Suara.com - Ketegangan di Ukraina timur telah meningkat selama berminggu-minggu. Reporter DW melaporkan dari desa Vrubivka, di mana warga yang tidak mengungsi hidup dalam ketakutan akan penembakan.
Olena Makarenko tidak berani melakukan pergerakan lebih dari tiga langkah keluar dari apartemennya di lantai dua.
"Orang tidak pernah tahu kapan penembakan berikutnya akan dimulai," ujarnya.
Dari pintu masuk gedung abu-abu dua lantai itu, satu tangga mengarah ke apartemennya, satu lagi turun ke ruang bawah tanah.
Dia tinggal di desa Vrubivka, Ukraina timur. "Kadang-kadang, saat sepi, saya pergi keluar. Di ruang bawah tanah terlalu dingin," katanya.
Dia menghabiskan sebagian besar dari empat hari belakangan ini di lantai bawah. Ada sebuah ruangan dengan langit-langit rendah. Di situ ada pemanas listrik kecil untuk menghilangkan rasa dingin.
Dia membawa tempat tidur dari apartemennya di lantai atas ke ruang bawah tanah itu. Seorang perempuan tua berbaring di sana berbungkus selimut, di sampingnya seorang anak laki-laki yang tidur sambal mencengkeram ponselnya.
Olena mengambil kantong plastik dan pergi ke apartemennya. Putrinya sedang sibuk berkemas.
Dia akan pergi ke kota tetangga yang diyakini lebih aman. Hal terbaik adalah jika dia membawa cucu-cucunya dan pergi selama beberapa minggu ke pegunungan Carpathian, lebih 1.000 kilometer ke barat kata Olena.
Baca Juga: Wall Street Kebakaran Gara-gara Ketegangan Rusia-Ukraina Makin Memanas
"Sampai jelas bagaimana situasi akan berlanjut."
Suasana makin tegang, banyak orang sudah mengungsi
Ketegangan meningkat dalam lima hari terakhir di sepanjang garis depan kawasan pertempuran. Ratusan mortir menghantam sisi wilayah Ukraina.
Tidak ada informasi yang dapat diverifikasi tentang bagaimana situasi di wilayah seberang.
Pemerintah Ukraina yakin kubu separatis pro-Rusia sedang mencoba memprovokasi tentara Ukraina untuk bereaksi, dan nanti itu dijadikan alasan untuk melakukan invasi besar-besaran.
Oleh karena itu, militer Ukraina diminta untuk sedapat mungkin menahan diri. Hanya jika ada serangan yang mengancam keselamatan pasukan, mereka diizinkan membalas tembakan.
Tapi sulit untuk mengetahui bagaimana pasukan di lapangan berperilaku. Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa OSCE, yang bertugas mengawasi perjanjian gencatan senjata, hampir tidak dapat melakukan pengamatan, karena banyak negara anggota OSCE telah menarik pengamat mereka dari kawasan krisis itu.
"Kami takut"
Vrubivka tidak secara langsung berada di garis depan. Tapi garis depan pertempuran hanya berjarak 15 kilometer dari sini.
Desa ini adalah salah satu tempat yang dihantam penembakan berat. Di bagian belakang gedung apartemen Olena, semua jendelanya pecah.
Satu mortir meledak langsung di jalan utama desa. Dekat di halaman sekolah, ada lubang besar tepat di sebelah tiang gawang sepak bola.
Ada layanan darurat yang datang dengan bus tua untuk memperbaiki beberapa pipa gas yang rusak akibat penembakan.
"Kami takut," kata salah satu guru sekolah.
Dia tidak ingin difilmkan karena takut akan pingsan saat wawancara. Vrubivka tahun 2014 dan 2015 terhindar dari penembakan.
Tapi sekarang, desa itu terus-menerus diserang. "Orang-orang selalu menelepon saya dan bertanya mengapa begitu banyak penembakan," kata Olena, yang sehari-hari bekerja mengelola pusat budaya di desa itu, sebelum situasi makin berbahaya.
"Tapi apa yang bisa saya katakan kepada mereka? Saya juga tidak tahu mengapa." (hp/as)
Berita Terkait
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Integrasi Usaha Properti dan Kuliner, Apakah Dukung Nilai Komersial dan Aktivasi Kawasan?
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
25 Link Twibbon Maulid Nabi 2026 Gratis, Bisa untuk Status WA dan Foto Profil
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu
-
Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Pemerintah Dorong Pemanfaatannya Lebih Cepat
-
Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini
-
Semarak Turnamen Bulu Tangkis di Mall Solo, 219 Peserta Ikut Bertanding
-
Komunikasi Politik Prabowo Dinilai Kerap Blunder, Akademisi: Bisa Rugikan Pemerintah