Suara.com - Pertanyaan penting yang menyeruak setelah Taliban kembali menguasai Afghanistan adalah bagaimana hubungan mereka dengan sekutu lamanya, al-Qaida?
Al-Qaida terikat dengan Taliban oleh janji kesetiaan — atau bai'at — yang pertama kali diucapkan pada 1990an oleh Osama bin Laden kepada pemimpin Taliban, Mullah Omar.
Sejak itu, janji ini telah diperbarui beberapa kali, meski pembaruan ini tak selalu diumumkan ke publik oleh Taliban.
Di bawah kesepakatan damai dengan AS pada 2020, Taliban setuju untuk tidak mengizinkan al-Qaida atau kelompok ekstremis lain beroperasi di area yang mereka kuasai.
Baca juga:
- Apa perbedaan Taliban, al-Qaeda, dan ISIS?
- Penarikan pasukan Barat dari Afghanistan memicu kekhawatiran kembalinya al-Qaeda
- Hambali, 'otak' serangan bom Bali 2002, 'mulai diadili' setelah menanti 15 tahun di Guantanamo 'tanpa dakwaan'
Mereka mengulangi lagi janji ini beberapa hari setelah mengambil alih Kabul pada 15 Agustus.
Namun mereka juga tidak terang-terangan menolak al-Qaida.
Sementara, retorika al-Qaida terhadap Amerika Serikat juga tampaknya tak melunak.
Arti janji kesetiaan al-Qaida?
Baca Juga: Hanif, Musikus Afghanistan Ingin ke Australia Tapi Tertahan di Indonesia
Dalam bahasa Arab, bay'ah atau bai'at berarti janji ketaatan seseorang kepada pemimpinnya, dan merupakan dasar kesetiaan di antara banyak kelompok jihadis dan afiliasinya.
Janji ini mengandung kewajiban bagi kedua belah pihak, termasuk kepatuhan dari orang yang memberikan bai'at kepada seorang pemimpin.
Mengingkari janji tersebut dianggap sebagai pelanggaran serius dalam hukum Islam.
Dalam kasus al-Qaida, ketaatan ini secara langsung menempatkan kelompok mereka di bawah Taliban, dengan memberikan gelar kehormatan "pemimpin orang-orang yang beriman" kepada pemuka Taliban dan para penerusnya.
Ini pula yang mungkin menjadi alasan mengapa Mullah Omar menolak menyerahkan Bin Laden kepada Amerika setelah serangan 9/11, yang memulai invasi oleh pasukan pimpinan AS pada 2001 di Afghanistan.
Salah satu contoh paling terkenal dari pelanggaran bai'at adalah ketika afiliasi al-Qaida di Irak menolak untuk memegang janjinya kepada pemimpin pusat, yang menyebabkan sempalan kelompok yang kemudian membentuk kelompok Negara Islam (ISIS).
Hingga kini, ISIS dan al-Qaida bermusuhan.
ISIS-K — Negara Islam Provinsi Khorasan — adalah afiliasi regional ISIS di Afghanistan.
Al-Qaida bukan satu-satunya kelompok jihadis yang berbai'at kepada Taliban di Afghanistan.
Taliban Pakistan sebelumnya juga bersumpah setia dan baru-baru ini memperbarui janji mereka setelah pengambilalihan Afghanistan.
Janji kepada orang yang sudah meninggal
Setelah tewasnya Bin Laden pada 2011, penerusnya, Ayman al-Zawahiri, memberikan janji ketaatannya kepada Mullah Omar atas nama al-Qaida dan cabang-cabang regionalnya.
Sumpah ini diperbarui pada 2014 setelah ISIS mendeklarasikan kekhalifahannya di wilayah Irak dan Suriah.
Namun pada Juli 2015, Taliban mengumumkan Mullah Omar telah tewas dua tahun sebelumnya. Ini berarti, al-Zawahiri memberikan janjinya kepada pria yang telah meninggal dunia.
Al-Zawahiri kemudian memperbarui bai'at kepada pemimpin baru Taliban, Mullah Akhtar Mohammad Mansour pada 13 Agustus 2015. Ia bersumpah untuk "melakukan jihad untuk memerdekakan setiap inci tanah umat Muslim yang diduduki".
Mansour dengan cepat mengakui janji dari "pemimpin organisasi jihadis internasional" tersebut, yang merupakan dukungan nyata terhadap agenda jihadis global al-Qaida.
Ini berbeda jauh dengan pesan Taliban sendiri, yang membatasi tujuan kelompok mereka menerapkan syariah Islam di Afghanistan, namun menginginkan hubungan yang normal dengan negara-negara tetangganya.
Ketika pemimpin Taliban saat ini, Hibatullah Akhundzada, memegang tampuk kepemimpinan setelah Mansour tewas karena serangan udara dari AS pada Mei 2016, Taliban tidak mengumumkan pembaruan sumpah dari al-Zawahiri ini.
Tapi, mereka juga tidak secara publik menolaknya.
Ambiguitas dari status bai'at saat ini adalah alasan ketidakpastian hubungan antara kedua kelompok itu.
Apa selanjutnya?
Dengan kembalinya Taliban ke puncak kekuasaan di Afghanistan, mereka kini seperti ditarik ke dua arah berbeda.
Hubungan erat Taliban dengan al-Qaida memberikan kredibilitas terhadap kelompok ini di antara lingkaran kelompok jihadis.
Dengan sejarah kesetiaan Taliban kepada al-Qaida, kemungkinan mereka tidak akan meninggalkan sekutu mereka saat kini mereka kembali berkuasa.
Namun Taliban juga terikat dengan kewajiban-kewajiban mereka di bawah kesepakatan perdamaian dengan AS, termasuk pendekatan pragmatis dari pemerintahan yang mereka dukung.
Baca juga:
- Taliban berkuasa kembali di Afghanistan, siapa saja para pemimpinnya?
- Kesepakatan Taliban dan Trump yang menjadi kunci kelompok ini menguasai kembali Afghanistan
- Siapakah Taliban? Sejarah kelompok yang kini menguasai kembali Afghanistan
Ucapan-ucapan selamat dari al-Qaida dan afiliasi regional kelompok tersebut menyiratkan puji-pujian kepada Taliban atas "kemenangan" mereka dan mengembalikan status Akhundzada sebagai "pemimpin orang-orang yang beriman".
Taliban juga belum menyiarkan secara publik pesan-pesan ini, meski mereka telah melakukannya untuk kelompok-kelompok lain, seperti gerakan Islam Palestina, Hamas.
Akan tetapi, kedatangan Amin al-Huq — orang dekat Bin Laden — ke Afghanistan menandakan hubungan antara kedua kelompok ini masih terjalin baik.
Al-Qaida juga dilaporkan masih menjalin hubungan kuat dengan jaringan Haqqani, yang merupakan bagian dari Taliban.
Permasalahan ini menggambarkan dilema besar yang dihadapi Taliban.
Anda mungkin tertarik menonton video di channel YouTube BBC Indonesia ini:
Di satu sisi, mereka menginginkan pengakuan di tingkat internasional dan keuntungan-keuntungan yang menyertainya — tapi ini berarti mereka berkewajiban menolak ekstremisme.
Di sisi yang lain, mereka tidak bisa dengan mudah melepaskan persekutuannya dengan al-Qaida yang sudah terjalin selama lebih dari 20 tahun.
Jika mereka memutus hubungan dengan al-Qaida, mereka mungkin akan mengabaikan militan yang memiliki pandangan garis keras di tubuh mereka, juga kelompok ekstremis lain yang sebelumnya merayakan pengambilalihan kekuasaan Taliban di Afghanistan.
Paul Brown berkontribusi untuk tulisan ini.
Berita Terkait
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
76 Tahun AS Berperang: Triliunan Dolar Habis, Jutaan Nyawa Melayang, Perang Iran yang Termahal
-
Update Perang Pakistan vs Afghanistan: BBM Langka, 160 Ribu Warga Terancam Kelaparan
-
Biang Kerok Perang Pakistan vs Afghanistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan Didanai Siapa?
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9