Suara.com - Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat alami krisis ketersediaan oksigen. Tak jarang para pasien yang membutuhkan meminta untuk didahulukan untuk mendapatkan oksigen.
Seorang tenaga kesehatan Wisma Atlet bernama Ayu (22) bercerita, kalau dalam satu shift, per towernya hanya mendapatkan 10 hingga 20 tabung oksigen berukuran kecil dan besar.
Dengan jumlah pasien yang membutuhkan tentu jumlah tersebut rasanya sangat kurang.
Ayu mengungkapkan, pasien observasi atau yang memiliki saturasi oksigennya kurang dari 90 itu jumlahnya semakin banyak. Untuk di tower 5 saja, kata dia, jumlah pasien sempat mencapai 2.038 orang.
"Pasien observasi di lantai 1 ada sekitar 30 bed, belum lagi perlantai ada juga yabg butuh oksigen," ujarnya.
Otomatis, pasien pun ingin mendapatkan oksigen duluan karena merasa sesak napas.
Untuk mengantisipasinya, Ayu menerangkan, perawat akan berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter untuk memilih pasien mana yang paling membutuhkan oksigen.
Kendati demikian, dia tidak bisa menampik kalau pasien prioritas yang berada di lantai 1 juga banyak ketimbang yang berada di lantai lainnya.
Sehingga, pasien yang berada di lantai lainnya harus menunggu apabila ada oksigen yang tersisa.
Baca Juga: Oksigen dan Obat-obatan Langka di Ibu Kota, Kejaksaan Tinggi DKI Kerahkan Tim Intelijen
Ada satu cerita yang disampaikan Ayu terkait oksigen tersebut. Dia pernah melihat seorang pasien yang kondisi kesadarannya masih baik, tiba-tiba angkat tangan dan menunjuk ke arah oksigen yang tengah digunakan pasien lain.
Sambil memasang muka sedih, dia berharap mendapatkan oksigen juga karena sudah merasakan sesak napas.
"Pasien itu angkat tangan terus nunjuk dengan muka sedih mereka nunjuk kayak 'aku dong' yang dipasang oksigen karena udah sesak banget," ucapnya.
Sebagai seorang nakes, Ayu merasa bimbang karena di satu sisi merasa tidak tega melihat pasien tersebut. Namun di sisi lain ia juga melihat ada pasien yang sangat-sangat membutuhkan pasokan oksigen.
Kondisi keterbatasan stok oksigen itu juga membuat Ayu dan sejumlah nakes lainnya tidak bisa berbuat lebih dari maksimal untuk membantu pasien.
Sebab, para nakes kerap menjadi sanksi ketika pasien meninggal dunia lantaran tidak mendapatkan pasokan oksigen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas
-
3 Bos KoinWorks Dijebloskan ke Bui, Skandal Korupsi Kredit Rp 600 Miliar
-
Soal Ketimpangan Personel Polri, Kapolri: Ada yang Harus Dirampingkan dan Diperkuat
-
Jangan Cuma Salahkan Sopir! DPR Soroti Kondisi Jalan Nasional di Balik Kecelakaan Maut Bus ALS
-
Resmi! Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Siap Pilih Ketum PBNU dan Rais Aam
-
Listyo Sigit Buka Suara soal Rekomendasi Calon Kapolri Harus Punya Sisa Masa Dinas 2-3 Tahun
-
Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama Muncul di Dakwaan Korupsi, Menkeu: Tak Dinonaktifkan
-
Gus Ipul Bantah Tahan SK Jelang Muktamar PBNU: Itu Kabar Menyesatkan
-
Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam
-
Hakim Nur Sari Semprot Dirjen Binwasnaker Fahrurozi: Saudara Lahir di Kemnaker, Masa Tidak Tahu?