Suara.com - Seorang pria di London memiliki kabiasaan yang cukup aneh yaitu sengaja meracuni tubuhnya sendiri dengan bisa ular dan ia mengaku sangat menikmatinya.
Menyadur My London Selasa (26/10/2021) warga London kelahiran Amerika Steve Ludwin, 55, mengatakan dia telah melakukannya lebih dari 1.500 kali sejak tahun 1988.
Ini bukan semata-mata untuk kesenangan, dia melakukannya dengan harapan menemukan obat untuk gigitan ular berbisa di bagian dunia yang lebih miskin.
“Perusahaan farmasi besar tidak peduli dengan Afrika dan Asia,” katanya.
Dia memperkirakan sekitar 155.000 orang di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia - meninggal setiap tahun karena gigitan ular dan setengah juta lainnya digigit dan kehilangan anggota tubuh mereka. Sungguh menakutkan.
“Racun ular akan menyebabkan Anda berdarah dari gigi dan mata. Itu akan mengubahmu menjadi zombie,” katanya.
Ludwin mulai menyuntikkan racun ular pada akhir 1988 untuk melihat apakah itu mungkin setelah dia bertemu seseorang yang telah melakukannya sejak 1948.
Pada puncak hobinya Steve memiliki 33 ular berbisa termasuk kobra dan ular derik, yang tinggal di salah satu ruangan rumahnya di Highbury.
Kecintaannya meningkat setelah menemukan pekerjaan di Walthamstow, sebuah perusahaan yang menjual hewan ke kebun binatang dan laboratorium.
Baca Juga: Studi: Racun Ular Berbisa Brasil Potensial Untuk Obat Covid-19
Steve tidak menyuntikkan racun langsung ke pembuluh darah, yang dibutuhkan hanya masuk ke bawah kulit. Dan dia memiliki banyak metode untuk melakukan ini.
"Racun tak perlu masuk ke aliran darah seperti yang dipikirkan orang. Itu berjalan di anggota badan serta aliran darah."
"Kobra, mamba, dan semua ular neurotoksik yang sangat berbahaya lainnya memiliki taring depan yang sangat kecil yang pada dasarnya mereka menggaruk Anda."
"[Saya] suka racun yang membusuk lengan Anda dan memakan kaki Anda. Neurotoksin jauh 'bersih' dan tidak menyebabkan kerusakan jaringan atau menghancurkan sel darah merah."
Bagi Steve, ular derik dan ular pohon adalah barang pengumpul karena racunnya bersifat hemotoksik, artinya mereka menargetkan tubuh dan bukan otak (neurotoksik, yang melumpuhkan otot).
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas Daihatsu untuk Lansia yang Murah, Aman dan Mudah Dikendalikan
- Apa Perbedaan Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki? Ini 6 Rekomendasi Terbaiknya
- 5 Mobil Bekas Toyota Pengganti Avanza, Muat Banyak Penumpang dan Tahan Banting
- 27 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 3 Januari 2026: Ada Arsenal 110-115 dan Shards
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
Pilihan
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
-
Platform Kripto Indodax Jebol, Duit Nasabah Rp600 Juta Hilang Hingga OJK Bertindak
-
4 HP RAM 12 GB Paling Murah Januari 2026, Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Multitasking
-
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
Terkini
-
Akhirnya! Demokrat Polisikan Akun Medsos Penuding SBY Dalang Isu Ijazah Palsu Jokowi
-
Markas Scam Internasional Terbongkar di Sleman: Pakai Izin dari Jabar, Ngontrak di Rumah Warga
-
Habiburokhman: Jika KUHP Diterapkan Utuh, Maka Tidak Ada Pemidanaan Sewenang-wenang
-
Demokrat Akhirnya Polisikan Akun-akun Medsos yang Diduga Fitnah SBY Soal Isu Ijazah Jokowi
-
Jawab Dukungan Presiden Prabowo, Pramono Anung: Gubernur Harus Bisa Bekerja Sama dengan Pusat
-
Menham Pigai: Mustahil Pemerintah Jadi Dalang Teror Aktivis Kritis
-
KUHAP Baru Diteken Prabowo, Menham Pigai Akui Minim Peran Tapi Bela Isinya
-
Digitalisasi Pembayaran, Jurus Pramono Anung Berantas Copet dan Preman di Pasar Jakarta
-
Retret di Hambalang Fokus Bahas Kondisi Ekonomi, 12 Menteri Dijadwalkan Beri Paparan
-
Daftar 4 Negara 'Bidikan' AS Setelah Venezuela