Suara.com - Bertepatan dengan momentum Hari Pahlawan Nasional, Ketua Bidang Manajemen Pengetahuan YLBHI Siti Rahma Mary mengajak masyarakat untuk kembali mengingat perjuangan Patmi atau biasa disapa Yu Patmi. Yu Patmi satu dari puluhan petani yang mengecor kakinya di depan Istana Kepresidenan sebagai bentuk perjuangan melindungi Pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah dari eksplorasi pabrik semen.
Yu Patmi hanyalah seorang ibu yang berprofesi sebagai petani di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Meski begitu, ia tidak takut untuk melakukan perlawanan demi menjaga lingkungan hidup di sekitarnya.
Bersama ibu-ibu lainnya, Yu Patmi kerap melancarkan aksi untuk menolak pembangunan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng Utara.
"Sebelum dia berangkat mengocor kaki di depan Istana, beliau ini sudah melakukan beragam aksi dengan para perempuan Kendeng termasuk aksi jalan kaki dari Pati menuju Semarang," kata Rahma dalam diskusi bertajuk; Semangat Patmi Mengadili Perusak Bumi secara virtual, Rabu (10/11/2021).
Perjuangan Yu Patmi kemudian dilanjutkan ke Jakarta, tepat di depan Istana Negara sekitar Maret 2017. Bersama 19 orang dari 55 orang lainnya, Yu Patmi mengecor kakinya sebagai bentuk perlawanan.
Para peserta aksi berhasil menemui Kepala Staf Kepresidenan yang kala itu dijabat Teten Masduki. Namun menurut Rahma tidak ada solusi apapun yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.
20 peserta akasi memutuskan untuk pulang ke kampung namun 9 orang memilih untuk tetap menjalankan aksi. Masih ingat betul di ingatan Rahma, saat itu Yu Patmi dilarikan ke rumah sakit setelah melakukan aksi pada Selasa, 21 Maret 2017.
"Waktu Yu Patmi wafat di lantai 1 pas saya menginap di YLBHI," ujarnya.
Meski Yu Patmi sudah tiada, bukan berarti perjuangan rakyat memudar. Justru perjuangan Yu Patmi berdampak dari terus menggeloranya bentuk perlawanan dari masyarakat.
Baca Juga: Duh! Pegunungan Kendeng Gundul, Banjir Bandang Melanda Desa Wonosoco Kabupaten Kudus
Bahkan menurutnya, perjuangan Yu Patmi mengetuk hati para akademisi yang awalnya tidak peduli. Setidaknya sebanyak 300 akademisi menandatangani pernyataan untuk mendukung masyarakat Kendeng.
"Bahkan mereka juga datang ke lokasi untuk melakukan kuliah di lapangan melihat sungai bawah tanah. Kemudian belajar kepada masyarakat akademisi-akademisi yang sebelumnya kita pandang mereka berdiri di menara gading dan tidak mau turun ke lapangan itu benar-benar membuat salut," ujarnya.
Bukan hanya akademisi saja, para ibu-ibu Kendeng juga terus menjalankan aksi untuk membatalkan adanya pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara.
"Setelah Yu Patmi meninggal juga gerakan masyarakat tidak berhenti karena kemudian ibu-ibu datang lagi untuk melakukan aksi kemudian mendirikan tenda di depan Istana dan juga mengundang akademisi-akademisi untuk memberikan kuliah di depan Istana."
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Anak Presiden Uganda Ancam Erdogan: Kirim Cewek Cantik untuk Saya atau Diplomat Anda Diusir
-
IDAI Ingatkan Risiko Tinggi Balita Mendaki Gunung Usai Kasus Hipotermia di Ungaran
-
Prabowo Bertemu Putin di Moskow, Kedua Negara Bahas Penguatan Kemitraan Strategis
-
Imigrasi: WNA Tiongkok Paling Banyak Langgar Aturan
-
Dokter Anak Ingatkan Bahaya Jemur Bayi di Bawah Matahari Terik
-
Tepis Isu Prabowo Antikritik, KSP: Kritik Silakan, Tapi Pakai Data dan Teori
-
Pramono Anung Jamin Aturan Penyediaan Air Tak Akan 'Sandera' Kebutuhan Warga Jakarta
-
DPR dan Pemerintah Sepakat Bawa RUU Perlindungan Saksi-Korban ke Paripurna
-
Survei Poltracking: Prabowo Unggul di Top of Mind Capres 2029, Dedi Mulyadi dan Anies Menyusul
-
Rentetan OTT Kepala Daerah, Tito Sebut Ada Masalah Mendasar dalam Rekrutmen Pilkada