Suara.com - Tiga peneliti dari Institut Virologi Wuhan (WIV) China mencari perawatan di rumah sakit pada November 2019, sebulan sebelum China melaporkan kasus pertama COVID-19, menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu (23/5/2021), mengutip laporan intelijen Amerika Serikat.
Surat kabar itu mengatakan laporan yang sebelumnya dirahasiakan tersebut - yang memberikan rincian baru tentang jumlah peneliti yang terkena dampak, waktu penyakit mereka, dan kunjungan ke rumah sakit - dapat menambah bobot dalam seruan untuk penyelidikan yang lebih luas apakah virus COVID-19 kemungkinan bocor dari laboratorium.
WSJ mengatakan pejabat saat ini dan mantan yang mengetahui intelijen mengungkapkan berbagai pandangan tentang kekuatan bukti pendukung laporan, dengan satu orang yang tidak disebutkan namanya mengatakan itu membutuhkan "penyelidikan lebih lanjut dan pembuktian tambahan."
Kasus pertama dari apa yang pada akhirnya akan dikenal sebagai COVID-19 dilaporkan pada akhir Desember 2019 di Kota Wuhan di China tengah, lokasi laboratorium canggih yang berspesialisasi dalam penelitian virus corona.
Ilmuwan dan pejabat China secara konsisten membantah hipotesis kebocoran laboratorium, dengan mengatakan SARS-CoV-2 mungkin telah beredar di wilayah lain sebelum menyebar di Wuhan, dan bahkan mungkin telah memasuki China dari negara lain melalui pengiriman makanan beku impor atau perdagangan satwa liar.
Juru bicara kementerian luar negeri China, Zhao Lijian, mengatakan pada Senin bahwa "sama sekali tidak benar" bahwa tiga anggota staf di WIV jatuh sakit.
"Amerika Serikat terus meningkatkan teori kebocoran laboratorium," katanya. "Apakah itu peduli dengan keterlacakan atau hanya mencoba mengalihkan perhatian?"
Laporan WSJ itu muncul pada malam pertemuan badan pembuat keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang diperkirakan akan membahas tahap penyelidikan selanjutnya tentang asal-usul COVID-19.
Saat diminta pendapatnya tentang laporan tersebut, juru bicara WHO Tarik Jasarevic mengatakan melalui surat elektronik bahwa tim teknis organisasi sekarang sedang memutuskan langkah selanjutnya. Dia mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan tentang peran pasar hewan serta hipotesis kebocoran laboratorium.
Baca Juga: Mantan Direktur CDC Ini Yakin Covid-19 Lolos dari Laboratorium Wuhan
Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS tidak mengomentari laporan itu tetapi mengatakan bahwa pemerintahan Biden terus memiliki "pertanyaan serius tentang hari-hari awal pandemi COVID-19, termasuk asal-usulnya di Republik Rakyat China."
Dia mengatakan pemerintah AS sedang bekerja dengan WHO dan negara-negara anggota lainnya untuk mendukung evaluasi berbasis ahli tentang asal-usul pandemi "yang bebas dari campur tangan atau politisasi."
"Kami tidak akan membuat pernyataan yang membuat penghakiman awal atas kajian WHO yang sedang berlangsung atas sumber SARS-CoV-2, tetapi kami jelas menyampaikan bahwa teori yang masuk akal dan secara teknis dapat dipercaya harus dievaluasi secara menyeluruh oleh para ahli internasional," katanya.
Sebuah penelitian bersama tentang asal-usul COVID-19 oleh WHO dan China yang diterbitkan pada akhir Maret mengatakan virus itu "sangat tidak mungkin" bocor dari laboratorium.
Tetapi China dituduh gagal mengungkapkan data mentah tentang kasus awal COVID-19 kepada tim WHO, dan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Barat lainnya meminta Beijing untuk memberikan "akses penuh" kepada para ahli independen.
Lembar fakta Departemen Luar Negeri yang dirilis menjelang akhir pemerintahan Trump mengatakan "pemerintah AS memiliki alasan untuk percaya bahwa beberapa peneliti di WIV jatuh sakit pada musim gugur 2019, sebelum kasus wabah pertama yang diidentifikasi, dengan gejala yang konsisten dengan baik COVID- 19 dan penyakit musiman yang umum." Laporan itu tidak menyebutkan jumlah peneliti. (Sumber: Antara/Reuters)
Berita Terkait
-
Cerita Pasutri Asal Subang Kabur Saat Hendak Diisolasi di Wisma Atlet
-
PPKM Mikro di Balikpapan Diperpanjang hingga 6 Juni, Zona Kuning Meningkat
-
Pria di Bali Tewas Setelah Suntik Vaksin AstraZeneca Ternyata Penjahit
-
Tambah 819 Pasien, Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta 424.828
-
Terjaring Operasi Tes Swab, Pasutri Kabur Saat Mau Diisolasi di Wisma Atlet
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
Wamensos Tekankan Peran Strategis Kepala Sekolah Rakyat dalam Mendorong Perubahan
-
Perjalanan Menuju Candi Prambanan, Prabowo dan PM Narendra Modi Satu Helikopter
-
Asal-usul Isi Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut Raja Juli, Ternyata Hasil 'Peras' 914 Petani KUD
-
3 Pekerja Daycare Little Aresha Masih Jadi Saksi, Akankah Menyusul Jadi Tersangka?
-
Kenaikan Tarif Transjakarta Hanya Sasar Warga Mampu, 15 Golongan Tetap Gratis
-
Alarm Jelang MPLS, Mayoritas Kepala Sekolah Rakyat Belum Siap Jalankan Tahun Ajaran Baru
-
Tugasnya Hanya Melambaikan Bendera, 1.000 Siswa Dikerahkan Sambut Prabowo-Modi di Yogyakarta
-
Istri Menteri PU Ikut ke NY Pakai Paspor Diplomatik, Ini Bedanya dengan Paspor Dinas dan Biasa
-
Marak Pencurian Besi Lagi di Jakarta, Pramono Ancam Cabut KJP hingga Tak Cairkan Bansos Pelaku
-
Terpaksa Harus Naik, Biaya Haji 2027 Diusulkan Jadi Rp107 Juta