Suara.com - Warga Ukraina dari seluruh penghujung dunia kembali untuk berjuang menghadapi invasi Rusia membawa peralatan yang ada ketika berusaha melewati perbatasan di Polandia.
Berjalan di Bandara Doha dini hari, tubuh Andrii Zadorozhnyi terbungkus bendera Ukraina. Ia sangat ingin kembali ke negara asalnya.
Andrii yang bekerja di PBB Nepal paham bahwa ketika sudah memasuki Ukraina, tidak ada lagi jalan untuk kembali.
Namun misi utamanya dilandasi keinginan pribadi yang menurutnya sangat penting.
"Yang saya inginkan sekarang adalah untuk bisa berada di negara saya [Ukraina]," katanya.
"Diktator kejam dari Rusia ini sudah melakukan hal yang sangat buruk. Dia sudah mempersatukan negara kami, hal yang tidak pernah dilakukan oleh presiden-presiden negeri kami sebelumnya.
"Inilah alasan lainnya mengapa kami akan menang."
Dari berbagai belahan dunia, warga Ukraina mulai kembali untuk berjuang mempertahankan tanah dan juga masa depan mereka.
Andrii terbang dari Doha ke ibukota Polandia Warsawa, mengambil beberapa pasokan, dan kemudian menaiki bus malam menuju perbatasan. Kini ia berada di Ukraina Barat.
Baca Juga: Ukraina dan Rusia Gelar Dialog Perdamaian Pertama di Belarus
Dia mengatakan alasannya pertamanya pulang adalah untuk bertemu dengan keluarganya, kedua adalah mendukung teman-temannya, dan "bila perlu" mengangkat senjata untuk berjuang.
Ada banyak orang seperti Andrii.
Bagi banyak warga Ukraina yang dalam perjalanan pulang, terminal West Warsawa adalah pemberhentian terakhir sebelum menuju ke perbatasan Polandia-Ukraina.
Terminal ini dipenuhi warga Ukraina yang melarikan diri dari perang dengan naik bus. Bus yang sama kemudian mengantar para pria kembali ke perbatasan.
Hari itu, bus diisi dengan sekelompok pekerja asal Jerman, seorang pelaut yang meninggalkan kapalnya di Amerika Serikat, dan seorang tentara cadangan yang sedang berada di Arab Saudi.
Semuanya adalah warga Ukraina yang kembali demi mempertahankan negara mereka.
Berita Terkait
-
Event Lari Nasional Hadir di Malang, Gabungkan Gaya Hidup Sehat dan Liburan dalam Satu Momen
-
Dari Cemas Jadi Percaya Diri, Perjalanan Ibu di Era Gen Z Berubah
-
Emas Antam Stagnan, Harganya Masih Rp 2.805.000/Gram
-
Haier Buka Toko Pertama di Indonesia, Hadirkan Kulkas, Mesin Cuci, hingga AC Canggih
-
Tak Ada Prioritas, Danantara Pastikan Semua Merger BUMN Rampung Tahun Ini
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Apa Itu Visa Emas Trump? Izin Tinggal di AS Senilai Rp15 M yang Sepi Peminat
-
Purbaya Punya Wacana Pasang Tarif di Selat Malaka, Picu Perdebatan Netizen Malaysia
-
Sudahi 'Drama' Aspal Rusak! Dinas Bina Marga DKI Bakal Rombak Jalan Kebon Sirih Pakai Beton
-
Uang Rp40 M Buat Bayar Utang Dirampok, Hacker Bobol Sistem Kementerian Keuangan
-
Departemen Kehakiman AS Selidiki Dugaan Akal Bulus Trump Halangi Investigasi Skandal Epstein
-
Predator Seksual Sesama Jenis Berkeliaran Cari Mangsa Remaja Sengaja Tularkan HIV
-
Geram Setahun Masalah Tak Kelar! Rano Karno Pimpin Langsung Penertiban Parkir di Lebak Bulus
-
Alarm Bahaya! 4700 Warga Malaysia Kehilangan Pekerjaan dalam 16 Hari, Bagaimana di Indonesia?
-
Donald Trump Perintahkan Tembak dan Bunuh Jenis Kapal Ini di Selat Hormuz
-
Sebut JK Idola, Pakar Komunikasi: Gibran Sudah Belajar Banyak, Tak Lagi Terpancing Kritik Pedas