Suara.com - Pidato kenegaraan Presiden AS muncul di tengah invasi Rusia ke Ukraina. Presiden Joe Biden mengatakan "kebebasan akan selalu mengalahkan tirani" dan bahwa serangan Vladimir Putin "direncanakan dan tidak diprovokasi."
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah memberikan pidato kenegaraan pertamanya sejak menjabat menjadi presiden.
Biden memulai pidatonya dengan membahas invasi Rusia ke Ukraina. Ia mengatakan bahwa AS mendukung Ukraina dan ada "kebulatan tekad yang tak tergoyahkan bahwa kebebasan akan selalu menang atas tirani."
Lebih lanjut Biden mengatakan serangan Presiden Rusia Vladimir Putin "direncanakan dan tidak diprovokasi."
"Putin sekarang terisolasi dari dunia, lebih dari sebelumnya," kata Biden yang kemudian disambut tepuk tangan meriah.
Ia pun mencap Putin sebagai seorang diktator. "Seorang diktator Rusia, menyerang negara luar, menimbulkan kerugian di seluruh dunia," tegasnya.
Biden kemudian memberikan peringatan kepada oligarki Rusia, mereka yang kata Biden telah membangun kekayaan dari "rezim kekerasan."
Wilayah udara AS ditutup untuk Rusia
Dalam kesempatan ini, presiden ke-46 AS ini mengumumkan bahwa wilayah udara Amerika akan ditutup untuk semua pesawat Rusia.
Baca Juga: Invasi Rusia ke Ukraina Bisa Bikin Kasus Covid-19 di Kembali Melonjak, Kenapa?
"Kami akan bergabung dengan sekutu kami dalam menutup wilayah udara Amerika untuk semua penerbangan Rusia, semakin mengisolasi Rusia," kata Biden.
Biden menekankan bahwa pasukan AS "tidak akan terlibat dalam konflik dengan pasukan Rusia di Ukraina," tetapi mereka akan dikerahkan untuk membantu mengamankan sekutu NATO.
Turut hadir dalam acara pidato kenegaraan ini Duta Besar Ukraina, Oksana Markarova, sebagai tamu.
Markarova duduk di sebelah Ibu Negara AS Jill Biden. Pemerintahan Biden saat ini telah mengubah fokus mereka dalam berurusan langsung dengan pandemi COVID-19 menjadi menghadapi tantangan keamanan yang serius di Eropa.
Pidato Biden ini dilakukan di tengah-tengah Rusia melanjutkan serangannya ke Ukraina.
Rusia terus lancarkan serangan ke Ukraina Sebuah serangan udara Rusia pada Selasa (01/03) menghantam menara utama saluran televisi nasional di pusat kota Kiev.
Akibat serangan ini, dilaporkan lima orang tewas dan lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan peralatan di sana telah rusak dan "saluran tidak akan berfungsi untuk sementara waktu" setelah ledakan terdengar di distrik Babi Yar.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak Uni Eropa (UE) untuk membuktikan bahwa UE mendukung Ukraina melawan invasi Rusia.
Komentarnya muncul dalam tautan video ke Parlemen Eropa satu hari setelah dia mengajukan permintaan resmi untuk bergabung dengan blok tersebut.
Sementara lebih dari 70 tentara Ukraina tewas ketika pasukan Rusia menembaki sebuah pangkalan militer di kota Okhtyrka, demikian kata Gubernur Regional Dmytro Zhyvytskyy dalam pernyataannya di media sosial.
Okhtyrka terletak di antara Kiev dan Kharkiv, di wilayah timur laut Sumy.
Selain itu, pasukan Rusia juga dilaporkan menembaki alun-alun pusat kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv.
Pasukan Rusia menembaki gedung-gedung administrasi lokal. Mereka telah meluncurkan senapan serbu GRAD dan rudal jelajah.
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan dalam pembaruan intelijen bahwa upaya Rusia untuk menyerang Kiev mengalami "sedikit kemajuan" dan menyebut "kesulitan logistik" sebagai alasan kurangnya kemajuan yang dicapai.
Pemerintah Inggris mengatakan pada hari Selasa (01/03) bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dapat menghadapi tuntutan atas kejahatan perang.
Sebelumnya, pada hari Senin (28/02) gambar satelit menunjukkan konvoi militer besar Rusia berjarak 65 kilometer menuju Kiev. rap/ha (AP, Reuters, dpa, AFP)
Berita Terkait
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Ratu Tisha: Sepak Bola dan Pendidikan Dapat Berjalan Beriringan
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Kasus Marissa Anita, Saat Sebuah Foto Dibaca sebagai Simbol Kedekatan dengan Kekuasaan
-
Menemukan Tuhan di Sudut Kota: Pesona Di Kota Tuhan Stebby Julionatan
-
Stafsus Menhut Mangkir Diperiksa, KPK Jadwalkan Ulang Pemanggilan
-
10 Sifat dan Karakter Wanita Cancer, Kenali Sisi Lembut hingga Keras Kepalanya
-
25 Link Twibbon Maulid Nabi 2026 Gratis, Bisa untuk Status WA dan Foto Profil
-
BEM Persatuan se-DKI Ajak AMPB Jaga Ruang Demokrasi Jelang Aksi di DPR
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Program KPR Renovasi BRI, Ketentuan Suku Bunga Ringan dan Tenor Panjang
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel
-
Amnesty International Soroti Kemunduran Demokrasi: Banyak Partai, tapi Suaranya Satu