Satu tokoh utama dalam kasusnya adalah Letnan Jenderal Manas Kongpan. Menurut laporan BBC pada 2017, ia menjadi perwira paling tinggi yang diadili bersama sekitar 100 lebih terdakwa lainnya, termasuk beberapa aparat polisi di Ibu Kota Bangkok.
Dakwaan yang dihadapi para terdakwa itu cukup pelik. Mulai dari penculikan, pembunuhan hingga pemerkosaan.
Belakangan diketahui, Letnan Jenderal Manas Kongpan meninggal dunia di penjara pada 2 Juni 2021. Meski disebut karena serangan jantung, meninggalnya sang jenderal terdakwa kasus perdagangan manusia ini memantik kecurigaan.
Kabur Dan Minta Suaka Ke Australia
Meski berhasil membongkar kasus mafia perdagangan manusia di negaranya, tantangan yang dihadapi Jenderal Paween justru makin besar. Diduga banyak petinggi, pejabat di negerinya yang tak suka akan sepak terjangnya.
Merasa tak ada yang melindungi, Paween memilih 'kabur' ke Australia melarikan diri dari negerinya sendiri. Menurut laporan AFP 2015 lalu, Paween mengaku khawatir atas keselamatan nyawanya karena ada pejabat-pejabat senior terlibat dalam kasus perdagangan manusia yang ia usut.
“Saya meminta suaka karena tinggal di Thailand untuk saat ini sangat berbahaya. Saya mengkhawatirkan keselamatan diri karena kasus perdagangan manusia ini. Selama saya bekerja, saya mendapat ancaman dan semakin hari semakin buruk,” ujar Paween kepada AFP, Kamis (10/12/2015), setelah tiba di Melbourne, pada awal pekan ini dengan menggunaan visa wisatawan.
Dia menambahkan bahwa dirinya lebih memilih untuk mengundurkan diri dari kepolisian ketimbang menerima jabatan baru karena diduga telah menerima ancaman kematian atas nyawanya.
“Tak ada yang bisa melindungi saya sekarang. Tak ada simpati ataupun belas kasihan dari para bos saya kepada saya,” tambah Paween.
Baca Juga: Soal Pemindahan Pengungsi Rohingya dari Bireuen, UNHCR Tunggu Keputusan Akhir
Kasus Paween Mencuat Lagi Di 2022
Setelah enam tahun berlalu, tepatnya pada Februari 2022, kasus Paween dan perdagangan manusia kembali mencuat di Thailand. Publik Negeri Gajah Putih itu kembali ramai akan kasus yang sempat bikin geger 2015 lalu.
Adalah Rangsiman Rome, salah satu anggota parlemen di Thailand yang mengangkat kasus Paween Pongsirin dalam sebuah debat di parlemen.
Menyadur laman Bangkok Post, Rangsiman Rome menyoroti kasus perdagangan manusia yang dulu diusut oleh Jenderal Paween hingga ia memilih kabur ke Australia.
Dalam debat tersebut, Rangsiman mengklaim bahwa Paween berada di bawah tekanan dari pejabat polisi dan militer Thailand, karena penyelidikannya membawanya ke Letnan Jenderal Manas Kongpan, seorang penasihat militer berpangkat tinggi untuk pemerintah.
Letnan Jenderal Manas dijatuhi hukuman penjara 27 tahun, kemudian ditingkatkan menjadi 82 tahun, karena perannya dalam perdagangan migran Rohingya. Dia dinyatakan meninggal karena serangan jantung di Rumah Sakit Pemasyarakatan Medis pada Juni tahun lalu saat menjalani hukuman penjara.
Dalam debat itu, Rangsiman dengan menggebu-gebu mempertanyakan langsung kepada Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha.
Meski tak spesifik memberikan tanggapan soal kasus Paween, Prayut yang seorang jenderal bersikeras bahwa pemerintah Thailand tetap berkomitmen pada janjinya untuk mengatasi perdagangan manusia, penangkapan ikan ilegal dan korupsi.
Jadi Tukang Pasang Jok
Dalam sebuah tayangan channel YouTube yang membahas kasus perdagangan manusia di Thailand. Jenderal Paween disebut kini tinggal di Australia.
Sosok Paween yang disebut sebagai jenderal berhati baja beberapa kali diwawancari media internasional maupun lokal di Australia.
Ia juga disebut tak lagi berprofesi sebagai polisi. Di negeri Kanguru, Paween yang sebelumnya seorang jenderal polisi, kini bekerja sebagai tukang pasang jok mobil.
Tag
Berita Terkait
-
Pengungsi Rohingya di Aceh Tinggal 155 Orang
-
Soal Pemindahan Pengungsi Rohingya dari Bireuen, UNHCR Tunggu Keputusan Akhir
-
Ratusan Pengungsi Rohingya di Aceh Bakal Dipindah ke Pekanbaru
-
Resmi, Pemerintah Amerika Nyatakan Myanmar Lakukan Genosida Terhadap Minoritas Rohingya
-
Terdampar di Pesisir, Seratusan Imigran Rohingya Masih Menghuni Tenda Darurat di Aceh
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Momen Hangat di Istana, Presiden Belarus Hadiahi Prabowo Pena Emas
-
Skandal Korupsi MBG: Kejagung Ungkap Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Proyek Motor BGN
-
Pendapatan Ojol Turun Usai Skema 8 Persen, DPR Minta Tarif Diatur
-
Flyover Latumenten Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026, Bakal Urai Kemacetan Grogol Hingga Slipi
-
Main Proyek Ompreng MBG, Brigjen Lalu Muhammad Iwan Mahardan Ditahan Kejagung Terkait Korupsi BGN!
-
Indonesia-Belarus Luncurkan Roadmap Kerja Sama Bilateral, Fokus Pangan dan Energi
-
Lagu Bupati Purwakarta Om Zein Diduga Rendahkan Perempuan, Gerindra Ingatkan Kader Jaga Etika
-
Untar Hormati Proses Hukum Gugatan Mahasiswa, Klaim Sudah Upayakan Penyelesaian Kekeluargaan
-
Akhiri Banjir Seatap, Kemanggisan Kini Ditata: Jalan Inspeksi Harus Bebas Bangunan Liar!
-
Kader Gerindra Jadi Tersangka Suap Jabatan, Partai Serahkan Kasus ke KPK