Suara.com - Sudah genap satu bulan ribuan warga sipil Kabupaten Maybrat, Papua Barat hidup dalam pengungsian dan tidak dalam kondisi aman. Mereka mengungsi usai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) terlibat konflik dengan pasukan TNI-Polri pada Kamis (2/9) lalu.
Saat itu, TPNPB melakukan penyerangan di Pos Koramil Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Sebanyak empat personel TNI tewas dalam kontak senjata tersebut.
Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Pengungsi Maybrat, Sabtu (2/10/2021) merilis perkembangan termutakir terkait kondisi para pengungsi. Hal itu disiarkan secara langsung di kanal Youtube Papuan Choice.
"Hari ini 2 September 2021 genap sudah 1 bulan ribuan warga sipil Kabupaten Maybrat hidup dipengunsian dalam kondisi tidak aman," kata kuasa hukum koalisi, Yohanis Mambrasar.
Usai serangan TPNPB yang menewaskan empat prajurit TNI itu, mobilisasi besar-besaran dilakukan aparat gabungan ke Kabupaten Maybrat. Hal itu dilakukan aparat guna mencari pelaku yang melakukan serangan tersebut.
Kampung-kampung di Kabupaten Maybrat turut disisir aparat TNI-Polri. Hal itu berimbas pada warga sekitar yang akhirnya memilih ke berbagai tempat, yakni di hutan, kampung, distrik atau kabupaten lainnya yang lebih aman.
"Operasi aparat TNI POLRI terhdap TPN juga menyasar terhadap masyarakat sipil setempat," sambung Yohanis.
Koalisi Masyarakat Sipil Peduli Pengungsi Maybrat, dalam investigasinya menemukan sebanyak 2.768 warga sipil di 50 kampung yang tersebar di lima distrik mengungsi. Para pengungsi rata-rata berasal dari Distrik Aifat Selatan, Distrik Aifat Timur, Distrik Aifat Timur Jauh, Distrik Aifat Timur Tengah dan Distrik Aifat Timur Selatan.
Mereka mengungsi ke distrik yang lebih aman seperti Distrik Aiyawasi, dan Distrik Kumurkek, Aitinyo. Tidak hanya itu, mereka juga mengungsi ke Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Bentuni, Kota dan Kabupaten Sorong.
Baca Juga: Bioskop Papua Barat Sudah Buka Hari Ini, Berikut Film yang Tayang
Dalam catatan koalisi, total ada lebih dari 1155 pengungsi laki-laki dan lebih dari 1145 pengungsi perempuan. Para warga Pengunsi dari Distrik Aifat Selatan, khususnya 308 orang merupakan usia dewasa, 40 orang merupakan lansia, 338 orang berusia anak dan remaja dan 17 orang merupakan bayi.
Dari total itu, sebanyak 51 orang kekinian dalam kondisi sakit, empat orang ibu dalam kondisi hamil, dan 1 orang warga telah meninggal ditempat pengunsi.
Kekerasan TNI-Polri
Yohanis mengatakan, pihaknya juga menemukan tindak kekerasan terhadap masyarakat sipil setempat. Aparat TNI- Polri, kata dia, telah melakukan penyisiran, penangkapan, penahanan, penganiayaan, penyiksaan dan intimidasi secara sewenang-wenang diluar hukum terhadap para pengunsi.
Dalam hal ini, polisi telah menetapkan 17 orang warga sebagai tersangka dan menetapkan mereka sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) tanpa melaui proses hukum yang benar. Dalam proses mengejar pelaku, aparat tidak mengunakan pendekatan hukkum dan prinsip humanisme.
"Sebaliknya aparat mengunakan pendekatan kekerasan dengan menuduh warga sepil sebagai pelaku penyerangan Pos Koramil Kisor," papar Yohanis.
Koalisi mencatat, aparat dengan membabi buta menangkap, menyiksa, mengintimidasi warga sipil tanpa bukti yang benar dan sah. Penetapan status DPO terhadap 17 Orang warga sipil sebagai pelaku, disebut Yohanis sebagai "Tindakan kepolisian yang tidak berdasar bukti yang benar dan sah."
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Pangan RI dalam Bahaya? Pakar Ungkap Efek Suhu Panas yang Bisa Bikin Bulir Padi Tak Terbentuk
-
Petaka Berenang di Ciliwung: Bocah 11 Tahun Hilang Terseret Arus, Tim SAR Sisir Sungai Hingga 4 Km
-
Militer AS Frustrasi Lawan Iran, Donald Trump Malah Bahas Narkoba di Gedung Putih
-
Dibalik Megahnya USS Gerald R. Ford: Toilet Tersumbat, Serangan AS ke Iran pun Terhambat, Kualat?
-
Viral! Hotel di Negara Ini Buat Pengumuman: Hewan dan Orang Yahudi Dilarang Masuk
-
Kejar Target Tembus Top 50 Kota Global, Pramono Anung 'Gerilya' ke Tiongkok hingga Jepang
-
Kritik dr. Tan Shot Yen: Susu Bumil Gimmick Industri, Desak Program Makan Gratis Pakai Pangan Lokal!
-
Kapal Perang AS Lintasi Selat Malaka, Menlu RI: Patroli di Kawasan
-
Harga BBM dan Elpiji Non-Subsidi Naik, Tulus Cium Aroma Anomali di Lapangan, Apa Itu?
-
Kuota Dipangkas, Jalur Diubah: 30 Ribu Jemaah Iran Berangkat Haji di Tengah Perang