Suara.com - China memperingatkan Amerika Serikat akan mendapatkan ganjaran karena keputusan memboikot secara diplomatik Olimpiade Musim Dingin karena alasan catatan hak asasi Beijing.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan rencana Amerika Serikat (AS) mengganggu Olimpiade akan gagal dan Washington akan kehilangan kredibilitas.
AS menyebut tindakan genosida China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang adalah alasan tidak mengirim delegasi diplomatik ke Olimpiade. Para atlet AS tetap akan ikut bertanding pada Olimpiade bulan Februari itu.
Inggris, Jepang dan Australia mengatakan belum mengambil keputusan apakah akan ikut memboikot secara diplomatik.
Zhao Lijian juga mengatakan China akan "mengambil langkah balasan" namun tidak memberi rincian lebih lanjut.
"Amerika Serikat akan menanggung akibatnya atas kesalahannya sendiri, silakan tunggu saja," tegasnya.
AS mengatakan Senin (06/12) bahwa mereka tidak akan mengirim diplomat ke Beijing karena catatan HAM China.
Dalam keterangan kepada media Selasa (07/12), Zhao menuduh AS melanggar "kenetralan politik dalam olahraga" dan mengatakan boikot itu "berdasarkan rumor dan kebohongan".
Hubungan antara China dan AS tegang dalam beberapa waktu terakhir. Beijing menyanggah keras tuduhan AS terkait tindakan represif Beijing terhadap minoritas Uighur di Xinjiang.
Baca Juga: Ikuti Amerika, Australia Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022
Hubungan kedua negara juga memburuk karena langkah China menekan kebebasan di Hong Kong dan juga terkait pemain tenis Peng Shuai, yang tak terlihat di depan umum selama berminggu-minggu setelah ia menuduh pejabat tinggi China memperkosanya.
Asosiasi Tenis Putri Dunia minggu lalu membatalkan semua turnamen di China karena "sangat ragu-ragu" atas keselamatan Peng.
'Langkah politik'
Pejabat tingi pemerintah - dari AS dan negara-negara lain - biasanya hadir dalam Olimpiade. Tahun ini, Jill Biden, istri Presiden Joe Biden, hadir dalam Olimpiade di Tokyo.
Tetapi Senin (06/12) lalu, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan AS tidak akan ikut serta dalam "kemeriahan" Olimpiade. Ia mengatakan tidak akan mengirimkan delegasi resmi pada Olimpiade Musim Dingin 2022 "untuk mengirimkan pesan jelas."
- Bintang tenis China Peng Shuai mengaku 'aman dan sehat di rumahnya' setelah dikabarkan hilang
- Laporan China protes soal pengeboran minyak di Laut Natuna: 'Indonesia tidak perlu takut'
- China paksa perempuan Uighur pasang alat kontrasepsi untuk tekan populasi, ungkap penelitian
"Perwakilan diplomatik dan perwakilan resmi akan menganggap pesta olahraga ini sebagai kegiatan yang biasa di tengah...pelanggaran hak asasi manusia mengerikan dan kekejaman di Xinjiang," katanya. "Kami tak bisa melakukan itu."
Namun Psaki menambahkan pemerintah AS tidak merasa tepat untuk "juga mengikutkan atlet yang terus berlatih untuk pesta olahraga ini."
Di media sosial China, Weibo, pencarian topik "Boikot AS atas Olimpiade Musim Dingin Beijing" disensor pada Selasa (07/12) pagi.
Sebagian besar komentar di bawah unggahan pengumuman resmi media resmi Global Times juga dihapus, dan hanya ada delapan dari hampir 1.500 komentar yang tidak dihapus.
"Olimpiade adalah untuk atlet, apa kaitannya dengan...politikus? Bahkan bilapun Anda memboikit, orang yang terdampak adalah dari negaramu saja (termasuk atlet)," kata salah satu komentar.
China berupaya menanggapi kejadian dalam beberapa hari ini dengan menyebut langkah itu tak relevan.
Para pejabat mengatakan pembatasan Covid berarti Beijing dan Komite Olimpiade tidak akan mengundang para tamu. Jadi keputusan ini bisa dianggap sebagai petanda lain adanya "mentalitas perang dingin."
Namun, hampir selalu tidak mungkin Presiden Joe Biden atau pejabat tinggi lain akan hadir ke pesta olahraga yang diselenggarakan oleh pemerintah yang mereka sebutkan melakukan genosida.
Menjelang keputusan ini, salah seorang diplomat AS yang saya tanya mengatakan mereka akan memberikan informasi kepada para atlet tentang apa yang terjadi di Xinjiang dan Hong Kong. Mereka menyebut sebagai "obrolan sampingan penting" di antara atlet selama pertandingan di Beijing.
Apakah Inggris akan mengikuti langkah AS? London secara resmi tidak menuduh rezim Presiden Xi Jinping melakukan genosida, namun Menteri Luar Negeri Liz Truss dilaporkan mengatakan hal itu dalam pembicaraan pribadi.
Beberapa bulan lalu, pejabat tinggi Inggris yang terlibat dalam kebijakan di China, mengatakan mereka akan dilihat sebagai wayang Amerika bila mengikuti boikot.
Dukungan bipartisan
Di AS, boikot diplomatik didukung oleh politikus partai Demokrat dan Republik.
Ketua DPR Nancy Pelocy mengatakan AS dan dunia "tidak bisa membiarkan seolah-olah tak ada yang salah dengan menyelenggarakan Olimpiade di negara yang melakukan genosida."
Sejumlah politikus, mengatakan boikot diplomatik tidak cukup. Seorang senator dari Partai Republik Tom Cotton menyebutnya "langkah setengah-setengah" dan mengatakan pemerintah harus memboikot penuh Olimpiade.
Negara-negara lain juga mempertimbangkan langkah serupa. Wakil PM Inggris Dominic Raab mengatakan Inggris akan memutuskan pada waktunya apakah akan memboikot atau tidak. Ia menambahkan, menurut pendapat pribadinya ia tidak akan hadir. Para pejabat di Jepang dan Australia juga mengatakan tengah membicarakan langkah itu.
Lithuania mengumumkan boikot diplomatik minggu lalu setelah China menurunkan hubungannya dengan negara itu karena sengketa soal Taiwan. Beijing mengganggap Taiwan sebagai bagian dari China, namun Taipeh menganggap mereka independen.
Selandia Baru mengatakan para pejabat tidak akan hadir karena tingginya kasus Covid-19. "Namun kami menjelaskan ke China beberapa kali kekhawatiran kami soal hak asasi," kata Wakil Perdana Menteri Grant Robertson.
Boikot pemerintahan Biden untuk Olimpiade Musim Dingin 2022 ini berbeda dengan apa yang dilakukan AS pada 1980, dengan menarik semua atlet dari Olimpiade Moskow untuk memprotes invasi Soviet ke Afghanistan setahun sebelumnya.
Uni Soviet dan sekutunya, ketika itu, memboikot Olimpiade 1984 di Los Angeles.
AS sendiri akan menyelenggarakan Olimpiade pada 2028 di Los Angeles.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Pengamat Sorot Titah Prabowo ke TNI, Polri dan BIN Sebelum ke Eropa: Sinyal Tegas Jaga Stabilitas
-
Jakarta Masih Rawan 'Rayap Besi', Pramono Anung: Pelan-Pelan Kami Benahi dan Tindak Tegas!
-
Kenapa Amerika Serikat Pakai Nama Menteri Perang, Bukan Menteri Pertahanan?
-
Benarkah Langit RI akan Dibuka untuk Pesawat Tempur AS? Kemhan Tegaskan Perjanjian Belum Final
-
Kontroversi Pete Hegseth, Pembawa Acara TV yang Jadi 'Dewa Perang' AS
-
Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Tak Ada Pendaftaran: Anak Lulus, Orang Tua Harus Lepas Bansos!
-
Indra Iskandar Menang Praperadilan, Hakim Perintahkan KPK Hentikan Penyidikan
-
Perang di Mata Rakyat Israel: Terlalu Berat Bagi Saya Pikirkan Masa Depan
-
Tujuh Hari Jelang Keberangkatan, DPR Desak Kepastian Biaya Tambahan Haji
-
Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI, BEM Dorong Sanksi Berat hingga DO