Suara.com - Perang antara Rusia dan Ukraina menimbulkan kekhawatiran atas warga sipil yang tinggal di Ukraina. Terutama kaum minoritas Muslim Tatar Krimea. Apa itu Tatar Krimea?
Bagi anda yang belum tahu apa itu Tatar Krimea, simak penjelasannya dalam artikel berikut ini.
Tatar Krimea adalah orang-orang Muslim Turki, yang telah diusir dari rumah mereka pada tahun 1944 dan 2014. Serangan Rusia ke Ukraina yang terjadi pada hari Kamis (24/2/2022), mencatatkan seorang anak laki-laki Muslim Tatar Krimea yang berusia 17 tahun menjadi korban pertama. Korban tinggal di desa Semihatka, dekat Genicesk, Kherson, Ukraina.
Apa itu Tatar Krimea?
Tatar Krimea adalah etnis minoritas Muslim yang berasal dari Semenanjung Krimea atau Crimea, di pantai utara Laut Hitam. Mereka telah diperlakukan tidak bersahabat, bahkan sampai pada pengusiran.
Semenjak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 silam dan semenanjung itu menjadi dua, Muslim Tatar Krimea kembali ke tanah air mereka. Namun saat ini, mereka harus kembali terjepit dengan aksi Rusia yang menyerang Ukraina.
Delapan tahun yang lalu, Federasi Rusia mencaplok Semenanjung Krimea setelah pasukan tidak bertanda berbaris ke wilayah Ukraina dan mengambil alih parlemen lokal. Dalam enam bulan pertama tahun ini, Tatar Krimea yang telah tinggal di semenanjung itu setidaknya sejak abad ke-15, menyumbang sebagian besar jumlah aksi penangkapan (sekitar 138 dari 200) yang dilakukan oleh otoritas Federasi Rusia.
Angka-angka yang dirilis oleh Pusat Sumber Daya Tatar Krimea (CTRC) hanya menceritakan sebagian kecil dari kisah ketidakadilan dan pelecehan yang telah dialami oleh masyarakat sejak pencaplokan semenanjung itu.
Baca Juga: Hari Keenam Invasi Rusia: Rumah Sakit Bersalin Jadi Sasaran Artileri, 70 Tentara Ukraina Tewas
Dari 73 penggeledahan rumah yang tercatat, 55 dilakukan di rumah-rumah minoritas Tatar, dan dari 69 penahanan, dan 57 adalah dari Tatar Krimea, menurut CTRC. Saat ini, Tatar Krimea tidak dapat menikmati keamanan dan juga kenyamanan, bahkan di tanah leluhur mereka. Namun, mereka tidak asing dengan penindasan dan juga pelecehan.
Pada tahun 1944 silam, diktator Soviet Joseph Stalin menuduh Tatar Muslim berkolaborasi dengan Nazi Jerman dan mengkhianati negara, lalu memerintahkan deportasi mereka dari semenanjung. Deportasi tersebut dilancarkan oleh Larenty Beria, kepala polisi rahasia dan keamanan Uni Soviet, yang bertindak atas nama Josef Stalin.
Hanya dalam waktu tiga hari, polisi rahasia NKVD menggunakan kereta-kereta ternak untuk mendeportasi orang-orang Tatar Krimea, termasuk wanita, anak-anak, lansia, dan bahkan komunis dan anggota Tentara Merah. Mereka dipindahkan secara paksa di sebuah wilayah ribuan kilometer jauhnya.
Sumber-sumber Soviet mendakwa mereka sebagai pengkhianat, tetapi kaum nasionalis Tatar membantahnya dan mengklaim bahwa program deportasi tersebut merupakan bagian dari rencana Soviet untuk mengakses Selat Dardanella dan memperoleh wilayah di Turki yang dihuni oleh kerabat etnis Tatar. Walaupun Nazi awalnya menganggap rendah orang-orang Tatar Krimea, namun kebijakan mereka berubah akibat perlawanan yang sengit dari Uni Soviet.
Seperti itulah penjelasan apa itu Tatar Krimea, etnis Muslim yang tinggal di Ukraina dan merasa terancam dengan terjadinya invasi Rusia.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu
-
Sinyal Keras KPK, Eks Menag Yaqut Secepatnya Ditahan di Kasus Korupsi Haji
-
Tanggapi Soal Pilkada Langsung dan Tidak Langsung, Menko Yusril: Keduanya Konstitusional