Suara.com - Dr Peter Kertesz bukan lah seorang dokter gigi biasa. Pada Senin hingga Kamis, dia mengobati manusia di kliniknya yang berlokasi di pusat Kota London. Namun, di luar itu, dia juga memiliki pekerjaan sampingan yang menarik.
Dr Kertesz telah berkeliling Inggris, bahkan dunia, untuk melakukan operasi gigi terhadap berbagai jenis hewan liar.
"Kami baru saja merawat seekor singa, seekor jaguar dan beberapa kera. Dua gigi singa itu patah - yang satu dicabut dan yang satu lainnya ditambal - kondisinya sudah baik-baik saja," kata Kertesz kepada BBC.
Bagaimana dia bisa menjadi dokter yang tidak hanya merawat manusia? Lalu, bagaimana rasanya harus memasukkan tangan ke dalam mulut hewan karnivora yang berukuran sangat besar?
Baca juga:
- Sehari bersama Mustafa: Sang pawang orang utan liar di Rawa Singkil
- Dari bebek hingga panda raksasa: Hewan-hewan termahal di dunia
- Indonesia 'juara dunia' konten penyiksa hewan, dapatkah 'kemenangan' kucing Tayo mengakhiri peringkat ini?
Awal dari petualangan
Dr Kertesz memiliki daftar panjang pasien hewan, di antaranya walrus, lumba-lumba, harimau, gajah, serta banyak jenis hewan berukuran besar maupun kecil lainnya.
Dia telah merawat hewan selama lebih dari empat dekade. Menurutnya, dia menangani lebih dari 200 kasus per tahun.
Dr Kertesz merupakan satu dari sedikit dokter gigi yang memiliki spesialisasi dalam penangkaran hewan liar. Namun, perjalanannya menuju profesi itu sebenarnya tidak direncanakan.
Dia lulus pendidikan sebagai dokter pada 1969, kemudian bekerja merawat pasien manusia selama sembilan tahun.
Baca Juga: Gawat! Beruang Kutub Diprediksi Punah Akhir Abad Ini
"Pada 1978, saya mendapat telepon dari seorang dokter hewan yang bertanya apakah saya bisa membantu kucingnya. Saya pikir itu akan sulit, tetapi pada akhirnya saya melakukannya," kata dia.
Percakapan yang tidak disengaja itu kemudian menjadi awal dari karirnya menghadapi hewan-hewan liar.
Menghadapi bahaya
Tim Dr Kertesz terdiri dari seorang perawat dan seorang ahli anestesi. Dia mengatakan, hewan yang berukuran lebih besar biasanya perlu dibius lebih dulu, namun sering kali hewan-hewan itu melesat.
"Ini adalah pekerjaan yang sangat profesional. Anda tidak bisa merasakan emosi dan tidak boleh santai. Anda harus berupaya untuk bisa bekerja dengan baik," katanya. "Anda bekerja melawan jam anestesi. Saya selalu berusaha melakukannya dengan cepat dan efisien."
Hal itu bisa dimaklumi mengingat Dr Kertesz harus memasukkan tangan hingga sikunya ke dalam rahang seekor karnivora raksasa - beruang kutub, misalnya, yang merupakan karnivora darat terbesar di dunia dengan berat mencapai 600 kilogram.
Dr Kertesz juga telah memiliki jadwal untuk menangani seekor beruang kutub pada Oktober.
Melakukan operasi terhadap beruang kutub yang sedang sakit gigi tentu berisiko, tetapi tantangan lainnya adalah untuk bisa menempatkan hewan tersebut di meja operasi.
Dr Kertesz telah melihat hewan-hewan yang sakit dan berusia tua akhirnya mati di meja operasi.
"Secara umum anestesi sangat berbahaya bagi hewan. Kami berusaha menggunakan anestesi dalam dosis minimal sehingga hanya menyebabkan trauma yang juga kecil."
Dia juga bekerja sama dengan dokter hewan residen. Selain itu, ada banyak upaya yang dilakukan dalam merencanakan sebuah operasi sehingga hasilnya bisa sesuai harapan dan tidak memerlukan penanganan lanjutan.
Apa bedanya menangani pasien hewan dan manusia?
Tantangan pertama yang kerap dihadapi adalah mengetahui bantuan medis yang dibutuhkan oleh hewan, sebab hewan tidak bisa menyampaikan apa yang terasa sakit atau menggambarkan kondisi mereka.
"Banyak hewan menyembunyikan rasa sakit mereka - mereka tampak terbiasa dengan rasa sakit itu, mereka tidak menunjukkannya seperti manusia," kata Dr Kertesz.
"Kadang-kadang sakit yang dialami bisa terlihat jelas, seperti pembengkakan, keputihan, atau enggan makan."
Sering kali para pemelihara hewan lah yang memperhatikan adanya perubahan perilaku pada hewan tersebut, yang disebabkan oleh sakit gigi atau masalah lainnya.
Sebagian besar tindakan medis yang dilakukan Dr Kertesz terhadap hewan yakni mencabut gigi, menambal, serta menangani masalah pada akar gigi.
"Kami tidak pernah membuat prostetik. Beberapa orang membuat gigi palsu dengan efek yang merusak. Hewan hidup di lingkungan yang dilindungi, jadi kami hanya mengganti makanannya."
Tantangan lainnya, menurut Dr Kertesz, adalah mendapatkan alat yang dia butuhkan untuk menangani berbagai jenis hewan.
"Hewan memiliki struktur rahang yang berbeda. Itu berarti saya membutuhkan berbagai macam peralatan untuk merawat mereka. Kami harus mendesainnya dari awal. Saya juga meminta kepada ahlinya agar dibuatkan secara khusus."
Sejauh ini, perlengkapan terbesar yang dia miliki adalah bor untuk gajah, dengan berat mencapai 32 kilogram.
Hewan apa yang menjadi favorit Dr Kertesz?
Dr Kertesz mengatakan dia tidak memiliki hewan favorit untuk dirawat, sebab setiap jenis hewan memiliki tantangan tersendiri. Dia akan memeriksa hewan mana pun yang membutuhkan bantuannya.
"Karnivora yang berukuran besar cenderung mudah dirawat," tutur dia. "Anda dapat dengan mudah memasukkan tangan ke dalam mulut mereka. Anda hanya membutuhkan alat yang tepat dan melakukannya dengan cepat!"
"Walrus adalah hewan yang sangat menarik dan cerdas, saya sangat menyukainya," kata Dr Kertesz. "Sayangnya di taman laut, mereka kerap mengarahkan gigi taring mereka ke beton, sehingga taring mereka terinfeksi".
Dia juga telah bepergian ke Rusia hingga Korea Selatan untuk merawat walrus yang berada di taman laut. Biasanya, Dr Kertesz juga harus membantu mengeluarkan taring mereka.
"Biasanya diperlukan waktu sekitar 25 hingga 40 menit untuk melepaskan setiap gading. Seluruh operasi terkadang bisa berlangsung dua hingga tiga jam."
Menyelamatkan nyawa
Dr Kerstesz meyakini intervensi medisnya telah mencegah kematian dini pada banyak hewan.
"Mulut adalah pintu gerbang kesehatan hewan. Struktur gigi yang rusak bisa menjadi jalur bagi patogen untuk masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan dampak yang serius."
Dia jarang mengunjungi hewan yang sama dua kali, sementara itu dia bisa bertemu dengan pasien manusianya secara rutin selama 30 hingga 40 tahun. Dia menghargai bagian dari pekerjaannya ini, namun fakta bahwa waktunya dengan hewan apa pun cepat berlalu juga membuatnya sedih.
"Kami tidak memiliki hubungan yang lama dengan hewan. Biasa saja.
"Kami tidak pernah mengalami hari-hari yang membosankan dengan hewan. Ketika saya berkerja dengan baik dan dan hewan itu bisa mendapatkan manfaatnya, terlihat baik, dan sehat, saya merasa bahagia."
Berita Terkait
-
Analisis Kemenangan Persija Jakarta Atas Persebaya Surabaya, Jadi Sinyal Kebangkitan Macan Kemayoran
-
Persija Semakin Jauh dari Gelar Juara Super League, Mauricio Souza Pasrah?
-
4 Bintang Persija Jakarta Kembali Usai Bela Timnas Indonesia Kini Siap Tempur Lawan Bhayangkara FC
-
Perluas Interaksi Digital Suporter, Persija Gandeng Chiliz Luncurkan Fan Token
-
Persija Jakarta Kembali Berlatih Usai Lebaran, Sejumlah Pemain Tidak Bergabung
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Kado Pahit Jelang May Day, Perusahaan Global Commscope Diseret ke Meja Hijau PN Jakpus Soal PHK
-
Ogah Gabung May Day Bareng Prabowo, KPA Ingatkan Masalah Buruh-Petani dan Nelayan Belum Rampung
-
Kabar Baik Usai Kecelakaan Bekasi! KAI: 99% Kereta Kembali On Time, 20 Ribu Tiket Tuntas Direfund
-
Maut Tak Kasatmata: Leher Terjerat Benang Misterius, Pemotor di Karawang Tewas Berlumur Darah
-
Aliansi GEBRAK Bongkar Fakta Kekerasan Agraria, DPR Diminta Tak Lagi Diam
-
Pecah Telur ke Jakarta di Usia 60 Tahun, Buruh Cilacap Ini Rela Antre Sembako di Tengah Aksi May Day
-
KPA Tolak May Day Fiesta, Soroti Masalah Buruh hingga Petani Belum Tuntas
-
Aksi May Day di Monas 'Banjir' Sembako dari Istana
-
Gus Lilur Bongkar Peta Kekuatan Muktamar NU, 400 Suara Mengerucut ke Satu Poros?
-
Imbas May Day di DPR, Pintu Keluar Tol Slipi Ditutup: Cek Rute Alternatif Tomang-Tanjung Duren