Suara.com - Ketika lockdown COVID-19 dilonggarkan, Spanyol melanjutkan tradisi adu banteng dan kembali mengobarkan debat politik yang memanas antara kelompok sayap kanan yang mempertahankan tradisi itu dan kelompok kiri yang mengutuk kegiatan itu sebagai kekejaman terhadap hewan.
Sebelum lockdown COVID-19 membuat arena adu banteng di Spanyol sepi mencekam dan ratusan orang kehilangan pekerjaan, adu hewan tersebut telah mengalami penurunan. Ini sebagian besar disebabkan oleh tentangan dari sejumlah gerakan hak-hak hewan yang berpengaruh dan beberapa organisasi berhaluan kiri yang menolak untuk membayar festival banteng.
Alfred Bosch, mantan anggota parlemen Spanyol mengemukakan. “Warga di seluruh Eropa punya hak penuh untuk mengetahui bahwa mereka turut membiayai ini. Mereka membayar untuk ‘pesta’ ini. Mereka kemudian dapat dengan bebas memutuskan apakah mereka ingin terus membayar dengan uang pajak atau lebih memilih prioritas lain.”
Uni Eropa memberi subsidi untuk meningkatkan ekonomi wilayah pedesaan sekaligus membantu para petani melawan perubahan iklim.
Peternak Pedro Fumadó berasal dari keluarga dengan tradisi turun-temurun memelihara banteng sebagai tontonan. Pedro mendukung penggunaan dana publik untuk tradisi adu banteng tersebut.
“Itu adalah bagian dari budaya kami, adu banteng. Mereka berkontribusi pada ekosistem. Dan untuk alasan inilah, kami mendapatkan subsidi dari Uni Eropa. Apa yang banteng kontribusikan jauh melebihi apa yang kita terima,” komentarnya.
Kelompok populis sayap kanan menilai adu banteng itu sebagai kekuatan bagi persatuan bangsa. Ini telah lama menjadi simbol kuat nasionalisme Spanyol. Dengan jumlah pendukung sayap kanan 15 persen pemilih Spanyol, politisi konservatif menganggap dukungan mereka sebagai kunci untuk meraih kembali kekuasaan.
Akan tetapi, para pembela adu banteng itu sendiri merasa khawatir dengan semakin terkikisnya dukungan masyarakat umum. Direktur Sekolah Adu Banteng Enrique Guillen menjelaskan, “Ultrakiri, kelompok kiri paling ekstrem menggunakan isu adu banteng untuk merugikan partai sekaligus memperoleh suara yang menurutnya dapat dikeruk dari sini. Sebaliknya, dari kelompok kanan, terlepas dari niat baiknya dan fakta bahwa mereka berpihak pada kita, banyak juga yang menolak adu banteng karena tuduhan kekejaman pada hewan.”
Enrique pernah menjadi matador. Ayahnya bekerja di La Monumental, arena adu banteng Barcelona yang tidak lagi berfungsi karena Catalonia telah melarang adu banteng itu.
Baca Juga: Ngeri! Adu Banteng Avanza Vs BST Solo, Polisi Periksa Kedua Sopir
Sejumlah politisi Spanyol sangat menyadari kerapuhan moral tontonan tersebut dan berpandangan bahwa menyiksa dan membantai hewan di depan umum tidaklah sesuai zaman pada abad ke-21.
Pada tahun 2021, masih ada pria-pria muda yang ingin menjadi matador. Mereka mendapati sensasi mempertaruhkan nyawa di hadapan banteng yang mengamuk lebih besar daya tariknya daripada ketika menjadi pengguna YouTube atau influencer. (Sumber: VOA Indonesia)
Berita Terkait
-
Ngeri! Adu Banteng Avanza Vs BST Solo, Polisi Periksa Kedua Sopir
-
Balap Liar Berakhir Ngeri, Yamaha RX King Adu Banteng dengan Suzuki Satria
-
Viral Pemotor Tabrakan karena Ada yang Lawan Arah, Bogem Mentah Melayang
-
Adu Banteng, 1 Mobil Oleng hingga Tabrak Warung dan Motor di Pinggir Jalan
-
Adu Banteng PCX dengan NMAX di Ponorogo, Satu Tewas di Tempat
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Wanti-wanti Peneliti UGM Soal Superflu, Tetap Bisa Fatal Bagi yang Rentan
-
Tersangka Korupsi Kini 'Dilindungi' dari Konferensi Penetapan KPK Imbas KUHAP Baru
-
Kronologi Suap Pajak KPP Madya Jakut: Diskon Rp59 M Dibarter Fee Miliaran Berujung OTT KPK
-
Cuaca Hari Ini: Hujan Terjadi Hampir di Berbagai daerah dari Banten Sampai Yogyakarta
-
PSI Incar Jawa Tengah Jadi Kandang Gajah, Hasto PDIP Kasih Respons Santai, Begini Katanya
-
Rakernas I 2026: PDIP Bakal Umumkan Sikap Resmi Terkait Wacana Pilkada di Akhir Acara
-
Megawati di HUT ke-53 PDIP: Politik Adalah Alat Pengabdian, Bukan Sekadar Kejar Jabatan
-
Megawati Dorong Politik Berbasis Kearifan Lokal: Peradaban Diukur dari Cara Menghormati Bumi
-
Instruksi Tegas Megawati di HUT ke-53 PDIP: Kader Wajib Jaga Alam, Hingga Lawan Keserakahan
-
Kritik Keras Regulasi Karpet Merah Konsesi, Megawati: Itu Pemicu Bencana Ekologis di Sumatra