Suara.com - Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik NARASI INSTITUTE, menyatakan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia seharusnya memiliki elite pemimpin yang mendalami rasa dan budaya mayoritas penduduknya.
Melansir Wartaekonomi.co.id -- jaringan Suara.com, ANH, sapaannya, menjelaskan bahwa budaya Indonesia sudah menempatkan azan tidak hanya sebagai panggilan salat, tetapi juga sebagai pengingat waktu dan doa atas bencana alam dan pengingat "eling" saat kekacauan manusia melanda seperti pada kerusuhan 1998.
"Budaya ini seharusnya dijaga dan dilestarikan karena di negara yang bukan muslim mayoritas, azan adalah sesuatu yang dirindukan kaum muslim," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (2/3/2022).
ANH heran kenapa seolah-olah Menteri Agama telah memadankan panggilan azan dengan gonggongan anjing seperti para kaum islamphobia yang benci agama mayoritas penduduk NKRI.
"Apakah Menag RI Gus Yaqut mengidap Islamophobia akut?" ujar ANH.
ANH menyayangkan Menteri Agama yang seharusnya melindungi semua agama malah menyakiti perasaan umat Islam.
"Setau kami negara yang suka menyakiti perasaan umat Islam adalah Negara Israel. Apakah Menag RI ini sudah memiliki semangat negara Israel sehingga mengikuti jejak menyakiti perasaan umat Islam," ujarnya.
Dia pun menilai apa yang disampaikan Menag Yaqut terkait suara azan yang disebut dibandingan dengan gonggongan anjing telah menyakiti perasaan kaum muslimin.
Lebih dari itu, ANH menjelaskan bahwa kegiatan penggunaan speaker di masjid-masjid dan musala sudah menjadi kearifan lokal sehingga jika dipermasalahkan, hal itu menimbulkan kesan seperti ada diskriminasi sikap dibandingkan dengan sikap kepada kearifan lokal lainnya, seperti wayang, sesajen dan lain-lain yang mendapat pembelaan.
"Sebagai pejabat tentunya harus berhati-hati dalam membuat narasi yang sensitif karena jika salah bicara, imbasnya akan sangat besar," ujar ANH.
Dia pun mengusulkan agar Menteri Agama di-grounded alias di-reshuffle.
"Presiden Jokowi sejatinya membutuhkan para pembantu presiden yang mengerti bahwa bangsa Indonesia sedang susah akibat Covid, kelangkaan minyak goreng, kedelai, dan sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk program-program pemerintah lainnya. Bukan sebaliknya, pejabat mencari musuh terus dari mayoritas penduduk," ujar ANH.
ANH menyebut, kebijakan Yaqut dalam membatasi azan tidak hanya tidak tepat waktu, tetapi juga berakibat fatal karena telah menyebabkan kerengangan antara negara dan rakyat, sesuatu yang seharusnya dihindari oleh pembantu Presiden.
"Jika sekelas menteri agama tidak bisa melihat permasalahan ini dengan wisdom-nya, sudah sewajarnya menteri yang satu ini di-grounded dari kementeriannya," tutup ANH.
Berita Terkait
-
Ketua MUI Makassar Ikut Angkat Bicara, Menag Yaqut Diminta Perbaiki Cara Bertutur Kata
-
Viral! Sindir Menteri Agama, Rosiana Silalahi Ngaku Umat Katolik Senang Dengar Suara Azan
-
Respons PA 212 Terhadap Ucapan Menag Yaqut, Novel Bamukmin: Aksi Bela Islam Melawan Penista Agama
-
Wacana Penundaan Pemilu, Pakar UGM Soroti Upaya Perpanjang Kekuasaan Tanpa Legitimasi Rakyat
-
Soroti Kontroversi Ucapan Menag Yaqut dan Edy Mulyadi, Pakar Psikologi Forensik Minta Polisi Tak Tebang Pilih
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
-
50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
Terkini
-
Balas Kematian Warga Sipil, Iran Serang Fasilitas Militer AS di Dua Negara Teluk
-
KPK Dalami Dugaan Gratifikasi di MPR, Ma'ruf Cahyono Kembali Diperiksa
-
Disrupsi AI: Bagaimana Teknologi Bisa Tingkatkan Kemampuan Berbahasa
-
Jejak Karier Febrie Adriansyah, Dari Jaksa di Jambi Hingga Jadi Jampidsus yang Dijaga Ketat TNI
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Ungkap Risiko Timbunan Sampah, Begini Penjelasan Peneliti BRIN
-
DPR Warning Keras, Tak Boleh Ada Pihak Intervensi Kasus Korupsi Batu Bara
-
Menag Perketat Syarat Jadi Kyai dan Pesantren Usai Marak Kasus Pelecehan
-
Uang yang Disita KPK dari Bupati Kuansing Ternyata Bagian dari 'Kembalian' Menhut Raja Juli
-
TNI Jaga Rumah Jampidsus, Pengamat Nilai Batas Ranah Sipil dan Militer Mulai Kabur
-
Santri Korban Pembakaran di Ponpes Lombok Alami Trauma Berat, Sering Teriak dan Halusinasi