News / Internasional
Minggu, 08 Maret 2026 | 11:41 WIB
ARSIP - Insiden jatuhnya jet tempur F-15 milik militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait memicu situasi yang sangat menegangkan di darat. Alih-alih mendapat pertolongan, pilot jet tempur tersebut justru diadang dan diancam oleh warga lokal. (tangkap layar / ist)
Baca 10 detik
  • Pejabat keamanan Iran mengklaim penangkapan beberapa tentara AS, tuduhan yang disebarkan Sabtu (7/3/2026) melalui platform X.
  • Militer AS (CENTCOM) dengan cepat membantah klaim tersebut, menyatakan informasi dari Iran mengenai penawanan tentara adalah kebohongan.
  • Ketegangan dipicu serangan koalisi AS-Israel 28 Februari, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan memicu serangan balasan.

Suara.com - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase perang informasi yang sengit. Pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani, mengklaim bahwa sejumlah tentara Amerika Serikat telah ditangkap dan kini berada dalam penyanderaan pihak Teheran.

Lewat unggahan di platform X pada Sabtu (7/3/2026), Larijani menuduh Washington sengaja menutupi insiden tersebut dari publik.

"Laporan yang saya terima menyatakan beberapa tentara Amerika telah ditawan. Namun, pihak Amerika justru mengeklaim bahwa mereka gugur dalam tugas (killed in action)," tulis Larijani.

Ia menambahkan bahwa upaya AS untuk menyembunyikan fakta ini tidak akan bertahan lama.

Militer Amerika Serikat melalui Komando Pusat AS (CENTCOM) bergerak cepat menepis tuduhan tersebut. Juru bicara CENTCOM menegaskan kepada Al Jazeera bahwa informasi yang disebarkan oleh rezim Iran adalah palsu dan merupakan bentuk manipulasi informasi.

"Klaim rezim Iran mengenai penangkapan tentara Amerika adalah contoh lain dari kebohongan dan tipu daya mereka," ujar juru bicara CENTCOM dalam pernyataan resminya.

Ketegangan yang terjadi saat ini merupakan buntut dari serangan udara besar-besaran yang dilancarkan koalisi AS-Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan memakan korban jiwa yang sangat besar, yakni lebih dari 1.000 orang, termasuk:

  • Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
  • Sejumlah pejabat militer senior.
  • Lebih dari 150 siswi sekolah.

Kematian Ali Khamenei telah memicu instabilitas regional yang luas dan gelombang serangan balasan dari Teheran terhadap situs-situs yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di seluruh kawasan Timur Tengah.

Klaim penawanan tentara ini diyakini oleh banyak pengamat sebagai bagian dari strategi perang urat syaraf (psychological warfare) Iran untuk menekan mentalitas militer AS.

Baca Juga: Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan

Load More