News / Internasional
Kamis, 09 September 2021 | 17:32 WIB
ILUSTRASI - Pencari Suaka asal Afghanistan beraktivitas di dalam tendanya di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2021). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Hanif Hamraz, musikus Afghanistan yang kekinian tinggal di Indonesia, menyaksikan dengan penuh kekhawatiran kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan di Tanah Airnya.

Sekitar setengah dari 13.000 pengungsi dan pencari suaka yang kini berada di Indonesia adalah warga Afghanistan seperti Hanif, yang berusaha masuk ke Australia.

Sebagian besar di antaranya merupakan etnis Hazara, yang menjadi sasaran Taliban karena identitas suku dan agama mereka sebagai penganut Syiah.

Peristiwa terakhir di Afghanistan menjadi alasan kuat mengapa para pelarian, terutama seniman dan musisi, tidak bisa kembali ke negaranya.

Ketika Amerika Serikat menarik seluruh pasukanya akhir Agustus lalu, kelompok militan itu dilaporkan menyeret penyanyi tradisi Fawad Andarabi dari rumahnya di utara Kota Kabul dan membunuhnya.

"Dia tak bersalah, hanya seorang penyanyi yang ingin menghibur orang lain," kata Jawad, anak Fawadi kepada kantor berita Associated Press.

"Mereka menembak kepalanya," jelasnya.

Pada bulan Juli lalu, pejuang Taliban menculik, menyiksa, dan membunuh komedian Nazar Muhammad, yang dikenal sebagai Khasha Zwan, yang pernah membuat lelucon tentang Taliban di aplikasi TikTok.

Kebrutalan seperti inilah yang menyebabkan Hamraz melarikan diri ke Indonesia delapan tahun lalu.

Baca Juga: Taliban Izinkan Evakuasi 200 Warga AS yang Masih Tertinggal di Afghanistan

'Saya tak punya masa depan'

Hanif yang kini berusia 29 tahun berada dalam ketidakpastian di Indonesia, yang belum menandatangani Konvensi PBB Tentang Pengungsi.

Indonesia juga tidak mengizinkan pengungsi untuk tinggal secara permanen.

Pernah tampil di berbagai kota bersama musisi Australia, termasuk di acara Kedutaan Amerika Serikat dan India, Hanif tidak memiliki hak untuk bekerja atau sekolah di Indonesia.

Peluangnya untuk dimukimkan kembali di negara ketiga penuh ketidakpastian.

"Masa depanku tidak jelas. Saya tak punya masa depan," katanya kepada ABC.

"Saya tidak bisa melakukan apa pun buat keluargaku."

Load More