, di tengah menurunnya kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan.
Pasalnya tiga pekan terakhir, kasus Covid-19 di Indonesia sudah mengalami peningkatan yakni di atas angka 5.000 kasus setiap hari dan hal itu kata epidemiolog menjadi tanda-tanda yang harus diwaspadai.
Menanggapi kondisi itu, Kementerian Kesehatan mengatakan telah mengingatkan Satgas daerah agar mulai mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus dengan mengikuti aturan dalam PPKM skala mikro.
- Covid di India: Menjawab pertanyaan pembaca BBC soal gelombang kedua dan penanganan pandemi
- Covid di India: Australia ancam penjara dan denda warganya yang kembali dari India, mengapa mereka dilarang pulang?
- Covid di India: Cerita perawat yang berjuang selamatkan pasien virus corona 'hingga napas terakhir mereka'
Pasar terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang, di Jakarta Pusat diserbu oleh setidaknya 100 ribu pengunjung pada Minggu (02/05), menurut catatan Gubernur Anies Baswedan yang mendatangi lokasi pasar.
Lonjakan pengunjung ini mulai terjadi pada Sabtu (01/02) lalu atau sepekan jelang Lebaran.
Meningkatnya aktivitas masyarakat di bulan Ramadhan seperti berbelanja, buka puasa bersama dan shalat tarawih berpotensi memicu klaster penularan baru, kata seorang epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono.
Apalagi, katanya, kepatuhan masyarakat menerapkan protokol kesehatan saat ini semakin rendah.
"Kegiatan berberlanja atau aktivitas selama Ramadhan bukan cuma di Tanah Abang tapi hampir semua pusat perbelanjaan ramai. Kalau mengabaikan 3M, maka peluang untuk terjadi penularan itu yang harus dijaga," imbuh Pandu Riono kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (02/05).
Kendati ia menilai lonjakan kasus Covid-19 tidak akan separah India, tapi berpotensi untuk terjadi "penularan Covid-19 yang dahsyat" jika tingkat penularan tinggi, mutasi virus corona naik di atas 50%, dan tanpa didukung dengan pengetesan dan pelacakan yang mumpuni.
Baca Juga: Korban Keracunan Massal Bukber di Magetan Meninggal
Karena itulah ia meminta pemerintah daerah dan terutama Presiden Jokowi agar terus mengedukasi masyarakat untuk tetap mematuhi 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
Khusus untuk tempat perbelanjaan diatur dengan cermat.
"Yang penting sirkulasi udara terbuka. Kalau enggak nanti susah. Karena kerumunan biasanya meningkatkan risiko bila di ruang tertutup."
"Minimal pembeli dan penjual pakai masker, itu akan mengurangi diriko."
"Sebab pandemi terkendali bukan karena vaksin, tapi 3M dan 3T [Testing, Tracing, dan Treatment]."
Seperti apa situasi di Pasar Tanah Abang?
Pasar Tanah Abang menjadi sorotan karena membludaknya pengunjung pada Sabtu (01/02) lalu.
Saat BBC News Indonesia mendatangi lokasi, sangat mustahil menerapkan protokol kesehatan dengan baik, terutama dalam menjaga jarak.
Terlihat petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP berjaga di luar dan dalam pasar.
Di tiap pintu masuk, aparat membatasi pengunjung yang akan berbelanja. Tapi hal itu justru memicu kerumunan, sebab orang-orang berebut untuk bisa masuk lebih dahulu.
Di dalam pasar, kondisinya tak jauh berbeda. Posisi antar-toko yang berdempetan dan terbuka serta jalur lalu lintas yang sempit, membuat pembeli dan pedagang saling berhimpitan.
Beberapa pedagang, ada yang terlihat tidak memakai masker dengan benar, tapi tak ditegur petugas yang hanya berjaga di dekat pintu masuk dan keluar.
Petugas dari Satpol PP pun hanya sesekali mengimbau untuk tetap menerapkan protokol kesehatan melalui pengeras suara.
Seorang pedagang, April mengaku ada rasa khawatir tertular virus corona melihat kondisi tersebut. Tapi ia dilema, jika tak berjualan, tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau enggak kerja, enggak bisa makan. Enggak dapat penghasilan. Tahun lalu Pasar Tanah Abang ditutup, kita enggak bisa apa-apa. Penghasilan menurun. Jadi mau enggak mau harus kerja," imbuhnya.
April juga mengatakan, pandemi menggerus pendapatannya hingga 80%. Kalau sebelum pandemi ia bisa mengantongi hingga Rp25 juta sehari, tapi kini hanya Rp6 juta.
Pedagang lainnya, Nisa, juga bercerita akibat pandemi omsetnya turun jauh. Kalau tahun 2019 ia bisa mendapatkan Rp40 juta sampai Rp50 juta sehari, sekarang tak sampai Rp15 juta.
"Kalau khawatir, ya khawatir. Karena kita jualan ketemu konsumen dan tidak tahu apakah dia membawa virus atau tidak. Tapi kalau kita enggak jualan, kita enggak makan," ujar Nisa.
Pengunjung yang datang ke Pasar Tanah Abang berasal dari berbagai daerah dan membludak pada Sabtu dan Minggu kemarin.
Pantauan pengelola Pasar Tanah Abang, jika di hari biasa diperkirakan ada 35 ribu pengunjung, tapi akhir pekan lalu melonjak hingga 87 ribu hingga 100 ribu orang.
Riska warga Kota Bekasi, Jawa Barat. Setiap kali menjelang Lebaran, ia selalu mengunjungi Pasar Tanah Abang. Meski pandemi, tapi tak menyurutkan niatnya untuk datang ke sini.
"Sebenarnya ada rasa khawatir, cuma kebutuhan sih. Kalau belanja online, enggak puas. Yang penting Wallahu a'lam. Kalau fisik kuat, imun kuat, Insya Allah enggak ada."
Santi, warga Kabupaten Bekasi, juga senada. Berbekal masker dan cairan pembersih tangan, ia merasa sudah cukup terlindungi.
Apa tanggapan pemerintah?
Data yang dihimpun Satgas Penanganan Covid-19, kasus harian virus corona di Indonesia rata-rata 5.000 setiap hari.
Jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Jakarta juga meningkat dalam tiga pekan terakhir.
Koordinator Humas RS Darurat Wisma Atlet, M Arifin, mengatakan total pasien yang dirawat mencapai 1.600 orang. Hal itu, katanya, disebabkan tingginya mobilitas masyarakat.
Juru bicara Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan Satgas daerah harus mulai mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus seiring munculnya klaster tarawih dan buka puasa bersama termasuk di pusat perbelanjaan seperti Tanah Abang.
Merujuk pada aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro, pusat perbelanjaan tidak boleh melebihi kapasitas 50% agar tidak menimbulkan kerumunan.
"Tentunya hal ini menjadi evaluasi kita dengan apa yang terjadi di Tanah Abang, kapasitas pengunjung melebihi bahkan terlihat kerumunan. Ini peringatan untuk Satgas di daerah. Artinya penerapan protokol kesehatan harus dilaksanakan."
"Kalau perlu harus ditutup dalam jangka waktu tertentu agar bisa dilakukan pengaturan yang lebih baik."
"Apalagi Tanah Abang pintu masuknya banyak. Ini harus dilakukan pengaturan pintu, masuk mana yang boleh dibuka."
Sedangkan untuk aktivitas buka puasa bersama, Nadia mengimbau agar dilakukan secara virtual. Kalaupun tidak bisa, maka harus menjaga jarak.
Begitu pula dengan shalat tarawih.
"Melaksanakan ibadah tidak wajib dilakukan secara jamaah kalau situasi keselamatan orang banyak menjadi ancaman."
Hal lain yang akan ditingkatkan Kemenkes adalah menguatkan dan memperbanyak pengetesan dan pelacakan kasus secara dini dengan bantuan Bintara Pembina Desa atau Babinsa.
Berita Terkait
-
Bosan dengan Hiruk Pikuk Kota? Temukan Oase Ketenangan Ramadan di Pinggir Pantai Dekat Jakarta
-
Momen Langka: Anies Baswedan, Puan hingga Sufmi Dasco Bertemu di Bukber Partai NasDem
-
Hari Pertama Ramadan, Masjid Istiqlal Siapkan 3.500 Nasi Box untuk Buka Puasa Bersama
-
7 Contoh Kata-kata Undangan Buka Puasa Bersama, dari Formal hingga Santai
-
Masjid Gedhe Kauman Siapkan 1.500 Takjil Setiap Hari, Gulai Kambing Jadi Menu Wajib Tiap Kamis
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Geger Mobil Dinas Rp8,5 M, Golkar "Semprot" Gubernur Kaltim: Ukur Kondisi Rakyat
-
Kecewa Tak Ditemui Kapolri, BEM UI dan Aliansi Mahasiswa Ancam Gelar Aksi Lebih Besar
-
Diskon Besar hingga Transportasi Gratis! Ini Fasilitas Mudik ke Jakarta yang Ditawarkan Pemprov DKI
-
Amnesty International Anggap Tuntutan Jaksa Terhadap Delpedro Cs Sebagai Operasi Pembungkaman Kritik
-
Anies Baswedan Soroti Keberhasilan Gerakan Rakyat di Ultah Pertama: Bukan Sekadar Papan Nama!
-
Heboh Keluhan Warga Diwajibkan Bayar Infaq Lewat BAZNAS DKI, Pramono: Tak Boleh Ada Pemaksaan!
-
Angka Perkawinan Anak Turun ke 5,9 Persen, Pemerintah Soroti 380 Ribu Nikah Tak Tercatat
-
Dituntut 2 Tahun Penjara Terkait Demo Agustus, Syahdan Husein Soroti Kasus Aparat Bunuh Anak di Tual
-
Gus Ipul Bocorkan Rencana Kemensos untuk Jangkau Ratusan Ribu Lansia dapat MBG Tahun Ini
-
KPK Ungkap Modus Budiman Bayu Sembunyikan Uang Gratifikasi Rp5,19 Miliar