Suara.com - Direktur Impasial Al Araf menilai, Presiden Jokowi sebaiknya mengambil langkah normatif sebagaimana diatur dalam Undang-undang TNI dalam melakukan pergantian panglima. Langkah itu, yakni melakukan rotasi antara tiga matra atau angkatan.
Sebagaimana diketahui, pucuk pimpinan tentara saat ini dipegang Marsekal Hadi Tjajanto dari Angkatan Udara.
Dua panglima sebelum Hadi, yakni Gatot Nurmantyo dan Moeldoko notabene berasal dari matra Angkatan Darat.
Dengan demikian, kata Al Araf, saat ini adalah waktu yang tepat bagi Jokowi merotasi tampuk pimpinan TNI dari Angkatan Udara ke Angkatan Laut.
Meski mandatnya tidak mewajibkan, Al Araf mengatakan, mekanisme pergantian secara rotasi angkatan itu tersirat di dalam UU TNI.
"Di TNI itu ada tiga angkatan dan proses rotasi penting untuk membangun kesetaraan dan kesehatan organisasi agar tidak terjadi kecemburuan di antara angkatan," kata Al Araf dalam webinar Menakar Kandidat Panglima TNI: Peluang, Hambatan dan Tantangan Penguatan Militer Indonesia, Rabu (7/7/2021).
Dia meyakini, kecemburuan itu dapat diredam di mana tiga matra TNI akan mengikuti dan menerima apapun keputusan Jokowi menyoal Panglima TNI. Namun tidak dipungkiri, kecemburuan nantinya akan berdampak buruk terhadap konsilidasi dan soliditas organisasi TNI itu sendiri.
"Pada sisi lain akan ada rasa tidak terima, ngedumel dan lain sebagainya itu akan mengganggu soliditas dan sebagainya. Jadi demi keadilan dan proses yang baik dalam proses rotasi itu memang menjadi penting bagi presiden memperhatikan, menimbang proses pergantian panglima TNI itu perlu berdasarkan pada proses rotasi," katanya.
Sementara itu, menakar pergantian secara rotasi pergantian Panglima TNI yang jatuh kepada Angkatan Laut, Al Araf menilai KSAL Laksamana Yudo Margono sebagai sosok yang tepat menggantikan posisi Hadi.
Baca Juga: Calon Panglima TNI, KSAD Andika Perkasa Total Kekayaan Mencapai Rp 179 M
"Jadi dua kali Angkatan Darat, sebelum Pak Hadi maka sekarang Angkatan Udara. Otomatis kalau ngikutin rotasi sekarang harusnya jatuh ke Pak Yudo di Angkatan Laut," ujarnya.
"Itu kalau kemudian tidak bergeser ke Angkatan Laut saya melihat kecenderungannya nanti, waduh terlalu lama menunggu Angkatan Laut, kata mereka. Sudah lama berlayar terus di laut masuk darat nggak pernah jadi Panglima TNI kan gitu," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT
-
Dipicu Masalah Asmara! Caddy Golf di Tangerang Dianiaya: Kepala Sobek, Kening dan Bibir Lebam-lebam
-
Lima Hari Baru Bersih, 55,7 Ton Sampah Diangkut dari Kali Gendong Muara Baru