News / Nasional
Senin, 11 Mei 2026 | 20:53 WIB
Penasihat DWP Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf pada saat mengikuti kegiatan literasi digital dan edukasi anti bullying bertajuk “Stop Bullying, Start Growing” di Suasana Aula Auditorium Gedung LPSP Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jawa Timur, pada Jumat (8/5/2026). (Dok: Kemensos)

Suara.com - Suasana Aula Auditorium Gedung LPSP Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Jawa Timur, tampak semarak pada Jumat (8/5/2026). Penuh dengan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya yang mengikuti kegiatan literasi digital dan edukasi anti bullying bertajuk “Stop Bullying, Start Growing”.

Kegiatan yang digelar bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial RI itu berlangsung interaktif. Sejumlah siswa tampak antusias mengikuti permainan, diskusi, hingga sesi tanya jawab bersama sejumlah narasumber.

Penasihat DWP Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, mengingatkan bahwa bullying dapat meninggalkan dampak psikologis bagi korban, terutama pada usia remaja. Menurutnya, perundungan kini tidak hanya terjadi secara langsung di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui media sosial.

“Kadang sesuatu yang menurut kita bercanda, belum tentu lucu bagi orang lain. Di balik candaan itu bisa ada hati yang terluka, rasa takut, bahkan kehilangan rasa percaya diri,” ujarnya.

Lantaran itu, Fatma mengajak para siswa lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menjaga cara berinteraksi dengan orang lain. Ia menilai lingkungan sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk berkembang.

“Kita harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling mengasihi. Mulailah dari diri sendiri dengan menghargai perbedaan dan berani mengatakan tidak pada bullying,” katanya.

Dalam sesi diskusi, salah satu siswa SRMA 21 Surabaya, Miftahul Ananda (17), menanyakan soal bullying verbal yang kerap dialami remaja.

“Ketika kita dikatain secara fisik kita, apakah itu termasuk bullying secara verbal? Dan apa dampak buruknya bagi korban bullying secara verbal?” tanyanya.

Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber Bawinda Sri Lestari menjelaskan bahwa ejekan terhadap fisik termasuk bentuk bullying verbal yang dapat memengaruhi kondisi mental dan rasa percaya diri seseorang. Karena itu, ia mengajak para siswa lebih berhati-hati dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun di media sosial.

Baca Juga: DWP Kemensos Gaungkan Kampanye Anti Bullying Remaja Berkarakter dan Berempati di SRMA 13 Bekasi

Plt Kepala SRMA 21 Surabaya, Ummi Nazhiroh, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan karakter siswa di tengah perkembangan teknologi digital.

“Prestasi tidak hanya diukur dari keberhasilan akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun karakter dan rasa saling menghormati,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah UNESA, Mufarrihul Hazim, menyampaikan apresiasi terhadap program Sekolah Rakyat. Ia mengaku melihat perubahan positif para siswa sejak pertama kali hadir di lingkungan UNESA.

“Dulu wajah mereka masih penuh pesimisme, tetapi hari ini wajahnya sudah penuh optimisme untuk menjadi orang-orang hebat dan sukses,” katanya.

Selain edukasi anti bullying, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran bantuan Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta untuk kluster disabilitas di Kota Surabaya dengan total bantuan senilai Rp24.055.315.

Bantuan diberikan kepada Tarmudji berupa kaki palsu senilai Rp9.804.300, Afifah Novaria berupa sepatu AFO senilai Rp604.300, Dwi Andi Santoso dan Satimah berupa kursi roda masing-masing senilai Rp2.629.750, serta bantuan usaha untuk Dodik Jatmiko berupa usaha jualan mainan senilai Rp1.975.000, Tony Sanjaya untuk usaha gorengan senilai Rp1.666.065, Tutik Iriani untuk usaha kue basah senilai Rp1.246.150, dan Sutarjo untuk usaha bengkel sepeda motor senilai Rp3.500.000.

Load More