News / Nasional
Selasa, 02 Juni 2026 | 12:00 WIB
Sekolah berbasis Konservasi di Papua Barat. (Dok. WWF Indonesia)
Baca 10 detik
  • Menteri Pendidikan Abdul Mu'ti meresmikan SMA Muhammadiyah Conservation di Manokwari, Papua Barat, pada 28 Mei 2026 mendatang.
  • Sekolah ini mengintegrasikan pendidikan dengan kurikulum konservasi guna melestarikan hutan, satwa endemik, serta ekosistem laut Papua.
  • Siswa melakukan praktik langsung di alam untuk membentuk generasi peduli lingkungan serta mampu menghadapi tantangan krisis iklim.

Suara.com - Di tengah ancaman krisis iklim dan kerusakan lingkungan, sebuah sekolah berbasis kurikulum konservasi resmi hadir di Papua Barat.

SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari menjadi sekolah konservasi pertama Muhammadiyah di Indonesia yang mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan kearifan lokal dalam proses pembelajaran.

Sekolah yang diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti pada 28 Mei 2026 itu mengembangkan Kurikulum Konservasi bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah dan WWF Indonesia.

Kurikulum tersebut memuat materi tentang hutan Papua, satwa endemik, pangan lokal, ekosistem laut, hingga kewirausahaan hijau.

Berbeda dengan pembelajaran konvensional, siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga melakukan praktik langsung di alam, riset sederhana, proyek konservasi, dan berbagai aksi lingkungan.

Kehadiran sekolah ini dinilai penting mengingat Papua Barat merupakan Provinsi Konservasi dengan tutupan hutan mencapai sekitar 80 persen wilayah daratannya. Namun, ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam terus meningkat.

"SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam," kata Abdul Mu'ti.

Kepala SMAMCO Manokwari, Maesaroh, mengatakan sekolah ingin menghadirkan pendidikan yang dekat dengan realitas lingkungan sekitar.

"Anak-anak bukan hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar di luar kelas untuk memahami bagaimana mereka bisa menjaga, merawat, dan terlibat langsung dalam konservasi mulai dari sekarang," ujarnya.

Baca Juga: Gugur Gunung Tandang Gawe, Saat Wayang Bicara Soal Kriminalisasi dan Ketimpangan Sosial

Selain mengusung pendidikan lingkungan, sekolah ini juga menjadi ruang keberagaman. Mayoritas siswanya merupakan anak asli Papua dan sebagian besar beragama non-Muslim.

Pengembangan kurikulum konservasi diharapkan menjadi model pendidikan yang dapat direplikasi di daerah lain untuk membangun generasi muda yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus mampu menghadapi tantangan krisis iklim di masa depan.

Load More